payudara langit amaravatiSaya tak heran jika setelah membaca judul tulisan ini, kemudian menerawang ke dada seseorang. Tulisan ini memang akan mengulas tentang Payudara. Bukan dada siapa tetapi sebuah buku karya El atau Langit Amaravati, nama pena yang dia pilih. Seorang penulis muda dari Bandung.

Setelah bulan kemarin RKI (Rumah Kata Indonesia) yang berakun Twitter @RumahKataID mengundang Mochtar Pabottingi untuk membincang bukunya, Burung-burung Cakrawala, di awal 2014 ini giliran El dengan Payudara-nya dihadirkan. Peserta bincang buku dan El selaku penulis Payudara membedah dan membahas buku kumpulan cerpen yang berisi 27 judul. Khrisna Pabichara kali ini bertindak sebagai pembincang utama. Acara bincang buku ini dimoderatori oleh Mataharitimoer.

Membincang buku selalu menarik. Ada banyak sisi yang bisa diulas. Judul, misalnya. Khrisna menganggap El jago dalam menjuduli cerpen yang dibuat. Hampir semua cerpen yang terkumpul dalam Payudara memiliki judul menarik. Sayangnya, dari 27 cerpen yang ditawarkan hanya cerpen berjudul Doa yang dianggap paling menarik dari segi penceritaan dan berhasil melepaskan penulisnya dari tokoh-tokoh yang diusung. Sisanya, 26 cerpen, Khrisna masih melihat keberadaan penulis ada dalam emosi dari tokoh dalam cerita. El belum berjarak dengan tulisannya. Ke-26 cerpen itu seolah-oleh menjadi cermin yang merefleksikan emosi penulisnya.

Saya sendiri lebih berfokus pada judul buku. Saat sebuah judul buku berbau-bau ‘lendir’, dia memiliki daya tarik tersendiri. Selalu membuat penasaran orang untuk membaca ketika menemukan buku dengan judul seperti itu. Meskipun belum tentu isinya bagus, setidaknya dari segi pemasaran, judul semacam itu biasanya berhasil. Dari sisi ini, Payudara tak diragukan lagi berhasil menggelitik penikmat buku untuk mencicipi. Berangkat dari judul itulah saya mengupas buku antologi cerpen ini.

Ketika sebuah judul buku antologi diambil dari salah satu judul tulisan yang ada di dalamnya, tulisan yang dipilih itu pasti istimewa. Itu dugaan saya ketika pertama kali membaca cerpen Payudara. Rupanya saya keliru. Cerpen Payudara tak senikmat yang saya harapkan meskipun cara bercerita El tentang kakak beradik Florita dan Ervina menarik. Saya gagal menangkap pesan yang ingin disampaikan penulis perihal dunia transgender. Yang saya tangkap justru ketidakmasukakalan bahwa Florita tidak mengetahui jika adiknya, Ervina, adalah seorang laki-laki padahal mereka tinggal serumah. Dari dialog yang terjadi, pembaca disuguhi fakta gamblang bahwa Florita menganggap Ervina sama-sama perempuan seperti dirinya. Penulis tidak memberi tanda-tanda dalam bentuk narasi atau dialog yang mengarahkan pembaca pada kesimpulan bahwa cerpen Payudara berkisah tentang transgender. Dalam kasus ini, barangkali perlu jadi catatan bahwa tidak semua pembaca memiliki dunia yang sama dengan penulis. Dengan demikian, ketika penulis ingin menyampaikan bagian dari dunianya maka penanda yang jelas perlu diberikan agar pesannya sampai ke pembaca sebagaimana yang dia inginkan.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah pilihan huruf dan ukuran yang digunakan. Dalam kumcer Payudara ini, jenis huruf yang digunakan untuk judul setiap cerpen dan nomor halaman serta ukuran yang dipakai untuk huruf di catatan kaki terlalu kecil. Ini membuat tidak nyaman. Untuk cetakan berikutnya, alangkah baiknya dipertimbangkan untuk mengubah jenis dan ukuran huruf dan angka yang digunakan. Itu saja.

Sumber gambar: koleksi pribadi

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here