panduan reuniPanduan reuni mungkin perlu dibuat agar acara bisa berjalan baik dan berdampak positif bagi semua pesertanya. Itu jika memang dianggap perlu. Kalau pun tidak, ya tidak apa-apa. Cukup diobrolkan sekilas, tanpa perlu disusun panitia, sebuah reuni tetap bisa diadakan. Namanya juga panduan, panduan reuni bisa diibaratkan semacam rambu-rambu yang perlu diikuti sehingga tidak kesasar dan bisa sampai tujuan dengan selamat.

Banyak cerita perihal reuni yang tersebar di media sosial, baik yang serius maupun sekadar cerita lucu. Beberapa cerita malah bersifat seksis, bisa menyinggung perasaan jika disikapi terlalu serius. Saya tidak tahu siapa yang membuat tulisan-tulisan itu karena tak  bernama dan entah sudah melewati berapa tangan sebelum sampai di gawai saya. Bila tulisan itu saya tulis lagi di sini tanpa menyebut sumbernya, Anda tentunya tahu penyebabnya.

——————————-

CERITA #1

Lelaki tua itu, usianya barangkali sudah 75 tahunan. Masih terlihat gagah. Tangannya tak pernah lepas memegang dan sesekali mengusap jemari wanita, yang bersandar di lengannya. Sang nenek, mungkin usianya juga sudah memasuki 73 tahunan. Tapi, berani bertaruh, semasa muda dulu sang nenek sangat cantik.

Penumpang kereta api eksekutif , Jakarta-Surabaya, yang duduk satu gerbong dengan pasangan ‘senja’ itu, banyak yang dibuat iri oleh kemesraan mereka. Beberapa penumpang berbisik-bisik ketika tiba-tiba sang nenek mencubit pelan dan manja perut sang kakek. Ekspresi nenek menunjukkan gemas dan sayang. Sedangkan kakek hanya senyum-senyum saja.

Seorang wanita paruh baya yang duduk di samping mereka, terlihat menyikut suaminya. “Malu nggak tuh kamu sama kakek nenek itu. Kawin aja baru delapan tahun, tapi mana pernah kamu mesra ke aku,” bisik sang wanita.

Mendadak lelaki yang disikut istrinya memecah keheningan. “Mohon maaf Kakek Nenek. Apa resepnya agar tetap rukun sampai tua begitu? Saya salut banget,” katanya.

Sang nenek hanya tersenyum simpul menerima pertanyaan itu. Sang kakek mencoba menjawab, “Kami selalu saling memperhatikan. Kalau sedang tidak bersama-sama, hampir setiap jam kami saling telpon, tanya keadaan masing-masing. Kami saling kenal, sejak saya usia 18 tahun.”

Semua penumpang yg mendengar pada melongo. Mereka takjub, ternyata pasangan tua itu sudah lama sekali berhubungan. Dan selama itu pula tetap mampu menjaga kemesraan.

Memasuki stasiun Surabaya Gubeng, kereta melambat. Kakek dan nenek berdiri.

Nenek terlihat mesra mencium pipi kakek. Lalu dibisikinya si kakek, “Sayangku … nanti kamu turun lewat pintu gerbong yang belakang ya. Aku lewat depan. Tadi bapaknya anak-anak SMS, katanya mau jemput di stasiun. Dua hari ditinggal reuni, katanya sudah kangen banget.”

Kakek membalas mencium nenek sambil berkata, “Iya honey… buruan, nanti suamimu tahu kalau kita pergi berdua… bisa berabe.”

CERITA #2

Darjo mau reunian sama teman SD angkatan 64. Ngajak bareng empat teman ceweknya via telepon.

Darjo: “Nanti bareng ya, kalian semua berempat tunggu aku jemput di halte depan Toko Roti Matahari.”

Pas hari H, Darjo benar-benar jemput keempat teman ceweknya itu. Sekali muter gak ada, dua kali muter gak ada. Mana ini mereka? Tiga kali muter, tetap gak ketemu. Darjo mulai kesal. Ia lalu menelpon salah satu teman ceweknya itu.

Darjo: “Hei, kalian di mana? Aku udah muter tiga kali tapi gak lihat kalian.”

Jawab teman ceweknya: “Aku sudah di halte depan Toko Roti Matahari dari tadi. Kamu di mana?”

Darjo : “Lho…..aku udah ke situ. Yang ada cuma empat nenek-nenek yang rambut putihnya acakadut.”

“Ya, itu kami, Darjo,” jawab si cewek. “Emangnya kamu kira kita masih SMA?”

——————————-

Dua cerita di atas barangkali sudah pernah Anda baca. Dan tentunya Anda tahu kalau cerita humor tersebut hanyalah fiktif. Meskipun hanya kisah fiktif, mungkin saja hal itu terjadi betulan. Sebuah reuni memang bisa melahirkan beragam kisah dan yang pasti membangkitkan kenangan indah. Selain itu, tak tertutup kemungkinan reuni justru menciptakan trauma dan membuat kapok pesertanya untuk datang lagi di reuni selanjutnya. Agar tidak terjadi hal itu, ada baiknya juga memperhatikan beberapa hal seperti tersebut di bawah ini. Kalau mau disebut Panduan Reuni, bolehlah.

  1. Bentuk panitia (sebagai motor penggerak)
  2. Jangan terlalu besar, kalau perlu satu angkatan, bahkan satu kelas
  3. Lokasi mudah dijangkau
  4. Acara menyesuaikan usia
  5. Lepas semua atribut (jabatan, gelar, dan lain-lain)
  6. Jaga sikap, tak semua sama seperti dulu
  7. Jangan terlalu sering
  8. Mendata kembali untuk dijadikan buku alumni atau sejenisnya

Setuju?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here