Saat ini saya benar-benar sibuk. Super sibuk. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Termasuk proyek terjemahan yang sedang saya rampungkan karena minggu depan merupakan deadlinenya. Saking menumpuknya pekerjaan seolah-olah kaki dan tangan ini terikat. Tidak bisa ngapa-ngapain. Tidak bisa kemana-mana. Sampai-sampai nonton televisipun jadi terlantar meskipun justru saya senang bisa terbebas dari belenggu tv. Bahkan bacapun lebih banyak saya lakukan saat berada di atas angkot. Apalagi menulis. Buku harian yang sengaja saya sediakan bisa lebih dari seminggu tidak kepegang.

Namun kejadian di angkot hari ini (19/8) benar-benar menggelitik saya untuk berbagi cerita dengan anda. Kejadian yang mungkin memalukan buat orang lain, tapi dianggap biasa dan barangkali sudah seharusnya dilakukan oleh yang bersangkutan. Menemui kejadian tersebut mengingatkan saya pada teman sekantor dan seruangan dengan saya dulu saat masih bekerja di Jakarta. Kebetulan juga, datang dari suku yang sama. Saya sama sekali tidak ada niatan untuk mendiskreditkan orang-orang dari suku tertentu. Swear! Apalagi teman sekantor saya sekarang ini ada yang berasal dari suku yang sama. Orangnya sangat baik, ramah, dan saya menghormati beliau.

Saya hanya menganggap orang yang saya temui di angkot sebagai individu. Apa yang dia lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan sukunya. Sebab suku apapun bisa saja seperti dia. Hanya kebetulan saja sifat yang ditunjukkan persis sama dengan teman sekantor saya dulu di Jakarta. Dan kok ya kebetulan sukunya sama.

Di Indonesia ini memang ada penggeneralisiran untuk suku-suku tertentu. Ada yang positif, juga negatif. Contohnya, orang Batak juga Ambon itu pinter nyanyi. Malahan temen dari Medan pernah bilang sama saya, “Adi, di Batak, orang nyanyi itu kaya orang makan. Semua bisa.” Temen saya yang ngomong ini jago main gitar dan nyanyi. Dan memang suara orang Batak bagus-bagus. Buktinya banyak. Joy yang juara Indonesian Idol juga keturunan Batak. Daniel Sahuleka yang sudah jadi orang Belanda, adalah Ambon. Glen Fredly, Franky Sahilatua, Melly Guslow….. orang mana mereka?

Katanya orang Padang itu kikir. Apakah memang benar demikian? Bahwa semua orang Padang pelit? Kebetulan saja saya menemukan dua orang Padang yang pelit. Pertama teman sekantor waktu di Jakarta dulu, sampai-sampai saya naik mobilnya saja harus bayar. Yang kedua, orang Padang yang hari ini seangkot sama saya. Dia sempat ribut sama supir angkot karena merasa tidak turun di terminal maka minta kembalian dua ribu dari lima ribu yang dibayarkan untuk dua orang. Meskipun temannya yang satu (perempuan Sunda) tidak turun bareng dia tapi masih jauhan. Untungnya si sopir ngalah setelah dengan susah payah menjelaskan bahwa ongkos dari Sukasari sampai depan BTM tetap dua ribu meskipun tidak sampai terminal Bubulak. Kalau sampai terminal malah dua ribu lima ratus. Bukan dua ribu. Yang kasihan teman perempuannya. Karena malu, dia akan membayar seribu lagi untuk kekurangannya. Tentu saja tanpa sepengetahuan teman Padangnya tadi. Kami yang di angkot hanya bisa memaklumi.

Cukupkah dua sampel itu mendukung asumsi tentang orang Padang. Of course NOT! Tentu saja itu hanya kasus per kasus. Yang saya tahu, memang orang Padang pandai dalam mengelola duit. Mereka merupakan suku entrepreneur alami. Karena kepandaiannya inilah kata Padang diplesetkan menjadi pandai dagang.

Ada anekdot yang mengacu pada semangat orang-orang Padang untuk berdagang. Mengapa orang Padang tidak pernah juara dalam lomba lari, karena mereka selalu akan berhenti di setiap tikungan, pertigaan maupun perempatan untuk mendirikan warung makan Padang. Kata bu Linda, teman sekantor yang juga orang Padang, bahwa orang Padang itu baik hati. Mereka memberi makan siapapun dimana-mana.

Penggeneralisiran bisa terjadi di setiap bagian di muka bumi ini. Anda tahu generalisir yang diberikan kepada Belanda dan Amerika oleh penduduk dunia? Orang (turis) Belanda terkenal pelit sedangkan yang dari Amerika orangnya royal. Kebetulan sekali saya sendiri pernah mengalami kejadian tersebut yang seolah-olah memang stereotip terhadap Belanda-Amerika benar. Saya sempat beradu mulut dengan turis Belanda karena komplain biaya yang harus dia bayar terlalu mahal meskipun sebelumnya dia sudah baca di website saya dan dia tahu harus membayar sebesar itu. Juga, saya pernah dibayar 800 ribu rupiah oleh orang Amerika hanya karena saya mau jadi guide dia, teman perempuannya, dan seorang sopir yang dia bawa untuk keliling Bogor selama tiga jam. Naik mobil sedan mewah berAC, disopiri, dibayar ratusan ribu untuk beberapa jam. Dengan demikian, apakah berarti orang Belanda pelit orang Amerika tipikal royal? Belum tentu juga.

Memang kadang-kadang kita dengan terpaksa harus menerima stereotip yang menyakitkan itu. Ketika saya masih kuliah di Semarang, seluruh teman saya menganggap bahwa daerah asal saya, Demak, selalu kekeringan ketika kemarau dan kebanjiran saat musim hujan tiba. Sampai-sampai ada ungkapan “mek rendeng ra iso ndhodhok, mek ketigo ra iso cewok” (kalau penghujan nggak bisa jongkok karena banjir, bila kemarau tidak bisa cebok karena nggak ada air). Stereotip itu muncul akibat ada sungai dipinggir jalan raya yang mau masuk ke Demak, baik dari arah Barat (Jakarta) maupun Timur (Surabaya). Sehingga orang-orang yang lewat ketika musim penghujan akan melihat sungai yang penuh air serta kadang melimpah sampai ke jalan raya. Kemudian airnya menyusut tinggal kubangan kecil berwarna kehijauan bila kemarau tiba. Padahal, kami yang tinggal di tengah kota tidak ada masalah dengan air. Kemarau maupun penghujan.

Kembali pada kejadian di angkot tadi. Rasanya kok jadi ikut malu dengan tingkah orang lain. Apa karena saya phlegmatis yang melankolis?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here