“Menjaga perasaan, perlukah?” Itu kalimat yang pernah saya tulis di buku kecil saya yang saya gunakan untuk menaruh ide yang terlintas. Dulu, lama sekali. Ke mana-mana buku ide itu saya bawa agar ide-ide yang suka tiba-tiba muncul bisa saya ikat dulu sehingga tidak lewat begitu saja. Baru bila sudah ada waktu untuk menulis, ide-ide yang saya kumpulkan itu tinggal dipilih mana yang akan dikembangkan. Saat ini, saya rasa sudah tiba waktunya mengembangkan ide di atas menjadi sebuah tulisan. Mudah-mudahan menarik bagi anda. Mengapa baru sekarang? Saya akan jawab nanti.

Mengapa ide yang terkait dengan perasaan itu saya tulis, saya masih ingat penyebabnya. Saya menuliskan ide itu karena saat itu ketemu dengan orang yang sensitif, terlalu sensitif malah menurut saya. Saking sensitifnya sehingga sampai muncul pertanyaan dalam hati, “Perlukah menjaga perasaan manusia macam itu, yang begitu sensitif?”

Sudah galibnya manusia diciptakan beraneka macam rupa, bentuk, serta kepribadian selain jenis kelamin agar kehidupan ini tidak monoton. Bisa anda bayangkan akankah nyaman dan menyenangkan bila bumi ini misalnya isinya hanya manusia berkulit hitam, keriting, tinggi, dan pemarah semua?  Anda pasti akan bosan dan ingin segera pergi meninggalkan dunia ini (mati dong?). alangkah hambarnya hidup ini bila  ke manapun kita pergi akan selalu ketemu orang yang sama persis dengan kita. Sampai-sampai kita jadi bingung mengenali diri sendiri apakah kita ini manusia atau maneken (mannequin).

Sudah jelas hidup ini akan berwarna bila manusianya juga bervariasi. Bukan hanya perbedaan jenis kelamin tetapi juga warna kulit, jenis dan warna rambut, mata, hidung, postur tubuh, sampai kepribadian. Dan itulah sebenarnya yang menjadikan hidup ini menyenangkan. Kita bertemu dengan manusia yang berbeda. Karena berbeda, kemudian timbul rasa tertarik. Ujung-ujungnya, jatuh cinta. Hasilnya, perkawinan, atau yang halalan toyibban, pernikahan. Tidak sedikit kan manusia di dunia ini yang menikah dengan suku atau bangsa yang berbeda?

Berbicara tentang kepribadian yang berbeda, ini juga merupakan hal yang menarik. Manusia dengan kepribadian yang berlainan akan menjadi daya tarik bagi yang lain. Orang yang pendiam penuh misteri, misalnya, akan sangat memikat bagi orang yang rame, bawel, nggak bisa diam. Jenis kepribadian ini sebenarnya bukan barang baru. Ratusan tahun lalu seorang Hippocrates (Yunani, 400 SM) pernah mengelompokkan kepribadian menjadi empat yang disebut dengan sanguine, choleric, melancholy, phlegmatic, kemudian oleh Carl Gustav Jung dari Swiss diistilahkan dengan extrovert feeling, extrovert thinking, introvert thinking, introvert feeling. Masing-masing memiliki ciri yang spesifik dan bisa diidentifikasi. Florence Littauer kemudian menuliskan kepribadian-kepribadian itu dengan ciri-cirinya dalam bukunya Personality Plus (1996). Dia menuliskan ciri sanguinis yang populer sebagai pribadi yang extrovert, pembicara, dan optimis. Koleris yang kuat adalah pribadi yang extrovert, pelaku, dan optimis. Melankolis yang sempurna merupakan pribadi yang introvert, pemikir, dan pesimis. Phlegmatis yang damai adalah introvert, pengamat, dan pesimis. Dari ciri-ciri yang digambarkan secara global itu, kira-kira anda termasuk yang mana?

Dari keempat kepribadian itu, ada satu yang memiliki sensitifitas tinggi. Paling tinggi dibandingkan tiga lainnya. Begitu sensitifnya sehingga sampai-sampai seperti barang pecah belah yang terbuat dari kaca yang sangat tipis. Sangat mudah sekali retak kemudian pecah berkeping-keping. Baik kah tingkat kepekaan yang seperti itu? Saya rasa tidak. Dan mungkin anda juga setuju dengan saya. Yang namanya terlalu, apapun, biasanya tidak baik.

Terus bagaimana kita harus bersikap terhadap orang-orang sensitif seperti itu? Tentu saja kita perlu menjaga dan berhati-hati saat berucap atau bersikap. Namun ada baiknya juga orang-orang seperti ini diajari untuk tidak terlalu sensitif. Bagaimanapun juga hidup di dunia ini pasti akan menghadapi berbagai macam jenis manusia. Tidak semua orang akan mengerti dan peduli dengan perasaan seseorang. Oleh karena itu mengelola tingkat kepekaan perlu dilakukan. Dan saya lebih suka tidak begitu peduli dan bermaksud memberi pelajaran saat bertemu dengan orang-orang yang terlalu sensitif. Terlihat kejam dan tidak berperasaan di mata mereka tentunya. Tetapi biarlah, saya akan tetap seperti itu. Agar mata mereka terbuka dan sadar bahwa terlalu sensitif itu tidak baik, bahwa tidak setiap orang yang ditemui akan peduli dengan perasaannya. Silakan anda mengutuk saya bila anda termasuk orang yang memiliki perasaan yang terbuat dari kaca dan tidak setuju dengan sikap saya yang di mata anda terlihat begitu sadis.

Memang, sensitifitas itu penting. Rasa itu bisa menjadi alarm kewaspadaan kita, dapat mengelola perasaan. Dan itulah fungsi dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Namun bila tingkatnya sudah overdosis, tidak ada lagi kebaikan di dalamnya. Ibaratkan saja dengan obat. Akankah sakit anda sembuh setelah minum obat melebihi takaran?

Perihal jawaban dari pertanyaan yang saya sampaikan di akhir dari paragraf pertama tulisan ini, mengapa saya baru menuliskannya sekarang adalah karena saya ketemu kembali dengan orang yang menurut saya terlalu membiarkan perasaannya menguasai akal sehatnya.

Sumber gambar:  di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here