Sebuah jabatan tidak menjamin pemegangnya melaksanakan tugasnya sebagaimana diatur dalam uraian pekerjaan untuk jabatan tersebut. Ini bisa terjadi ketika sebuah struktur organisasi dibuat bukan didasarkan kebutuhan organisasi tetapi lebih dikarenakan keinginan pemegang kekuasaan. Akibatnya, struktur itu tidak dipatuhi dan tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Inilah yang saya sebut dengan olok-olok manajemen.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pangkal permasalahannya tentu saja bukan struktur organisasi itu sendiri karena pada dasarnya dia hanya sebuah alat. Apa yang bisa dijalankan oleh sebuah alat tergantung manusia pelaksananya. Ketika sebuah struktur diciptakan dan dijalankan oleh orang-orang bodoh dan bebal, kekonyolanlah yang terjadi. Bila ini tidak dihentikan maka organisasi yang ada akan menjadi cendawan yang hidup segan mati tak mau. Jika organisasi ini masih bisa bertahan, yang terjadi adalah kemandekan. Yang memalukan dan sangat mungkin, ini menjadi bahan tertawaan pihak lain.

Memang, ada kalanya organisasi dijalankan oleh orang yang tidak tepat. Kemampuan pengambil keputusan yang terbatas otomatis akan menghambat gerak-langkah organisasi itu sendiri. Ibarat mobil Formula 1 yang memiliki kecepatan dan kemampuan di lintasan sirkuit, dia tak akan menjadi lincah ketika dikemudikan oleh sopir abal-abal dengan kemampuan dan keterampilan apa adanya. Kita tak mungkin menyalahkan mobilnya, sebagaimana struktur organisasi, karena ketidakmampuan yang terjadi. Sopirnyalah yang paling bertanggung jawab. Lintasan sirkuit dan mobil hanyalah sebagai pihak yang “for granted”. Mau benar atau salah, ya seperti itulah adanya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana orang yang tidak kompeten itu bisa masuk ke dalam jajaran pengambil keputusan organisasi. Yang namanya kesempatan sekaligus keberuntungan bisa menghampiri siapa saja. Salah satu kemungkinan yang dapat terjadi adalah dia berada dalam waktu dan tempat yang tepat. Jika ada ungkapan ‘the right man in the right place’, orang ini barangkali bisa disebut “the wrong man in the right place at the right time”. Ketika sebuah organisasi dibentuk dan dia kebetulan ada dalam lingkungan tersebut, tidak aneh bila kemudian dia dilibatkan. Jika demikian, keberadaannya dalam organisasi bisa dimaklumi.

Bertemu ‘the wrong man’ ini seperti berjumpa Petruk yang menjadi raja dalam kisah pewayangan “Petruk Menjadi Raja”. Karena mempunyai pusaka Jamus Kalimasada yang sebenarnya milik Prabu Puntadewa, Petruk menjadi kuat dan berpengaruh sehingga kemudian menjadi raja di Kerajaan Lojitengara. Jika dalam kisah pewayangan itu Petruk kemudian menggelari dirinya sendiri dengan Prabu Welgeduwelbeh, maka dalam struktur organisasi Si Petruk bisa menjelma menjadi siapa saja, bahkan posisi yang tertinggi sekalipun. Bisa Anda bayangkan bagaimana dengan nasib organisasi yang dipimpinnya dan apa yang akan terjadi kemudian. Bila mengadakan rapat, misalnya, agendanya pasti tak akan jauh dari lima hal berikut ini.

  1. Angin surga
  2. Pepesan kosong
  3. Basa-basi
  4. Ngelantur
  5. Gajebo (gak jelas boo..)

Hal tersebut tentunya bisa dimaklumi. Petruk yang punakawan, pengiring dan penghibur raja, tiba-tiba duduk di singgasana raja. Yang dia laksanakan dalam memimpin pastilah sesuka-suka dia.

Kisah Petruk jadi raja memang satire dalam sebuah kepemimpinan di dunia wayang namun sangat mungkin terjadi di dunia manusia. Bila satire tersebut kita temukan dalam sebuah organisasi, itulah salah satu bentuk dagelan yang juga sebuah contoh lain dari olok-olok manajemen.

Sumber gambar: di sini

7 COMMENTS

  1. Yang kayak gini banyak kang…
    Kalo dulu petruk menjadi raja karena pusaka jamus kalimasada, sekarang orang banyak menjadi pemimpin karena kkn …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here