Ada dua kejadian yang saya permasalahkan belakangan ini. Pertama, kasus Marissa Haque yang mengubah komentar di blognya menjadi fitnah. Kedua, penerbitan novel pencitraan Anak Sejuta Bintang. Dari dua hal itu, salah satunya nampaknya telah mendatangkan seorang pecundang yang menyerang saya di Twitter. Karena kelakuannya yang lempar batu sembunyi tangan, pecundang ini kemudian saya beri julukan sekaligus saya buatkan hashtag istimewa untuknya: #PecundangTwitter.

24 Februari 2012 malam, tiba-tiba di linimasa Twitter saya muncul dua RT yang bernada sinis. Karena penasaran, saya masuk ke akun manusia pencerca itu. Rupanya akun itu dibuat di hari yang sama dan dua RT tersebut merupakan tweet pertama dan kedua. Semua data tentangnya palsu, termasuk foto profil. Saat itu jumlah followingnya 11 dan follower 2. Ketika saya cek siapa saja yang dia ikuti, dari 11 tweep tersebut salah satunya adalah akun @novel_asb milik penerbit Expose (Mizan). Dari hasil temuan itu, saya hanya berkomentar dalam hati: “Oh, orang ini kiriman Anak Sejuta Bintang rupanya.” Tentu saja kesimpulan saya itu sifatnya hanya sepihak. Benar atau tidak perlu dilakukan pembuktian silang. Mungkinkah?

Saya tidak menanggapi RT bernada sinis itu. Yang saya lakukan adalah langsung memblok akunnya karena saya tahu saya sedang berhadapan dengan seorang pecundang. Kemudian saya ciptakan hashtag #PecundangTwitter dan membuat beberapa kicauan menggunakan hashtag itu. Bukan apa-apa, hanya sebagai pengingat diri sendiri maupun pengguna Twitter lainnya atau biasa disebut dengan ‘tweep’ agar waspada dan tidak terpancing untuk melibatkan diri. Jelas berhubungan dengan pecundang semacam itu tidak ada keuntungan apapun dan buang-buang energi. Bila menanggapinya bisa-bisa kita akan terpancing emosi lalu melayaninya, dan itu yang memang dia inginkan. Pecundang Twitter semacam itu suka dengan ‘twitwar’ karena nyalinya hanya sebatas di linimasa. Jadi, percuma saja mengajaknya untuk berdiskusi apalagi berdebat secara temu muka.

Beberapa dari kicauan berhashtag #PecundangTwitter yang saya buat.

Rupanya keputusan saya untuk tidak melayani dan membuat hashtag #PecundangTwitter membuatnya marah. Karena dia saya blok, saya tidak tahu kemarahannya tersebut. Selain itu, saya juga sudah melupakan dia. Rupanya dia memanggil-manggil saya (mention)  berkali-kali di linimasanya. Dan yang lebih menggelikan lagi, dia membuat #PecunTwitter sebagai hashtag tandingan. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu semua itu setelah sahabat saya yang juga menjadi sasaran sumpah-serapahnya, @mataharitimoer, mengirim sms mempertanyakan kelakuan #PecundangTwitter yang menyebut dia sebagai kembaran dari @wkf2010 (saya). Karena kiriman sms itulah saya kemudian masuk kembali ke akun pecundang itu. Alamak, rupanya dia telah ganti nama yang tadinya @uncle_doblang dia ganti dengan @pakde_doblang. Salah satu ciri pecundang Twitter telah dia tunjukkan: menjadi akun labil. Data dirinya juga dia ubah, dan tetap data palsu tentu saja. Jumlah following dinolkan, followernya sekarang menjadi lima. Pengubahan nama tidak berhenti di situ. Dia kemudian mengubahnya lagi menjadi @bangdoblang, dan nama terakhir yang saya temukan telah menjadi @doblangsky ketika tulisan ini dibuat. Anda jangan heran bila nama terakhir itu selanjutnya tidak dapat ditemukan karena sudah dia ubah lagi atau bahkan akunnya benar-benar dia hapus.

Anda lihat? Dari 123 tweet menjadi 86 setelah 37 tweet caci-makinya dia hapus.

Dari tulisan-tulisan yang saya buat, pecundang ini tahu bahwa saya menjadi blogger yang tidak disukai Marissa Haque dan Anak Sejuta Bintang (ASB). Karena itu, keadaan itu dia manfaatkan dengan membuat kicauan yang mengarahkan kecurigaan saya tentang siapa dirinya ke Marissa. Itu kecurigaan awal. Rasa curiga saya pada Marissa didasarkan pada:

  1. sebagian isi linimasanya yang berisi sapaan dan pujian ke Marissa dan Ikang serta tweet sinis ke @apriliokevin (anak Addie MS)
  2. tuduhan bahwa saya buzzer (ASB tak mungkin menuduh seperti itu karena mereka tahu saya bukan anggota tim buzzer ASB.)
  3. upaya dia mengadu domba saya dengan pihak ASB melalui komentar yang dibuat (menggunakan nama D. Setiawan, tentang cover ASB) di tulisan berjudul Anak Sejuta Bintang: Sebuah Novel Pencitraan. Dan ternyata komentar yg sama juga dikirimkan ke tulisan-tulisan lain yang kontra terhadap ASB seperti tulisan di blog milik @ErfanoNalakiano dan @mataharitimoer. Komentar itu selanjutnya saya teruskan ke @novel_asb dan sudah dijawab meskipun jawabannya membuat saya mengirimkan pertanyaan kembali karena @novel_asb mengesankan lepas tanggung jawab.

    Dan nampaknya tindakan saya meneruskan pertanyaan D. Setiawan itu membuat dia kecewa. Bukan tindakan itu yang dia harapkan rupanya.
  4. gaya bahasa dan penggunaan istilah yang merendahkan (filsuf mie instan, buzzer kacrut, tukang obat jadul, muna habis, Wong Kampungan) seperti yang dilakukan Marissa dalam blognya (baca: Memang Marissa Haque Doktor?)
  5. penggunaan istilah kamseupay meskipun ditulis kamseu***

 

Untuk memancing pecundang ini terus berkicau di linimasanya sehingga makin memperjelas bahwa dia adalah Marissa, saya kembali membuat kicauan menggunakan hashtag #PecundangTwitter. Silakan ikuti atau cari hashtag tersebut untuk membaca lebih rinci. Bahkan ketika kicauan saya tidak lagi menggunakan hashtag itu, dia meresponnya untuk memberi kesan bahwa dia memang Marissa.

Tetapi tunggu dulu! Tiba-tiba saja saya merasa bahwa dia bukan Marissa. Ada hal-hal yang tak mungkin dan tidak ada relevansinya dengan Marissa. Nampaknya si pecundang ini sengaja menyuguhkan data yang mengecoh agar kecurigaan saya tertuju pada Marissa. Betul-betul jahat sekali. Entah sadar atau tidak, pecundang ini telah melakukan fitnah. Data tersebut jelas mengarah ke Marissa tapi ada beberapa hal yang tak masuk akal buat saya bila dia yang menjadi #PecundangTwitter. Beberapa hal tersebut adalah:

  1. tuduhan saya sebagai buzzer (ASB) tak ada relevansinya dengan kepentingan Marissa,  lagi pula dari mana dia tahu saya buzzer atau bukan?
  2. penyebutan Mr. R dan Miss S (yg bisa dipastikan kependekan dari Raditya Dika dan Sherina Munaf) sebagai contoh buzzer pro yang memiliki follower di atas satu juta.
  3. si pecundang tahu profesi saya sebenarnya. Sayang tweet yang ini keburu dia hapus sebelum sempat diduplikasi. Memang sebelumnya ada yang menanyakan ke pihak lain secara intensif segala hal tentang saya termasuk pekerjaan setelah saya membuat tulisan yang mengecam novel ASB tetapi yang jelas si penanya itu bukan Marissa.
  4. pilihan nama Doblang yang diambil dari puisi karya WS Rendra berjudul Paman Doblang. Tidak ada, sejauh yang saya ketahui, track record Marissa Haque yang bersentuhan dengan dunia sastra, berbeda dengan, misalnya, Rieke Dyah Pitaloka, Cornelia Agatha, Maudy Koesnaedi, Dian Sastrowardoyo, atau Ine Febriyanti. Jadi, sungguh aneh jika tiba-tiba dia tertarik dengan dunia sastra.
  5. ungkapan atau istilah tertentu yang bukan mengacu ke Marissa seperti com’on, seriously, not smart-not funny. Anda yang sering berhubungan dengan orang yang menggunakan  ungkapan itu pasti sudah tidak asing lagi mendengar atau membacanya.

Dari temuan baru itu, saya kemudian merubah haluan kicauan saya. Kicauan menggunakan hashtag #PecundangTwitter tidak lagi saya arahkan ke Marissa. Beberapa di antaranya bisa anda baca di bawah ini. Sisanya? Lagi-lagi, silakan baca langsung di linimasa @wkf2010.

Dan nampaknya si #PecundangTwitter merasa dirinya mulai dikenali. Oleh karena itu, dia mencoba berbaik-baikan dengan @mataharitimoer (karena saya tidak mau mention atau RT tweet-tweetnya) dengan mengeluarkan 19 tweet yang bernomor dan dua tweet tanpa nomor, dan ini bukan style Marissa. Dia mencoba berdalih dan menganalogikan perbuatannya yang tidak lucu itu dengan humor, gelitikan, main petak umpet, dan segala macam analogi sebagai apologi. Bahkan si pecundang ini sempat memuji-muji @mataharitimoer sebagai orang yang santun dan smart (no.12) dalam upayanya berapologi. Begitukah dia berpikir bahwa tindakannya hanya sekedar kelakar dan lain-lain ketika memulai twitwar? Saya yakin tidak. Tweet-tweetnya penuh kebencian. Tidak ada sedikitpun rasa canda di dalamnya. Tweet dia yang berisi sumpah serapah itu akhirnya dia hapus semua setelah kehilangan akal. Namun sayang, bukti kelakuan bodohnya itu telah diduplikasi (screenshoot) sebelum dihapus. Anda bisa baca di bawah ini beberapa tweet sumpah-serapahnya yang sempat diduplikasi.

Tweet rayuan setelah mulai dikenali. Untuk melihat gambar yang lebih besar, silakan diklik.
Tweet bercandakah ini? Masih banyak tweet caci-makinya yang sudah dia hapus duluan. Untuk melihat gambar yang lebih besar, silakan diklik.

Karena saya merasa yakin bahwa #PecundangTwitter tersebut kemungkinan besar salah satu dari dua pihak yang pernah saya tulis, maka saya masuk ke linimasa Marissa Haque (@haquemarissa) dan dua orang yang paling berperan dalam melahirkan novel ASB yaitu Akmal Nasery Basral (@akmal_n_basral)/penulis dan Khrisna Pabichara (@1bichara)/penyunting. Saya berharap ada sesuatu yang bisa saya peroleh untuk menguak misteri ini. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, pencarian saya mulai pada tanggal akun #PecundangTwitter dibuat yaitu 24 Februari sampai 28 Februari 2012 saat dia kehabisan akal dan menghapus semua kicauan yang mencerca @wkf2010 dan @mataharitimoer.

Tidak ada yang aneh dengan linimasa Marissa, maksudnya tidak jauh dari puja-puji terhadap dirinya sendiri, suami, dan anaknya. Narsis habis. Bahkan aktivitas terakhir dia lakukan 24 Feb pukul 10.34 pagi, sebelum akun pecundang itu diciptakan dan mulai menyerang di malam hari. Begitu juga linimasa milik @1bichara. Saya tidak menemukan hal yang bisa menghubungkan dia dengan @doblangsky. Linimasanya ramai dengan kicauan. Nampaknya pemiliknya begitu bawel dan sangat aktif bersosialisasi. Tiada hari yang kosong oleh tweet di linimasanya. Tampilan linimasa tersebut sengaja tidak dipanjang di sini karena begitu panjang dan beraneka ragam. Bila masih penasaran silakan masuk sendiri ke linimasa sang penyunting itu.

Tweet terakhir @haquemarissa saat dikunjungi (28 Februari 2012).

Yang mengejutkan adalah ketika saya masuk ke linimasa @akmal_n_basral. Ada beberapa kesamaan bahasan yang dituliskan di sana dengan yang ada di linimasa milik @doblangsky. Bahkan bukan saja harinya yang sama tetapi waktunya ada yang selisih hanya 19 menit. Kebetulankah? Jika ini sebuah kebetulan, benar-benar sangat luar biasa. Hal ini tentu saja sangat merugikan Akmal tetapi fakta yang saya temukan seperti itu. Saya tidak menuduh dialah si #PecundangTwitter itu tetapi saya akan sangat berterima kasih dan sangat mengapresiasi bila dia bersedia memberikan klarifikasi perihal kebetulan yang amat sangat ajaib ini. Mudah-mudahan saja klarifikasi yang diberikan jujur, bukan sebuah kebohongan baru yang digunakan untuk  menutupi kebohongan sebelumnya.

tentang Oscar
interaksi dengan @ibutjantik alias Jajang C. Noer
tentang posisi Indonesia berdasarkan hasil survei

Pesan untuk Akmal Nasery Basral sebagai pemilik akun @akmal_n_basral sekaligus penulis novel Anak Sejuta Bintang, kelakuan si @doblangsky ini jelas merugikan anda. Karena itu, anda harus melacak dan menyeret #PecundangTwitter tersebut karena reputasi anda taruhannya. Satu lagi, karena anda nampaknya rajin ibadah dan sering mengutip ayat suci Al-Qur’an, anda pasti tahu ampuhnya doa orang yang dizalimi. Berdoalah, agar sosok #PecundangTwitter bisa segera diungkap. Saya ikut berdoa bersama anda dari sini.

Bagi #PecundangTwitter, tinggal menunggu waktu saja kedokmu terbuka. IP addressmu ini akan mengungkap siapa dirimu sebenarnya. Begitu identitas asli dirimu saya peroleh, kau akan saya seret ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatan jahatmu. Kecuali kamu datang ke Bogor meminta maaf kepada saya (@wkf2010) dan @mataharitimoer dan bersumpah untuk tidak mengulangi lagi perbuatan pengecutmu itu. Kepada teman-teman yang peduli dengan kebenaran, mari kita lawan manusia pengecut macam @doblangsky dan tolong ikut melacak siapa pemilik IP address di bawah ini. Beberapa data yang bisa dimanfaatkan untuk melacak IP address tersebut: lokasi di Jakarta Raya, latitude -6.1744, longitude 106.8294, ISP PT Remala Abadi. Atas bantuan yang diberikan, sebelumnya saya sampaikan terima kasih.

Sumber gambar: pintu

 

20 COMMENTS

  1. ASB Asep Saiful Bahri cerdas nih yang nyambungin 😀

    Saya cuma mau nanya satu pertanyaan sama paman doblang, “kenal dengan pengarangnya ASB nggak?”

    Jangan2 paman doblang itu alter ego-nya…..*kasih tau ga ya* ….. *ilang-sinyal*…….

  2. sangat disayangkan blog sebagus ini koq dijadikan ajang debat dan pertengkaran..padahal kalo dibuat bermanfaat bagi orang lain kan lebih bagus,daripada saling menghujat….

  3. @Rudi Ginting: jika Anda menilai seperti itu, saya sepakat. Saya yakin si Doblang ini bermaksud baik, hanya caranya yang kurang tepat. Kadang-kadang seperti itulah yang terjadi, maksud yang baik akhirnya tidak sampai dikarenakan caranya yang tidak benar.

    Menjadi pengecut? Jangan sampai memiliki pikiran itu. 🙂

  4. Pecundang=Penipu=pengecut
    saya teringat pada satu kalimat yang pernah disebutkan seorang yang sudah saya anggap guru dan orang tua saya:
    “jadilah laki laki yang berkon**l”

    Menjual ayat? sudah tidak aneh di negeri ini karena sudah banyak orang yang melakukan itu untuk mengenyangkan perutnya.

    Menjilat? lumrah di negara ini karena sudah terbukti banyak yang rela menjual harga dirinya untuk menyelamatkan nasibnya.

    kalau pelaku yang diceritakan beragama islam, saya ragu akan dia beragama islam. Karena islam mengajarkan berani menepuk dadanya sendiri bukan menepuk dada orang lain.

    pengecut? adalah sifat yang sudah mendarah daging bangsa ini sehingga wajar saja kalau banyak orang yang rela menukar kemaluannya, menukar wajahnya, menukar imannya dan menukar otaknya dengan kotoran di negara ini.

    semoga penulis tidaklah meniru sifat kepengecutan dari orang yang di maksud dalam tulisan ini.

    salam

  5. @unggulcenter: dia itu sedang berjudi dengan reputasi dan kredibilitasnya, dan nampaknya ingin mencicipi UU ITE. 😉
    @ontohod: kita harus ‘akrab’ dengan siapa saja, termasuk pengecut macam On.. eh, Doblang. :mrgreen:
    @utami utar: jadi, pasti tak gampang percaya orang semacam Doblang ini di dunia nyatanya memiliki tanggung jawab. 😉

  6. Setidaknya saya belajar satu hal. Barangkali sudah saatnya merenungi kembali tulisan Roland Barthes “The Death of the Author”. Ternyata susah memisahkan antara apa yang kita tulis dengan kita sebagai penulis. Mau pakai nama asli ataupun palsu. Semua tetap bermuara pada pentingnya tanggung jawab yang harus diberikan. Tulisan itu tak datang dari langit, bukan? Apa jadinya kalau semua orang bebas menulis kemudian lepas dari tanggung jawab dengan alasan saling gelitik?

  7. Kalau sudah tidak menyenangkan dan nyangkut di UU ITE ya langsung aja diseriusin biar kapok.

    Saya ga tertarik baca komentar yang puanjang banget dan cocok buat jadi tulisan blog disini apalagi membela diri kalau yang NGOMONG itu Anonim alias ga jelas.

    Semoga semua akun palsu, klon, anonim, apapun namanya musnah dari muka bumi. Apalagi kalau nama palsu, gambar palsu, kemaluan nya belum tentu juga asli soalnya malu menampakkan diri. Inilah orang pengecut. Siapapun itu ya. 🙂 Jadi saya percaya dengan orang yang benar-benar berani membuka diri, right or wrong ya tentu pendapat masing-masing. Saya tak bela siapapun.. hanya ga mau membela orang yang tidak jelas siapa dia.

    Salam kenal dan salam persohiblogan…

  8. @Erfano Nalakiano: Kasih tahu siapa dia sebenarnya, dong. :mrgreen:
    @MT: Si Doblang ini nampaknya perlu belajar sopan santun lagi dalam menggelitik. Jadi bila nanti mau menggelitik orang lain lagi, bukan dengan cara menyembunyikan diri macam gitu. Itu mirip anjing yang menggonggong di balik rerimbun. Masih mending kalau hanya ditimpuk rerimbunannya itu, jika dilempar granat, apa tak jadi bangkai dia? 😉

  9. Senang sekali melihat antara WKF dan Doblang “Entah Siapa Sebenarnya” masih saling berinteraksi lewat kata. Semoga saja perkenalan kita yang diawali dengan “gelitikan” dan atau saling serang di lini masa menjadi keakraban yang sebenarnya, suatu saat nanti.

    Awalnya saya memang hanya berada di luar dari pertentangan kalian di lini masa. Sama seperti teman-teman lainnya, seperti Erfano, saya hanya membaca hashtag #pencudangtwitter karena memang saya follow WKF. Saat di-mention oleh WKF saya pun hanya membaca saja. sesekali ikut tersenyum. Lalu sampai Doblang mention saya juga soal buzzerkacrut dsb dengan hashtag #PecunTwitter, saya merasa lebih “serius” lagi dilibatkan dalam perang-kata itu.

    Sejujurnya, saya tersinggung dengan twitan Doblang saat menuduh saya dan WKF sebagai buzzerkacrut, dsb. Ketersinggungan itu memicu saya ikutan ngetwit pada dini hari, 28 Februari 2012. Saat itu teman-teman yang masih memerhatikan lini masa saya sampai merasa, saya sangat berbeda pagi itu.

    Sebenarnya sederhana saja yang saya tak sukai. “Gelitikan” yang kamu lakukan jelas berbeda dengan yang dilakukan oleh teman-teman saya, karena kita belum saling kenal. Bahkan untuk mengenalimu agak sulit karena identitas yang tak jelas seperti yang dipaparkan WKF.

    Akan berbeda jika kita sudah saling kenal. Misalnya seperti saya, sering juga bercanda bahkan agak vulgar terhadap WKF, Erfano, Rudigints, 1Bichara, Abahzoer, Harrismaul, dll. Separah apapun gelitikan teman-teman, tak membuat kami tersinggung atau terusik karena kami sudah pernah saling ketemu. Atau paling tidak pernah bertegur sapa dalam konteks lain di lini masa. Bahkan pernah saya menyebut rumah WKF sebagai Kandang Kambing. Tapi ia tak pernah marah karena tahu, kalau saya bercanda, mengingat di sebelah teras rumahnya ngejogrog kandang kambing beneran.

    Bahkan belum lama, saya pernah ngetwit, “saya pikir, yg paling dirugikan dg ramenya #anaksejutabintang adalah @asepsaiba karena ASB adalah initial: Asep Saiful Bahri #iseng”

    Saat itu bang Akmal sebagai penulis novel ASB malah ngakak: “LoL RT @asepsaiba: Sy hrs minta jatah royalti kalo gitu.. 🙂 RT @akmal_n_basral: LOL “@mataharitimoer:yg paling (cont) http://tl.gd/g5vt1o
    . Baik Akmal maupun Asep, tahu kalau itu cuma bercanda. apalagi ditambahkan tagar #Iseng. Lagi pula antara kami sudah pernah saling bertegur sapa di lini masa. Jadi, kuncinya: Bercanda itu biasa bagi orang yang sudah pernah dan atau saling kenal.

    Jadi, cuma sesederhana itu saja yang saya gusarkan. Antara saya dan Doblang yang “entah siapa” tak pernah saling kenal. Lalu tiba-tiba saya di-mention dengan bukti-bukti yang menuduh saya sebagai buzzerkacrut, dsb. Jelas saya bertanya-tanya dong, siapa sih Doblang itu? Koq menyerang saya seperti itu?

    Namun setelah Doblang menulis tentang gelitikan seperti yang ada pada skrinsut-an WKF di atas, saya pun menyimpulkan “Oh, jadi Doblang cuma bercanda.” Ya, sudah. Karena penjelasan tentang gelitikan itu begitu panjang lebay eh lebar, akhirnya saya putuskan untuk kenal lebih dekat dengan ngopi beneran kapan-kapan.

    Saya lebih ingin menghikmahi dan menyudahi setiap kesalahpahaman bahkan perseteruan dengan perdamaian dan kekerabatan. Jadi, saya hanya menunggu saja kapan kita, (saya, WKF, dan Doblang) bisa saling berjabat-tangan.

    begitu aja dulu, deh. semoga kita makin saling menebar kebaikan.

    Jabat erat!

  10. @Doblang Ray Setiawan: Hahahaha… terima kasih kawan. Maksudnya mau argumentatif tetapi yang kamu lakukan itu seperti tong kosong berbunyi nyaring. Bukan kelihatan pandai tetapi malah sebaliknya. Juga, kamu ini benar-benar ajaib, bisa berubah-ubah. Sekarang menjadi orang Betawi, lain waktu entah jadi suku mana lagi. Dan terima kasih sekali atas komentarnya yang menyenangkan karena begitu panjang dan ‘berbobot’. Hanya sayangnya, mohon maaf jika tidak semua yang kamu sampaikan akan saya tanggapi. Hanya beberapa yang saya anggap penting. 😉

    Tentang gelitik-menggelitik, tentu saja saya akan senang sekali melakukannya karena itu bagian dari suatu keakraban. Dan saya sudah membaca penjelasan panjang lebar di linimasamu. Sayangnya, cara kamu menggelitik sambil bersembunyi di balik nama yang berubah-ubah itu tidak bisa saya mengerti. Bagaimana kita menganggap gelitikan dari sebuah lemparan yang dilakukan secara tiba-tiba oleh orang yang tidak kita kenal karena menyembunyikan dirinya?

    Dalam hal prasangka, kamu ini seperti maling teriak maling. Kamu menuduh saya berprasangka sementara kamu sendiri menciptakan kondisi agar orang lain berprasangka dengan sengaja mengecoh dan menyembunyikan diri. Dan bila kemudian kamu menyuruh saya untuk minta maaf, apa tidak kebalik tuh? Nampaknya logika berpikirmu kebalik-balik.

    Untuk dalil-dalil dari Al Qur’an itu, sebaiknya disimpan dulu, deh. Jangan sampai memberi kesan kamu ini juga seorang penjual ayat-ayat suci. Nanti kalau kamu sudah berani menunjukkan mukamu, baru dipakai lagi. Biar cocok antara perilakumu dengan yang kamu omongkan. Oke?

    Tuduhan satu lagi bahwa saya ini pengadu cukup menggelikan bagi saya. Namanya juga media sosial, di situlah saya menyampaikan hal-hal yang tidak benar termasuk tindakan pengecutmu agar diketahui khalayak dan agar mereka bersikap hati-hati. Jangan-jangan, korupsi di negeri ini begitu subur karena banyak yang berpikiran seperti kamu, takut dianggap pengadu bila melaporkan? Ah, cara berpikir saya memang terlalu sederhana. Maklum Wong Kam Fung, eh wong kampung alias orang kampung. 😉

    Oh ya, tentang nama Wong Kam Fung, lebih baik kamu baca saja di sini, ya: http://wongkamfung.boogoor.com/wong-kam-fung-wong-kam-fu112.html. Saya pernah menuliskannya panjang lebar, kok. 😉

    Saya ini sadar kapasitas. Tak perlu kamu suruhpun saya akan ungkap IP address pecundang kakap bila saya memiliki kapasitas dan otoritas untuk melakukan itu. Karena yang saya punya kail, masak saya disuruh menangkap paus? Karena kemampuan saya terbatas, mengejar penjahat kelas teri macam kamulah yang bisa saya lakukan. Sungguh konyol dan bodoh bila berambisi memeluk gunung dengan dua tangan yang tak berarti ini. Itu namanya nafsu besar tenaga kurang. Betul, tidak?

    Seandainya dari awal kamu terbuka menyampaikan sumpah serapah yang kamu sebut dengan gelitik itu, saya tentunya akan menyambutnya dengan senang hati. Saya tidak anti kritik, juga kecaman yang argumentatif (mengapa saya jadi suka menggunakan kata ‘argumentatif’, ya?). Cuma sayangnya, kamu yang pandai berdebat ini nampaknya ketakutan jika identitasnya terbuka. Kalau boleh tahu, memang ada apa, sih? 😉 Ayolah, jangan jadi pecundang semacam itu. Yang kamu lakukan itu tak ada bedanya dengan lempar batu sembunyi tangan. Masak calon orang besar pengecut, gitu?

    Satu yang saya sarankan buatmu, karena kamu pandai menulis dan jago menjelma menjadi beragam karakter, lebih baik kamu jadi novelis, deh. Gimana? 😉

    Ngomong-ngomong, saya ini sedang nunggu kedatangan @akmal_n_basral sebagaimana yang dia janjikan di Twitter. Mengapa malah kamu yang nongol? Ngganggu kenikmatan menunggu saja, ah.

    Dan mohon maaf bila jawabannya tidak terstruktur berurutan sesuai komentarmu. Maklum, saya bukan novelis. 😉

  11. Wow..panjang lebar, kok tulisannya saya bisa tebak ya Doblang. Tipe tulisan seseorang….yg jelas bukan nyai doktor, hmme…..sampe bawa ayat2 Al Quran segala, macam ustadz aja kutengok….
    Kayaknya Doblang itu gak tahu betapa solidnya blogger (blogger asli loh).Trus belaga jadi heronya nyai doktor dan tuan ON Terus… waduuh….beberapa mention WKF terhadap nyai doktor dan teman2 blogger disebabkan ulah nyai doktor (semoga Doblang membaca riwayat2 sebelumnya). Ngakak baca tulisan Doblang sok di Betawiin tapi keliahatn banget tulisannya Orang Sok Bijak Itu….

  12. Hahaha… Tulisan bang Wong Kam Fung (WKF) ini lucu banget karena nunjukin bang WKF:
    (1) Kagak ngerti Prinsip Saling Gelitik
    (2) Kepala bang WKF penuh prasangka kayak sarang laba-laba
    (3) Emosi bang WKF sumbu pendek banget kayak petasan banting
    (4) bang WKF juga lebay, dikit-dikit ngadu ke komunitas blogger, hahaha…

    Supaya bang WKF gak bingung, ane jabarin – karena abang tinggal di Jabar – satu persatu deh ye bang. Insya Allah ntar kalok abang baca sampe abis, bang WKF bakal paham bahwa selama ini abang yang nge-gendang, ane cuman joget doang ngikutin irama abang.

    (1) Prinsip Saling Gelitik

    Hidup ini simpel bang WKF: Kalok ente suka gelitikin orang, jangan marah dong kalok satu saat orang gelitikin ente. Itu prinsip. Kalok abang maunya gelitikin orang terus, tapi giliran digelitikin terus ngamuk seakan-akan jadi orang paling terzolimi sak dunya-wal-akhiroh, walahhh.. ancur Mine dong mas broh (biar rhyming aje kayak penyanyi rap. Eh, emang rapper itu penyanyi ye?)

    Contoh paling jelasnya gini. Bang WKF gelitikin orang di Twitter, terus ada Doblangsky yang bales gelitikin abang, masak gak liat polanya sih? Itukan antara “Wong Kam Fung vs Doblangsky” saling ngegelitik, bukan antara pemilik akun Wong Kam Fung dengan pemilik akun Doblangsky? Kenape jadi dimasukin ke ati, bang WKF? Kecuali kalok ane, Doblangsky, nyebut name pemilik akun Wong Kam Fung dengan jelas bin lengkap, boleh deh bang WKF nyap-nyap kayak Pok Ati.

    Contoh kedua, bang WKF doyan nge-“pun” (main plesetan kata), misalnye Wong Kam Fung yang abang pake sebagai nick ini kan dari nama peramal beken Empeh Wong Kam Fu.

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/01/12/ALB/mbm.19850112.ALB38029.id.html

    Ape tuh artinya? Penjelasan netral, abang doyan ramalan sehingga menjadikan nama peramal sebagai alter ego (set, apaan lagi tuh?) Penjelasan serius agak psikologis, bang WKF kena krisis identitas. Jadi daripade ngegedein nama asli abang sendiri, mending nyomot nama orang beken sebagai jalan tol supaya cepet dikenal orang. Ape tuh kate orang marketing? Branding ye? Atau kate sosiolog, abang punya gejala “social climber”?

    Hehehe… tapi kite kagak usah serius-serius ye bang. Dengan logika “pun” (pelesetan kata) yang abang gendangin ini, ane ikutin joget doang. Carenye? Abang bikin hestek #PecundangTwitter, ane jawab dengan hestek #PecunTwitter. Liat logika tersembunyinye di sono, bang? Pecundang ? Pecun. Bisa aje sih #Pecundang ? #Pecun, dong! Tapi kan mirip banget kayak “pun” Wong Kam Fung yang kagak kreatip itu ye bang? Hehehe…

    Kalok bang WKF ngotot nick abang bukan “pun”, tinggal satu kemungkinan: abang doyan ramalan kelas berat sampe-sampe nama peramal dijadiin ID, hehehe… kagak ape-ape juga kok, pan nick ane Doblangsky juga karena ane doyan sama sajak “Paman Doblang” yang ditulis Rendra.

    Contoh ketiga, pan bang WKF sendiri nyang pernah nyebut temen abang @mataharitimoer sebagai buzzer? Perkara itu beneran ato cumak becandaan abang, tapi karena ada di twit abang, boleh dong ane lanjutin dengan pikiran, jangan-jangan abang juga buzzer? Karena pan biasenye yang tau seorang itu jago kungfu juga jago kungfu lainnye? Hehehe…

    Contoh keempat, pan bang WKF sendiri nyang nyebut seorang penulis sebagai “lonte” di twitter? (Padahal kayaknya tuh penulis temen abang juga karena sering saling mensyen). Lah, kalok abang ikhlas nge-lonte-in orang lain, kenape bang WKF nyap-nyap pas di-lonte-in orang lain lagi? Inget prinsip Saling Gelitik dong bang WKF. Jangan egois, ah!

    Moga-moga sampe sini bang WKF udah paham, bahwa ane kagak ade urusan personal sama abang, cuma “minjem logika” abang aje. Abang ngegendang, ane jojing waksurojing.

    Kalok abang masih belom percaya, coba cek lagi twit ane dari awal, ade kagak ane nyebut nama asli bin lengkap bang WKF seperti kejadian dua seleb sohor perang twit beberapa bulan lalu nyang sampe saling mensyen nama lengkap? Kagak ada kan?

    (2) Kepala Penuh Prasangka

    Tapi karena bang WKF egois, maunya gelitikin orang tapi nggak sudi digelitikin, kepala abang jadi penuh prasangka buruk (su’uzhon). Hari pertama abang nebak akun ane itu punya X, hari berikutnya abang nebak akun ini punya Y, seorang “emak, doktor” bla-bla-bla, bahkan sampe bang WKF nyebut-nyebut suami sang “emak yang doktor” itu, seorang seleb model obat seksual cowok, dan nyindir-nyindir orang ini sebagai “biasanye model iklan itu memakai produk yang diiklankan”.

    Astaghfirullah. Cobalah bang WKF introspeksi diri dengan tenang. Abang bukan cuma curiga sama orang yang kagak salah, kagak ngegelitikin abang, tapi abang nulis itu dengan enteng di-TL abang yang difollow banyak orang. Ape kagak dosa itu, bang? Astaghfirullahal adzim.

    Makenye, ane langsung ngingetin bang Matahari Timoer jangan su’uzhan, dan kayaknya die langsung ngerti. Tapi bang WKF? Karena abang udah gak liat ini lagi sebagai bagian dari “pun game” yang abang mulai sendiri, tetep aje selama bbrp hari kepala abang dibiarin sama prasangka buruk.

    Ini pertanyaan serius bang WKF, bukan “pun”: abang udah mintak maap belom ke si “emak-doktor” dan suaminye yang udah bang WKF timpani su’uzhon itu? Atau itu bang WKF gak anggap penting karena buat abang yang penting sekarang adalah rasa tersinggung personal abang sendiri? Istighfar, bang….

    (3) Emosi Sumbu Pendek

    Emosi sumbu pendek membuat bang WKF memilih jalan panjang untuk tanyak kanan-kiri sampe mintak bantuin orang lain ngecek IP Address ane, Doblangsky, ketimbang abang milih jalan pendek yang lebih gampang: perhatiin dengan teliti 1-2 twit awal ane, yang pasti langsung bakal abang kenalin.

    Terus terang ane juga jadi “takjub”, kok yang ane harepin nick ini bisa ketahuan sama abang hanya dalam 1-2 jam, eh malah sampe berhari-hari? Kenape? Simpel aje: karena bang WKF sumbu pendek, jadi kemampuan menganalisa langsung tumpul. Kebakar emosi semua. Sehingga bener juga kate rakyatnye Pangeran Charles, “Bad emotion makes smart people looks stupid”. Eh, bener gitu kutipannya ye bang?

    Lagian ngapain pake ngecek IP Address segala, kayak ane ini sepenting Julian Assange pendiri Wikileaks aje? Hehehe…

    Kalok bang WKF (dengan bantuan temen) doyan ngoprek IP Address orang, sekalian bantu rakyat, bantu negara dong? Cari tuh IP Address para koruptor kakap, baik yang PNS kayak DW atau pengusaha. Bikin aktivitas yang lebih berbobot gitu lho dengan kemampuan yang kagak bisa dimiliki semua orang. Paham maksudnye kan bang? Itu baru abang hebat dan berkiprah di tingkat High Context.

    Lah kalo cumak bongkar IP Address kayak ane, inikan kerjaan Low Context banget, karena ketauan banget yang jadi concern abang cuma soal personal doang, rasa tersinggung, sakit hati. Padahal itu semua, balik lagi ke nomor satu, karena abang WKF sendiri yang ngegendang duluan, dan orang lewat cumak ngikut joget doang.

    (4) Lebay, dan suka ngadu bin mensyen

    Yang paling ajaib dari sikap bang WKF ternyata dikit-dikit mensyen orang lain, dikit-dikit lapor ke komunitas blogger. Ade ape sih bang?

    Kalok balik lagi ke awal “pun game” antara bang WKF dan Doblangsky, liat aje ape ane pernah mensyen orang lain selain @mataharitimoer? Itu pun ane mensyen karena abang sendiri yang bilang bang MT buzzer (atau mantan buzzer) di salah satu twit bang WKF. Udah gitu antare kite kan kagak saling follow, jadi TL juga kagak nyampah dong, bang? Masuknye kan cumak ke kolom “mention” doang? Hehehe…

    Yang kayak gini ini sikap yang lebay tuh, bang WKF. Selalu butuh bantuan orang laen, ngerengek ke orang laen. Ngapain jugak abang ngelibatin orang laen?

    (5) Soal ngopi bertiga bareng Matahari Timoer

    Boleh aje, kapan bang WKF ade waktu nyok. Tapi ade satu syaratnye nih bang, kagak susah kok.

    Syaratnye ane cumak pengen baca abang bikin permintaan maaf sama “emak-nyang-doktor” dan suaminya (yang udah abang ledek karena die jugak jadi bintang iklan obat kejantanan lelaki).

    Bikin di Twitter aje dengan mensyen nama mereka berdua, biar ane bisa pantau.

    Kenape ini penting? Karena ane yakin bang WKF sebagai seorang muslim nyang baek paham banget sama ayat mulia ini:

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

    dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]

    Tapi kalok bang WKF kagak mau ngelakuin itu (entah males atau ngerasa kagak perlu). Ane juga kagak maksa, karena itu pilihan abang yang menunjukkan abang lebih mementingkan ego abang ketimbang akhlak abang. Kalok akhirnya nanti kayak gitu, apa gunanya ngopi bareng, ye gak bang?

    Kasus ini mestinye jadi pelajaran penting nyang bisa diambil hikmahnye bagi bang WKF, bahwa persepsi abang tentang orang lain masih belum stabil. Gampang banget terkecoh dari apa yang abang baca (meski hanya twit pendek). Langsung gampang menghakimi orang (su’uzhon).

    Tapi kalok setelah abang pikir-pikir lagi dengan dalem dan tenang, dan abang putuskan “oke, saya bakal minta maaf sama emak itu dan suaminya”, kita pasti bakal ngopi bareng bang, bahkan mungkin ane juga bakal ngajak temen laen seperti … eh, siape enaknye ye bang?

    Pamit dulu ah, udah malem ye bang,

    D’Blanc (Doblang) Ray Setiawan, temennya Wong Kam Fung.

  13. @Jaelani: you’re welcome. 🙂
    @Erfano Nalakiano: mudah-mudahan tidak. Kalaupun ya, film itu pasti tak masuk daftar tonton saya. :mrgreen:
    @MT: pecundang yang childish dan demam panggung. 😉

  14. akhirnya published juga. saya sampai 4 kali ngecek kapan tulisan ini ditampilkan.
    intinya sih, akun #pecundangtwitter yg memakai nama doblang dsb, kuanggap sbg akun kebocahan dan kebodohan. seorang bocah gampang sekali mencerca lalu memuji. dunianya hanya terbagi pada 2 hal itu.
    kini tinggal menunggu saatnya dia menemui kita dg senyum lebar untuk menjelaskan bahwa itu dia lakukan sbg lelucon. boleh jadi awalnya dia mau ngundang twitwar include buzz 🙂
    yeach, kita tunggu saja. yg jelas tulisamu ini sudah bikin dia kaget. dia gaknyangka kalo kegiatannya terekam. makanya jgn main2 sama blogger! :))

  15. Assalamu’alaikum.
    Thank you very much to my teacher, Mr. Adi Purwanto or @wkf2010. You have motivated me to be in high spirit and made me read knowledge happily.

    wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here