nikmatnya ngopikereDuloh mengelus-elus jenggot kambingnya. Dia sedang menunggu para pembeli ketoprak, dagangannya. Sekali-sekali dia tengok telepon genggamnya. Siapa tahu ada kicauan untuk @SerabiJenggot, akun Twitter yang dia buat untuk komunitas yang dia dirikan dan ketuai.

Profesi Duloh sebagai pedagang ketoprak tidak menghalangi semangatnya untuk setara. Bagi Duloh, setara artinya mengikuti perkembangan. Itulah sebabnya dia rajin membaca koran dan majalah di kios milik Wekape yang tepat berada di sebelah kiri gerobak ketopraknya mangkal. Dia juga membeli telepon genggam untuk berkomunikasi baik dengan teman atau para pelanggannya. Selain itu, telepon genggam itu dia juga pakai untuk belajar menggunakan Twitter. Duloh tahu pentingnya media sosial yang kata dia berlogo burung emprit itu dari bacaan yang dia lahap selama ini. Dia gunakan Twitter untuk komunitasnya yang namanya agak gimana gitu: Komunitas Serabi Jenggot. Duloh mendirikan komunitas itu sebelum dia beralih profesi menjadi penjual ketoprak sekarang. Wekape adalah salah satu anggotanya.

Wekape sudah berada di sebelah gerobak saat Duloh masih asyik dengan jenggot kambingnya. Kios korannya dia tinggal begitu saja. Toh nanti kalau ada pembeli, akan terlihat juga dari tempat jualan ketopraknya Duloh. Ada kabar yang dia harus sampaikan ke Duloh.

“Loh, kamu mesti merasakan nikmatnya #NgopiKere. Acaranya pasti menarik. Banyak orang berkumpul di situ. Dari beragam profesi. Sudah bisa kubayangkan, bakal heboh. Acara keren ini, Loh.”
“Kamu itu ngomong apa toh, Pe?” Duloh bengong.
“Wedhus!”

Wekape mengumpat. Duloh malah bertanya. Bukan itu tanggapan yang diharapkan Wekape.

“Ngopi kere itu apa?” Duloh kembali bertanya.
“Serius kamu tidak tahu?”
“Tidak.”
“Wow, makanya sering buka Twitter. Itulah kalau punya akun tapi ndak pernah ditengok.” Wekape geleng-geleng untuk meledek. Dia sebenarnya tahu jika Duloh rajin membuka Twitter.
“Males, ah. Isinya pencitraan semua,” enteng Duloh menjawab.
“Ya ndak semua. Di galur waktu lagi ramai tentang #NgopiKere. Kamu kan ketua komunitas, peminum kopi, jadi harus ke sana.”
“Komunitas Serabi Jenggot macam kita punya ini diterima di sana?”
“Pasti. Panitianya bilang siapa pun boleh datang. Mereka membuat undangan terbuka bagi siapa saja yang mau hadir. Syaratnya cuma satu, mau ngere di tempat acara nanti.”
“Ah, kalau hanya itu syaratnya sih, gampang. Buatku, itu bukan lagi syarat. Aku ini kan orang kere. Tanpa dijadikan syarat juga, aku pasti ngere.” Duloh membagakan kekereannya.
“Kok aku, toh? Memang situ saja yang kere? Aku juga kere. Makanya aku mau bergabung di Komunitas Serabi Jenggot ya karena aku tahu isinya orang-orang kere.” Wekape tak mau kalah.
“Terus, acaranya apa saja?”
“Katanya sih, ngopi sekembungnya. Menurut kabar, kopinya dari seluruh belahan nusantara ini.”
“Wah, beneran nih?”
“Ya.”
“Kopi Bali, ada?”
“Ada.”
“Lampung?”
“Ada.”
“Aceh?”
“Ada.”
“Palembang?”
“Ada.”
“Papua?”
“Ada.”
“Tora..”
“Crigis! Mau ikut, tidak?”
“Ikut!”
“Tapi jangan memalukan jika ada di sana. Meskipun pesertanya disuruh ngere, yang datang bukan orang sembarangan.”
“Maksudmu paranormal?”
“Wow, dasar kere! Ya ndak, lah. Katanya, mereka yang datang itu dari beragam profesi.”
“Kok, katanya?”
“Hla memang katanya. Aku sendiri kan bukan panitia, tahunya juga dari membaca informasi yang ada di ngopikere.gunungkelir.com.”
“Acaranya diadakan di mana?”
“Di lereng Bukit Menoreh. persisnya di Gunung Kelir, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.”
“Bukit Menoreh? Wah, aku harus ikut. Tidak boleh tidak.”
“Memang ada apa dengan Bukit Menoreh?”
“Mau tapak tilas tempat para pendekar di cerita silat yang pernah aku baca dulu. Judulnya Api di Bukit Menoreh.”
“Kemlinthi! Nanti juga akan ada wisata ke Gua Seplawan. Coba saja kelayapan di dalamnya. Siapa tahu nemu pusaka Naga Sasra dan Sabuk Inten. Kalau ndak kesasar.”
“Asyik. Terus, kapan acaranya?” Duloh semakin tertarik.
“Dari tanggal 10 sampai 12 bulan ini.”
“Sekarang sudah tanggal tujuh. Berarti empat hari lagi, dong?”
“Makanya segera cari tiket bis atau kereta.”
“Segera.”
“Panitianya juga bilang nanti akan ada penjemputan peserta di dua titik yaitu di Yogyakarta dan Purworejo. Yang di Yogyakarta, titik penjemputannya di kantor Infest Umbulharjo. Untuk Purworejo, peserta akan dijemput di alun-alun Kota Purworejo tepatnya di depan Masjid Agung Purworejo.”
“Siap.”
“Aku ikut, lho.” Wekape mengingatkan.
“Siap.”
“Sekalian titip beli tiket.”
“Siap.”
“Aku dibayari, kan?”
“Si… Ogah! Bayar sendiri!”

Duloh segera menelpon temannya yang kerja di agen bus. Sesaat kemudian, matanya berbinar, senyumnya mengembang. Kepalanya mengangguk-angguk sementara telepon genggam masih menempel di telinganya. Sekali-sekali dia bilang ‘sip’ atau ‘siap’ menanggapi suara temannya di telepon.

“Untung kita punya teman Hohah. Ada dua tiket bus tujuan Yogyakarta berangkat tanggal sembilan pukul tiga sore untuk kita. Setelah dapat diskon khusus, kita hanya diminta membayar Rp 53.000 per tiketnya. Sip. Mari kita sesap nikmatnya #NgopiKere.”
“Asyik.”
“Asyik, asyik. Uangnya mana?”
“Utangi dulu, deh.”
“Wow! Kere!”

Sumber gambar: @mataharitimoer

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here