>Jangankan manusia, hewan saja punya nepsong (maksudnya nafsu). Siapapun manusianya, pasti ada nafsu di dalamnya. Begitu juga saya, ada nafsu yang berbuncah-buncah dalam diri saya ini. Rasanya sudah tidak tahan dan tidak sabar untuk menyalurkannya. JANGAN NGERES DULU! Saya ini kan, ehm, orang baik-baik, jadi tidak mungkinlah kalau memiliki niat yang macem-macem. Pengen tahu nafsu saya itu? Saya akan ceritakan untuk anda.

Yang ini bukan nafsu yang mengilhami saya untuk menulis di sini, tapi saya anggap perlu untuk dituangkan biar anda juga tahu. Nafsu itu, atau rencana, atau target, adalah ingin bisa membuat lima tulisan dalam blog setiap bulannya. Sayangnya, karena ada nafsu lain yang menggebu-gebu yang akan saya ceritakan nanti, target itu tidak kesampaian. Hanya tiga tulisan yang berhasil saya buat. Gara-gara nafsu liar itulah saya jadi terninabobokan dan abai dengan nafsu saya dalam menulis. Huah… kecewa juga sih. Tapi dikit. Tenang ajaaa…

Sudahlah. Biarkan kejadian itu terlewatkan. Namun demikian saya tidak mau berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Bukan masalah keengganan membuat janji, tapi bagi saya, janji adalah sebuah komitmen yang harus ditepati, meskipun terhadap diri sendiri. Tabu buat saya untuk ingkar dengan komitmen. Bila itu yang terjadi, artinya saya satu langkah mundur ke belakang dalam menapaki jalan berliku kehidupan ini. Dengan demikian, kan jadi tidak sampai-sampai langkah saya menuju kehidupan yang lebih berkualitas? Kok rasanya jadi agak berat gini ya?

Apa yang terjadi bila kita ini tidak punya nafsu? Pasti seperti kuda yang ngambek jalan. Nafsu itulah yang menjadi motivasi kita untuk bergerak. Dialah mesin pendorong kehidupan ini. Betul nggak? Ya sudah tidak apa-apa jika anda tidak setuju dengan saya. Saya hargai argumen anda, tapi nggak perlu diperdebatkusirkan di sini kan?

Sekarang saya ceritakan nafsu liar yang memporak-porandakan nafsu saya yang lain. Coba anda bayangkan betapa kuatnya nafsu itu. Saya yang biasanya membuat lima tulisan blog dalam sebulan meskipun kadang-kadang hanya sepenggal-sepenggal dulu, bulan kemarin hanya membuat tiga. Dalam sebulan biasanya saya melahap habis beberapa buku, membacanya sampai tuntas, sekarang tidak satupun, sekali lagi, tidak satupun buku selesai saya baca. Luar biasa! Betapa ampuhnya sebuah nafsu mempengaruhi manusia yang penuh nafsu ini.

Nafsu hebat saya itu adalah membuka sebuah usaha. Bukan keinginan membuka usaha lho. Kalau baru tataran keinginan, itu artinya sama seperti yang dulu-dulu saya lakukan. Hanya berencana dan mengumpulkan ide-ide tanpa ada aksi nyata yang saya kerjakan. Saya harap nafsu saya ini akan terus menjerumuskan sampai saya benar-benar melakukan ACTION. Saya rela kok didorong kuat-kuat oleh nafsu saya ini. Sampai babak-belur sekalipun. Tentu saja saya tidak berdoa supaya jadi babak-belur. Tetapi bila terpaksanya saya harus seperti itu, saya akan hadapi.

Mengapa saya ceritakan semua ini ke anda? Tidak lain adalah agar anda tahu apa yang menjadi obsesi saya. Dengan anda mengerti nafsu saya itu, saya berharap anda juga mendoakan saya untuk menyalurkan nafsu bin merealisasikan apa yang amat sangat membebani secara nikmat pikiran saya itu. Kan katanya dengan makin banyak yang mendoakan, makin mudah jalan kita menuju yang kita inginkan? Bila anda pembaca yang baik, tolong doakan supaya saya berhasil mewujudkan nafsu saya itu. Jika anda pembaca yang jahat sekalipun, cobalah sekali ini menjadi orang baik dengan mendoakan kesuksesan saya. Bila nafsu saya ini terwujud, saya akan undang anda (bila mau tentu saja) untuk ikut mencicipi manisnya buah nafsu saya itu, kalau perlu gratis.

Tidak usah khawatir, buah nafsu saya ini, insyaAllah, halal kok. Cuma sekarang belum bisa saya ceritakan secara detail. Saya janji akan menuliskannya lagi nanti setelah semua itu terwujud. Oh ya, tujuan saya menuliskannya di sini selain mengharapkan doa anda juga agar saya semakin terbebani dan merasa bahwa saya memang harus benar-benar merealisasikan dengan serius. Kan malu bila sudah berkoar-koar seperti ini kemudian tidak ada hasilnya. Orang bilang banyak guntur kurang hujan. Saya ingin seperti ayam betina yang habis bertelur. Tahu kan kelakuan dia setelah bertelur? Dia akan teriak-teriak karena telah berhasil mengeluarkan telur. Kalau saya harus berteriak-teriak, itu saya lakukan karena telah berhasil menelurkan nafsu saya itu. Tetapi mengapa saya teriak-teriaknya sekarang? Tidak lain adalah agar anda tahu nafsu saya itu.

Jadi, siapkah anda berdiri berbaris di belakang saya sambil mendoakan saya? Bagus. Anda memang teman-teman baik saya semua. Terima kasih atas kesediaan anda mau melakukan itu. Apapun jawaban anda, bagi saya anda rela dan senang hati mau melakukan itu.

Dan anda juga jangan heran bila satu tahun ke depan muncul sebuah usaha yang menarik perhatian banyak orang, bukan hanya di Bogor tapi kota-kota lain di Indonesia, dan mungkin juga luar Indonesia. Yakinlah, usaha itulah yang saat ini sedang anda doakan untuk bisa saya wujudkan. Anda boleh menuntut bagian anda atas doa yang sudah anda sumbangkan itu. Ada kompensasi yang akan anda terima nanti.

Ambisius ya? Itulah nepsong, dialah nafsu. Seperti itulah kira-kira bila orang bernafsu. Makanya kadang-kadang nafsu itu seperti orang buta yang ikut lomba lari. Keinginannya luar biasa. Tidak peduli nantinya akan membuat dia kejeblos lobang atau tersangkut akar pohon yang melintang di lintasan lari yang akan dia lewati.

Sayakah orang buta itu? Tidak. Saya tidak ingin menjadi orang buta itu, tapi saya ingin seperti si buta yang ikut lomba lari itu. Maksudnya, saya ingin meskipun buta, ada nafsu besar yang saya miliki, ada semangat yang membakar, motivasi yang tidak pernah padam, sehingga saya tidak pernah berhenti dan tidak akan pernah menyerah. NEVER GIVE UP coy

Anda sendiri bagaimana? Mau bila tidak memiliki nafsu? Jika mau, matilah anda. Nafsu memang kedengarannya negatif dan liar. Barangkali!

SHARE
Previous article>Liar
Next articleLagi, di Pondok Halimun

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here