musuh harus dicariJangan ditanggapi serius dengan kata-kata yang saya jadikan judul itu. Kalimat sebenarnya sih ‘musuh jangan dicari ketemu musuh jangan lari’. Namun mungkin saja ada orang yang mempraktekkan judul tulisan ini. Manusia tengil dan pengecut saya rasa penganut ‘aliran’ ini. Begitukah?

Ide tulisan ini muncul ketika tulisan yang berjudul The Power of Giving ditanggapi seorang teman yang menggunakan nama aming. Terus terang saja komentarnya menarik bagi saya. Apa yang dia tuliskan dalam komentarnya yang singkat itu langsung saya iyakan. Memang seharusnya demikian bila berkaitan dengan musuh. Seandainya memang dengan terpaksa muncul musuh maka janganlah kita lari menghindar. Kita harus berani menghadapi apapun resiko yang bakal terjadi. Lebih-lebih jika musuh itu muncul karena kekeliruan yang kita perbuat. Bukan hanya sekedar tidak lari tetapi kita harus secara jantan mengakui kesalahan itu. Dan, ini yang tidak kalah penting, kita harus dengan rendah hati meminta maaf. Itu bila wujud musuh kita manusia. Memang ada musuh yang berujud bukan manusia? Banyak!

Yang namanya musuh tidak melulu berujud manusia. Mungkin saja musuh kita berujud lain. Bukan jin, tuyul, kuntilanak, gandaruwo, pocong, dan sejenisnya yang saya maksudkan. Namun bila anda menganggap mereka itu musuh anda ya silakan. Saya tidak akan ikut campur. Saya tidak mau melibatkan segala bentuk yang berbau mistik dan klenik itu meskipun pada kenyataan mereka masih subur hidup di negeri ini. Apalagi media semacam televisi dan bioskop gencar memproduksi paket acara dan menayangkan hal yang nggak masuk akal tersebut, makin berjaya deh. Bila ada yang senang berkutat dengan dunia yang satu ini, biarlah. Itu urusan mereka dan itu bukan dunia saya.

Ya, bukan hanya wujud manusia yang dapat menjadi musuh. Kemiskinan dan kebodohan adalah dua contoh musuh yang tidak berbentuk manusia dan kebetulan yang ini justru memang harus dimusuhi. Bukan hanya dinanti kehadirannya tetapi kemiskinan dan kebodohan harus dicari untuk dihadapi dan dibasmi.

Mengaitkan kemiskinan sebagai musuh yang harus diberantas dengan negara tempat kita tinggal, rasanya jadi aneh. Negeri kita ini dibilang miskin, nggak benar juga. Banyak mobil mewah, rumah megah, dan pusat perbelanjaan yang gampang kita temukan dan terus bermunculan di mana-mana. Dikatakan kaya, nggak juga. Tidak sedikit kita temukan kaum miskin dengan kondisi rumah dan kehidupannya yang memprihatinkan di negara ini. Kalau begitu, apa artinya? Gap atau kesenjangan antara si kaya dan si miskin masih sangat lebar! Itulah kesimpulan yang bisa kita ambil. Hal ini juga menunjukkan adanya distribusi pendapatan yang tidak merata. Kelompok kaya begitu melimpah dengan kekayaannya sehingga menjadi golongan mustahil bagi kelompok miskin. Yang miskin begitu merananya sampai-sampai dianggap semacam koreng yang perlu dijauhi oleh si kaya. Dua kutub kaya-miskin ini begitu jauhnya sehingga saat Rhoma Irama puluhan tahun lalu menggambarkannya dalam lirik lagu yang dia ciptakan, sampai sekarangpun lirik tersebut masih relevan dengan kondisi yang ada, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Kebodohan di negeri tercinta ini juga bisa dibilang masih banyak meskipun tidak sebanyak dulu. Meskipun kebodohan merupakan musuh yang harus dibasmi, sayangnya upaya membuat tetap bodoh atau menjadikan bodoh yang saya istilahkan dengan pembodohan masih saja dilakukan. Apa contohnya? Ya program acara televisi yang isinya hantu-hantuan atau film bioskop yang peran utamanya semacam kuntilanak itulah. Barangkali anda tidak sependapat dengan saya bahwa acara yang menyajikan dunia mistik dan klenik itu merupakan pembodohan penonton. Nggak apa-apa. Silakan saja. Celakanya lagi, orang-orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan juga melakukan tindakan yang saya kategorikan sebagai pembodohan juga. Kasus nyontek massal di Surabaya yang disangkal padahal pelakunya mengakui sendiri, ujian nasional yang dianggap cacat hukum tetapi tetap ngotot diadakan, adalah contoh-contoh dari sebuah pembodohan.

Melihat kondisi yang ada di negeri ini, ternyata kita tidak perlu mencari musuh yang namanya kebodohan dan kemiskinan. Mengapa harus dicari jika mereka ada di sekeliling kita? Dan jangan kemudian lari jika anda tahu mereka telah mengelilingi anda. Bila anda seorang penguasa yang memiliki otoritas, ini kesempatan baik buat anda. Cari mereka dan habisi! Jangan malah bertindak seperti yang disarankan oleh judul di atas. Saya rasa bukan hanya saya tetapi banyak, banyak dari rakyat negeri kaya raya dan subur makmur ini yang mendukung anda bila anda sebagai pejabat negara mau menggunakan kekuatan dan kekuasaan anda untuk membasmi musuh nomor satu tersebut. Bukankah begitu saudara-saudara?

Sumber gambar: di sini

3 COMMENTS

  1. @Miss Chusy: Yuhuuuuuuuuuuuuuyyyyyyyyyyyy…… jugaaaaaa 😎
    @Septi: hnah itu repotnya Sep… dunia pendidikan kita bener2 dalam lingkaran setan jika yg ngurusin masih setan 😉

  2. Siip pak… memang 2 musuh tersebut harus benar-benar kita singkirkan dari dunia ini. tapi yg jadi persoalannya, pihak-pihak yg trkait tdk membantu untuk membasminya malah sebagian “mendukung”. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here