mulailah makan sepatuSoto, banyak orang suka. Sepatu, banyak orang punya. Soto untuk dimakan, sepatu untuk dipakai. Bila hanya soto yang biasa anda santap, mulai sekarang, belajarlah makan sepatu.

Nggak usah bingung dan berburuk sangka dulu. Ini bukan cerita kuliner atau kisah sepatu dari kaca. Saya juga tidak berbuat yang aneh-aneh. Jika saran saya anda anggap tidak wajar, saya maklum. Memang orang makan sepatu itu tidak umum. Namun saya berani jamin, setelah baca tulisan ini sampai selesai, anda pasti akan mau makan sepatu. Apalagi jika anda penggemar sepatu, pasti anda akan ngiler begitu membayangkan akan makan sepatu. Tanpa saya suruhpun, anda akan mencari-cari sepatu di setiap sudut di kota anda untuk dimakan.

Beberapa waktu lalu, saya pernah memperbaharui status di dinding Facebook saya. Yang saya tuliskan di dinding tersebut tentang kesepakatan dalam berbahasa. Ya, bahasa itu sebuah kesepakatan, hasil suatu konsensus. Suka atau tidak, kita harus patuh dengan kesepakatan dalam bahasa tersebut. Memang, kadang-kadang sebagian dari kita mempertanyakan kesepakatan itu. Apalagi bagi orang-orang kreatif dan kritis. Mengapa kok seperti itu? Kenapa kok tidak begini? Apapun pertanyaan, ujung-ujungnya tetap harus tunduk dengan aturan berbahasa yang ada bila ingin diterima dan dimengerti oleh komunitas pengguna bahasa itu.

Banyak jenis bahasa yang digunakan di dunia. Hitungannya bisa ribuan bahkan mungkin saja puluhan sampai ratusan ribu. Itu bila dialek juga dihitung. Belum lagi bahasa tulis semacam Bahasa Alay yang merupakan produk budaya pop yang memusingkan itu. Coba saja anda perhatikan bahasa yang sedang anda pergunakan. Berapa bahasa yang anda kuasai untuk menyampaikan isi kepala dan isi hati anda? Saya yakin anda pasti punya lebih dari satu, minimal dua.

Dari bahasa yang anda miliki itu, variasinya (dialek) pasti banyak. Kita ambil satu saja, bahasa ibu. Apa bahasa ibu anda? Oke, Sunda misalnya. Ada banyak kita temukan dialek bahasa Sunda. Dialek Bandung, Cianjur, Bogor, dan lain-lain, anda yang orang Sunda pasti tahu lebih banyak dan lebih baik dari saya. Di Bogor sendiri saja bahasa Sunda yang digunakan orang dari wilayah Bogor Barat semacam Leuwiliang, Jasinga dan sekitarnya dialeknya berbeda dengan Bogor Kota.

Tentang bahasa ibu, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki bahasa ibu. Manusia yang terlahir dan dibesarkan oleh binatangpun akan mempunyai bahasa ibu. Entah itu berupa auman serigala seperti yang dipertunjukkan manusia yang ditemukan di India atau daerah mana yang pernah saja baca di koran, atau berupa rintihan yang tidak jelas. Dengan bahasa ibu inilah kita kemudian berkomunikasi dengan lingkungan kita. Bahasa ibu itu menjadi jembatan interaksi antar penggunanya. Dengan demikian, otomatis sebuah kesepakatan terbentuk karenanya.

Beberapa waktu yang lalu, seorang tetangga sedang mengambil buah yang seumur-umur baru saya lihat. Ketika saya tanyakan nama buah itu katanya buah Picung. Saat itu saya hanya bilang ’Ooh’ meskipun sebenarnya saya tidak tahu. Saya tidak mau mengganggu dia dengan banyak bertanya. Setelah bisa akses internet, barulah saya cek padanan kata buah Picung yang ternyata mengandung racun mematikan sianida (hydrogen cyanide). Di tempat anda, buah itu barangkali disebut Kluwak, Kluwek, Keluak, Pucung, Payang, Kepayang, atau apapun. Mengapa beda tempat beda nama? Itulah sebuah kesepakatan. Jika anda di Bogor, apalagi di pedalamannya, mungkin orang akan bingung bila anda menyebut Keluak, bukan Picung. Boleh-boleh saja kita menggunakan bahasa kita sendiri di tempat lain tetapi siap-siap saja dengan akibatnya. Bisa jadi anda akan dianggap orang yang tidak bisa mengerti dan dimengerti. Anda telah melanggar kesepakatan.

Jika yang kita pakai di kaki ini disepakati namanya sepatu, jangan coba-coba menyebutnya soto. Orang akan memandang anda dengan tatapan bingung dan curiga atas kewarasan otak anda. Namun boleh saja seandainya anda ingin membuat kesepakatan dengan saya untuk menyebut soto dengan sepatu. Dengan demikian, bila tiba-tiba anda berkata ingin menelan sepatu untuk memanjakan lidah, saya tahu apa yang anda maksud. Saya akan dengan senang hati mentraktir anda makan sepatu.

Bila anda sekarang belum terbiasa menyantap sepatu, mulailah makan sepatu untuk menikmati kelezatannya. Ada banyak jenis sepatu di negeri ini yang bisa anda coba: sepatu Lamongan, Banjar, Sukaraja, Bandung, Padang, dan lain-lain. Silakan anda cicipi satu-satu.

Sudah? Mana yang rasanya lebih nendang?

Sumber gambar: di sini

20 COMMENTS

  1. Wah cian juga hehe, kalo di Bogor dimana ya yang ada sepatu tangkar? Om gak tau cih, soalnya dulu tuh pernah nyoba karena deket rumah ada yang jualan. tapi untuk sepatu yang lain om kalah banyak…. hehe pish ah biyar gak selek 🙂

  2. Sepatu buatan Ibuku yang enak, tapi yang sepatu lamongan pernah nyoba, enak juga. Entuh juga sepatu tangkar Pak wuenak tenan, pernah nyoba belum Pak.

  3. @Awam: saya pernah nyoba sepatu sokaraja waktu mau ke temanggung, tapi neg banget karena pake bumbu kacang. apa karena nggak terbiasa kali ya 😉
    @achoey: untung istrinya masih waras ya hehhe…
    @Miftahgeek: sy jg suka yang itu Mif
    @PeGe: kapan2 sy dibagi ya 😉
    @Ajeng Sari Rahayu: hiya setuju, sy pernah makan sepatu banjar waktu di surabaya. btw, pake nama sendiri ni skg? 😉
    @unggulcenter: udah kan? 😉

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here