mudik lebaranSebuah fatwa dikeluarkan, oleh mereka yang menganggap dirinya paling berwenang. Isinya tentang larangan pulang kampung atau mudik. Dinyatakan bahwa mudik haram hukumnya untuk dilakukan. Bagaimana tanggapan Anda?

Hal yang mendasari dikeluarkannya fatwa tersebut ada beberapa. Mudik diharamkan karena membuat macet di semua jalan. Mudik menyebabkan terjadinya pemborosan uang untuk belanja barang konsumtif dan biaya transportasi, bahkan sampai harus berhutang. Mudik juga bisa menimbulkan kecemburuan sosial di kampung halaman pemudik. Kepulangan mereka ke kampung halaman menjadi kesempatan untuk ajang pamer kesuksesan yang telah diraih. Selain itu, para pemudik yang sebagian bekerja sebagai pembantu rumah tangga akan membuat repot majikannya bila mereka tidak ada. Saat kembali, sebagian pemudik membawa serta saudara dan kerabatnya. Karena alasan-alasan itulah fatwa mengharamkan mudik kemudian dibuat.

Kita mungkin akan marah dalam menanggapi fatwa yang mengada-ada itu. Wajar bila emosi langsung menggelegak karenanya. Tradisi yang sudah berlangsung lama tiba-tiba menjadi terlarang karena diharamkan. Di sisi lain, kita juga akan maklum bila mudik diharamkan dengan dasar hal-hal yang memang masuk akal tersebut. Apa yang disampaikan di atas memang benar adanya. Macet, pemborosan, penumpukan hutang, kecemburuan sosial, kerepotan majikan yang ditinggal pembantunya, dan migrasi merupakan fakta yang terjadi di setiap acara mudik setiap tahun.

Untungnya fatwa mengharamkan mudik tersebut sekadar berandai-andai. Tapi siapa tahu nanti benar-benar terjadi? Who knows? Negara ini kan penuh peristiwa ajaib. Andai pun terjadi, berani taruhan, pasti fatwa itu akan diabaikan oleh mayoritas atau bahkan oleh semua pemudik. Pulang kampung saat lebaran urusannya bukan hanya sebatas nalar tapi sudah menyangkut emosi. Kita semua tahu, antara nalar dan emosi itu urusannya masing-masing. Ada kalanya tak gampang mengakurkan mereka, apalagi untuk urusan mudik. Jika emosi sudah ambil bagian, akal sehat tak akan berfungsi. Siapa yang bisa mendebat menggunakan akal ketika seorang pemudik mau berberat-berat diri membawa barang yang sebenarnya ada dan bisa dibeli di kampung atau kota asalnya? Bukan masalah oleh-oleh itu dapat diperoleh di kampung halamannya, tetapi muatan emosi yang ada di dalamnya karena dibawa dari kota besar tempat dia merantaulah yang membuatnya mau melakukan itu.

Saya yakin kalau pun pemudik dianggap sebagai pendosa, mereka pasti lebih memilih berdosa asal bisa pulang ke kampungnya untuk berlebaran. Hati, emosi, dan kenangan mereka sejatinya memang tertinggal di daerah asal, bukan di kota besar tempat mereka mengais rejeki. Jadi, jika kita menyaksikan saudara setanah air kita berbondong-bondong melakukan migrasi di saat lebaran, itulah bentuk ritual tahunan yang pasti dijalankan dan merupakan keniscayaan bukan berlandaskan pikiran. Tak peduli seandainya fatwa mengharamkan rutinitas itu dikeluarkan.

Selamat mudik saudara-saudaraku. Selamat berlebaran di kampung halaman.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here