misteri di gunung pongkorPERINGATAN

Ini merupakan cerita rekaan. Bila ada kesamaan nama tokoh atau tempat, itu hanya sebuah kebetulan. Selain itu, jika usia anda di bawah 17 tahun, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini karena ada unsur kekerasan dan hal-hal yang mengerikan. Bila anda tidak mematuhi, resiko ditanggung sendiri.

***

Chain Posting adalah permainan menulis gaya blogger Bogor (blogor). Setiap blogger yang terlibat dalam permainan ini diharuskan melanjutkan postingan yang dibuat oleh blogger sebelumnya. Tulisan ini adalah kelanjutan dari postingan yang dibuat oleh Anka di mana tulisan dia adalah terusan dari postingan yang dibuat MT. Yang akan melanjutkan tulisan ini nanti adalah Falla kemudian Akhdian. Grup ini berkisah tentang hal-hal unik/mitos di Bogor. Selamat menikmati.

***

Rumah besar bercat putih itu bernomor 13. letaknya di ujung Jalan Cikuray. Halamannya menghampar sangat luas. Rumput gajah hijau segar menutupi hampir seluruh halaman. Beberapa pohon kenari besar terlihat di sepanjang pinggirannya. Di tengah halaman terdapat pohon durian tua. Pohon itu merupakan satu-satunya pohon buah yang ada di halaman yang begitu luas.

Tidak ada yang istimewa dengan pohon durian tua itu bila hanya melihat wujudnya. Namun di balik wujud yang biasa itu, ada cerita yang sangat dikenal oleh masyarakat sekitar rumah besar itu atau orang-orang Bogor pada umumnya. Cerita yang kemudian menjadi mitos itu terkait dengan seorang gadis bernama Intan Ayu. Gadis cantik bergaun hijau itu kerap kali menampakkan diri di bawah pohon durian tua yang ada di tengah halaman rumah besar yang dibangun di masa Belanda masih menduduki Indonesia termasuk Bogor. Intan Ayu sering terlihat berbaring atau kadang-kadang duduk di atas rerumputan terutama malam Jum’at Kliwon. Karena kebiasaannya berada di atas rumput dan warna gaunnya, orang-orang kemudian menyebutnya Gadis Rumput. Mereka lebih mengenal sebutan itu daripada nama Intan Ayu sebagaimana disampaikan mang Odang si penjaga rumah.

***

Hari ini mang Odang jadi sibuk. Kemarin pemilik rumah yang dia jaga mengabarkan keponakannya, Dani, serta dua temannya Budi dan Jaja akan datang. Mereka ingin berlibur di kota hujan nan sejuk itu. Rencananya mereka akan mengunjungi Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Tidak ketinggalan juga, wisata kuliner ada dalam daftar kegiatan selama liburan di Bogor.

Mang Odang yang diserahi tanggung jawab menjaga dan merawat rumah besar peninggalan Belanda itu tanpa mengeluh segera menyiapkan kamar yang akan ditempati Dani dan dua sahabatnya. Meskipun mang Odang setiap hari membersihkan rumah besar itu, dia sendiri tinggal di paviliun yang ada di sampingnya. Rumah besar yang menjadi rumah induk tersebut tidak pernah dia tempati meskipun hal itu mungkin saja dilakukan jika dia mau. Dia lebih suka duduk di kursi goyang sederhana di teras paviliun setelah beres-beres meskipun di teras rumah induk juga ada kursi goyang yang lebih bagus dan lebih besar. Kesederhanaan hidup mang Odang tidak terpengaruh kemewahan klasik yang dipunyai rumah besar yang menjadi tanggung jawabnya.

***

Udara pagi kota hujan begitu sejuk. Meskipun tidak sedingin sepuluh tahun lalu, segarnya udara Bogor masih terasa. Pagi itu gerimis turun, meyakinkan para pendatang bahwa tidak salah Bogor disebut kota hujan. Dani duduk di kursi goyang yang ada di rumah induk. Badannya bersih, bajunya wangi parfum. Kamera DSLR D60 ada di tangannya. Hobi fotografinya membuat dia tidak gampang dipisahkan dari kamera digital standar fotografi kesayangannya itu. Sambil menunggu Budi yang lagi mandi dan Jaja yang sedang ganti baju setelah mandi, Dani melihat-lihat kembali foto-foto wisata kuliner tadi malam yang masih tersimpan dalam memori kamera. Dia sesekali tersenyum saat melihat pose lucu dari kedua sahabatnya yang dia ambil tanpa sepengetahuan mereka.

”Senyum-senyum sendiri kayak orang sedeng (gila) lu.” Tiba-tiba Jaja sudah ada di dekatnya. Karena asyik mengamati hasil jepretannya semalam, Dani tidak sadar sahabatnya itu sudah berdiri di sebelahnya.

”Bagaimana kabar Budek bro?” Dani tidak menanggapi ledekan Jaja. Dia lebih tertarik dengan perkembangan Budi yang oleh mereka berdua dipanggil Budek. Insiden semalam membuatnya lebih peduli dengan sahabat satunya yang saat ini sedang mandi.

Noh, lagi mandi orangnya. Dia sih mandinya seperti cewek. Lama. Semua digosok. Seluruh tubuhnya disikat. Mungkin saja sekarang lagi luluran.” Jaja menjawab pertanyaan Dani.

”Mending dia daripada lu. Mandinya cuma sekedar basah, memenuhi syarat doang. Gue curiga jangan-jangan suara air yang terdengar tuh bukan mengguyur ke tubuh lu, tapi lu lempar-lemparin ke dinding kamar mandi biar kesannya lu sedang mandi. Mendingan lu tayamum aja sekalian Jay. Cocok dengan nama panggilanmu yang Jijay itu.” Dani meledek.

”Enak aja! Lu juga Dan. Bau wangi parfum lu kan buat nutupin cara mandi lu yang tidak bener. Masak baru masuk kamar mandi sebentar sudah keluar lagi? Mandi apaan tuh? Kapan mandinya?”

Mereka tertawa.

”Sudahlah, sesama bis kota dilarang saling ngecengin,” Dani mengajak damai.

”Eh Jay, denger-denger Intan Ayu alias Gadis Rumput yang semalam diceritakan Budek matinya bukan gantung diri, tapi gara-gara keracunan cimol yang dibeli di PP ya?”

”Ah, mana mungkin? Emang waktu itu sudah ada yang jual cimol di PP?” Jaja balas bertanya.

Mene ketehe,” jawab Dani. ”Gue taunya juga dari orang yang duduk di sebelah gue saat semalam kita nongkrong di kafe Hayam Tunduh yang di Jalan Binamarga itu.”

”Lagian semalam setelah dari kafe itu kan kita beli cimol PP juga? Rasanya enak. Tidak beracun. Buktinya kita masih bernafas sekarang? Sudahlah, nggak usah percaya gosip.” Jaja menyudahi.

Dani kembali sibuk dengan kameranya. Gerimis pagi itu menarik dia mengambil beberapa gambar. Potret gerimis selalu memikatnya. Sementara itu Jaja duduk tenang di sebelahnya, mengamati cara dan gaya sahabatnya memotret.

”Hai Bidan,” itu nama panggilan Dani yang sering diteriakkan kedua sahabatnya, ”jadi nggak nih nemuin mang Odang pagi ini?” tanya Jaja.

”Jadi dong. Kan masih nunggu si Budek mandi? Lama amir sih. Jangan-jangan koit di kamar mandi.” Dani menjawab pertanyaan Jaja tanpa menoleh. Matanya masih memelototi layar LCD kameranya.

”Budek! Buruan dikit napa!” omel Jaja sambil masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.

Tidak terdengar guyuran atau suara air. Pintu kamar mandi masih tertutup rapat. Jaja mengetuk. Tidak ada jawaban.

”Budek! Keluar lu!” teriak Jaja sambil menggedor pintu, bukan mengetuk lagi. Tidak terdengar suara Budi menjawab. Jaja kemudian ke kamar tempat mereka bertiga tidur. Barangkali sahabatnya itu sedang ganti baju dan sengaja membiarkan dirinya teriak-teriak di depan kamar mandi. Kamar tidur kosong. Baju Budi yang rencananya mau dipakai hari ini masih terlipat rapi di atas tempat tidur yang masih berantakan. Dia tadi menaruhnya di tempat itu sebelum masuk kamar mandi. Jaja tahu persis karena dia ada di kamar tersebut sedang ganti celana saat Budi menaruh bajunya itu. Ke mana Budi?

Jaja berjalan pontang-panting ke teras. Dia hendak mengabarkan perihal hilangnya Budi ke Dani. Gerimis sudah berubah menjadi hujan. Langit menjadi gelap. Mendung tiba-tiba saja menggumpal dan berkelindan di atas kota Bogor. Jaja melihat Dani masih asyik memotret. Rupanya semua obyek bisa mengulik nurani fotografisnya. Bukan hanya gerimis, hujan lebat dan mendung menghitam juga sangat menarik di matanya. Lagi, Dani tidak peduli dengan kedatangan Jaja meskipun dari sudut matanya dia melihat si Jijay tergopoh-gopoh panik.

Belum sempat Jaja mengeluarkan suara, tiba-tiba terdengar teriakan ketakutan. Budi lari sipat kuping menghampiri kedua sahabatnya. Badannya belepotan buih sabun. Rambutnya penuh busa sampo. Selembar kain pel warna biru melilit di pinggang. Kain pel itu terlalu kecil buat pinggangnya yang lebar sehingga satu tangannya harus mencengkeram kedua ujungnya agar tidak merosot. Budi tidak peduli dengan penampilannya. Kejadian di kamar mandi tadi membuat otaknya tidak bisa berpikir. Yang terpikirkan hanyalah segera keluar dari kamar mandi. Masih untung tangannya sempat menggaet kain pel yang menjadi keset kaki di depan pintu kamar mandi.

”Ad..ad..ad..addd..addd..dadada..adddaaa… in..in..innn.. intan.. di..di..di.. kam…kam.. kampret.. ah… kam..kam..kammmarrr… mandiiiiiiiiii…” Badannya gemetar hebat seperti terserang malaria saat Budi bicara di hadapan Dani dan Jaja.

”Tarik nafas Bud, tarik napas.” Jaja menenangkan.

”Apa yang terjadi Budek?” Dani menimpali omongan Jaja.

Setelah diam sejenak dan menarik nafas panjang beberapa kali, Budi mulai tenang. Nafasnya sudah tidak tersengal-sengal lagi. Budi terlihat menggerakkan mulut hendak bicara ketika terdengar suara menggelegar di udara.

”DUARRR!!!” Cahaya terang memenuhi angkasa. Bogor mulai memperlihatkan wujud aslinya. Budi melompat ke pelukan Jaja yang ada di depannya. Dia lupa dengan kain pel yang harus dipegangi. Secara reflek Jaja menangkap dan membopong Budi seperti bayi. Budi meringkuk di pelukan Jaja sahabatnya. Telanjang bulat.

misteri di gunung pongkor”Najis!” Jaja mengumpat sambil melempar Budi saat dia sadar siapa yang dia bopong. Dia shock berat. Seekor bayi kuda nil hitam belang-belang telah menodai kesuciannya. Untung kedua kaki bayi itu yang menapak ke lantai terlebih dahulu, bukan kepalanya. Kain pel yang menggumpal di sebelahnya segera dia sambar dan dililitkan ke pinggangnya kembali. Badan dan rambutnya masih belepotan busa sabun dan sampo.

”Sori Jay. Sebagai master martial art, reflek gue langsung on gara-gara geledek sialan tadi.” Masih bisa berlagak juga si Budek ini.

”Emang tadi lu ngomong apa? Ada kampret segala.” Dani kembali bertanya.

”Ada intan di cermin kamar mandi.” Budi sudah bisa menjawab dengan tenang dan lancar.

”Asyik dong nemu intan. Bisa kaya kita,” kata Jaja dengan wajah polos namun jelas terlihat masih shock akibat peristiwa menjijikkan beberapa menit yang lalu.

”Asyik bacot lu!” sambar Budi. Nampaknya dia belum bisa melupakan kedzoliman Jaja membuang tubuh telanjangnya. ”Maksud gue Intan Ayu. Si Gadis Rumput itu, dodol!”

”Serius?” Dani nggak percaya.

”Serius!”

”Bener?” Jaja menambahi.

”Bodo!”

***

Langit pagi Bogor semakin gelap. Hujan lebat yang tercurah diselingi pendar sinar dari kilat yang sambung-menyambung laksana urat syaraf cahaya. Rumah besar milik paman Dani menjadi temaram. Padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan. Seharusnya saat itu hari sudah terang. Pesan pamannya sebelum Dani berangkat ke Bogor terbukti sekarang. Kadang-kadang Bogor menjadi gelap karena mendung. Semua lampu di rumah besar kemudian dinyalakan, termasuk yang ada di teras. Sementara itu, paviliun tempat mang Odang tinggal terlihat gelap. Tidak ada satupun lampu yang nyala.

Budi akhirnya meneruskan mandi dan keramas, tapi bukan di kamar mandi. Dia ngotot mau mandi di kran air untuk menyiram tanaman di samping rumah induk. Repotnya lagi, dia minta dimandiin dengan alasan masih shock. ”Pliiisss… pliiiss… pliiisss…” rengeknya kekanak-kanakan. Budi tidak sudi ketemu lagi dengan Gadis Rumput di kamar mandi. Meskipun cewek jelita, dia tidak bisa diajak bercengkerama di alam fana. ”Nehik kalo disuruh ke kamar mandi lagi!” Begitu katanya. Barangkali yang dia maksud dengan nehik adalah ogah atau tak sudi.

Terpaksa kedua sahabatnya mengalah. Jaja menolak menemani Budi mandi. Dia beralasan mau ganti bajunya yang basah gara-gara membopong bayi kuda nil. Apa boleh buat, Dani akhirnya yang kebagian memandikan Budi. Setelah menaruh kameranya, dia mengambil selang yang salah satu ujungnya menyatu dengan kran air. Dia putar kran itu. Air yang mengocor deras kemudian disemprotkan ke tubuh telanjang sahabatnya. Pagi-pagi dia sudah dipaksa menonton adegan 17 tahun ke atas. Tubuh bugil Budi yang hitam tambun dan belang-belang ada di depannya. Dalam hati Dani mengumpat, ”Sialan, pagi-pagi sudah mandiin kebo bunting.”

”Apa lu bilang Dan?” Seolah-olah Budi bisa mendengar suara hati Dani.

”Enggaaaak…” Dani gelagapan sekaligus heran.

Budi menggelinjang kegelian disiram air dari selang. Dia tidak peduli tubuh hitam belang-belangnya dipelototin Dani. Bahkan semua orang yang lewat di trotoar atau jalan depan rumah melihatpun dia tidak peduli. Lebih baik jadi tontonan orang lewat daripada dilihat Intan Ayu.

***

”Bagaimana, mau nemuin mang Odang sekarang?” Suara Dani terdengar agak keras untuk menyaingi deru hujan yang masih belum reda juga. Dani dan kedua sahabatnya ada di ruang tamu yang diterangi lampu gantung kuno dengan lima bohlam yang memancarkan sinar keemasan. Mereka sudah berpakaian rapi. Yang agak mengherankan mereka, mengapa sejak pagi mang Odang tidak menampakkan batang hidungnya. Tiga sekawan itu pagi ini memang akan menemui mang Odang sesuai rencana tadi malam. Saat sarapan, mereka akan menanyakan gambaran wajah Intan Ayu alias si Gadis Rumput yang sebenarnya ke mang Odang. Apakah Gadis Rumput itu dulu betul-betul ada atau hanya mitos belaka. Selain itu, mereka akan pamit untuk jalan-jalan.

”Yuk kita datangi mang Odang di paviliunnya,” ajak Jaja.

Kedua sahabatnya sepakat. Mereka bertiga menuju paviliun yang berada di samping rumah induk. Hujan lebat masih terus mengguyur disertai angin yang menampar-nampar muka. Mereka tidak khawatir kebasahan karena ada kanopi bertiang yang menghubungkan rumah induk dengan paviliun.

Likum. Mang Odaaaang… maaaang..” Dani berteriak mengucapkan salam sepotong.

Tidak ada jawaban. Ke mana mang Odang? Pintu paviliun terbuka. Di dalamnya terlihat remang-remang hampir gelap karena tidak ada satupun lampu menyala. Kursi goyang di teras paviliun berayun-ayun maju mundur seperti pernah ada yang menduduki dan belum lama pergi.

Budi merengkuh lengan Jaja. Bulu kuduknya berdiri. Jaja berusaha mengibaskan tangan Budi agar terlepas. Dia juga merinding. Bukan takut, tapi karena ingat kejadian tadi pagi di teras rumah induk. Dia ingin muntah bila ingat saat-saat mendekap tubuh telanjang Budi. Mending kalau putih mulus. Lha ini? Sudah hitam, bengkak, belang-belang lagi.

Dani meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Ruang tamu paviliun menjadi terang. Tidak ada siapa-siapa di situ.

”Mang Odaaaaang.” Kembali suara Dani memecah kesunyian. Ada satu kamar di ruang tamu yang pintunya tertutup. Kamar itu diperuntukkan tamu yang menginap di paviliun dan satu-satunya kamar yang ada. Ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga tidak dipisahkan dengan dinding atau pemisah apapun. Begitu juga dengan dapur. Tiga ruangan itu menjadi satu sehingga terlihat panjang menjorok ke dalam bila dilihat dari pintu masuk. Dan saat lampu ruang tamu dinyalakan, sinarnya juga sampai ke ruang tengah dan dapur yang berada paling ujung, sehingga tanpa menyalakan lampu di kedua ruangan itu pun, ruangan-ruangan itu masih lumayan terang. Di sebelah dapur terdapat kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.

Dani dengan dibuntuti Budi dan Jaja berjalan perlahan menuju kamar mandi. Siapa tahu mang Odang ada di dalamnya butuh pertolongan, terkapar karena serangan jantung atau stroke mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Kamar mandi kosong. Lantainya pun kering. Itu artinya kamar mandi tersebut tidak dipakai sejak tadi malam.

Bila seluruh ruangan termasuk kamar mandi kosong, tinggal satu ruangan di paviliun itu yang belum dilihat. Dani, Budi, dan Jaja saling berpandangan. Mereka sepaham ke ruang mana hendak dituju. Kamar di ruang tamu.

Pintu kamar tidur di ruang tamu ternyata tidak dikunci. Dani mendorong pintu itu perlahan. Bau anyir langsung meruap menohok hidung. Jaja menekan saklar lampu yang ada di dinding luar dekat kusen pintu kamar tidur. Keadaan dalam kamar tidur jadi terang benderang. Ada sesuatu di atas tempat tidur. Dani kemudian memimpin kedua sahabatnya mendekati tempat tidur untuk memastikan apa yang terdapat di atas seprei putih berenda. Tiga pasang mata melotot terkesiap.

”Intan Ayu,” bibir Budi bergumam lirih.

Mereka melihat potongan gaun warna hijau terhampar di atas tempat tidur. Seonggok usus berbalur darah yang mulai mengering berada di atasnya. Barang itulah yang meruapkan bau anyir. Potongan gaun si Gadis Rumputkah? Usus siapakah itu? Di mana mang Odang?

”BRAAAKKK!” Pintu kamar tiba-tiba tertutup. PET!. Kamar tidur menjadi gelap gulita. Tiga orang di dalamnya gelagapan.

”DUARRR!!!” Di luar geledek menyalak dengan galak.

***

misteri di gunung pongkor
Penambangan Emas Gn. Pongkor (koleksi pribadi)

Di wilayah Bogor Barat 45 km dari kamar mang Odang, masyarakat Desa Bantarkaret yang masuk wilayah Kecamatan Nanggung di lereng Gunung Pongkor sedang heboh. Mereka mengerumuni sesosok mayat laki-laki tak dikenal yang dibaringkan di kantor kepala desa di Leuwicatang. Pipi kanannya ada codet (bekas luka). Mayat setengah baya dengan perut terbuka itu ditemukan para gurandil (penambang liar) di salah satu sumur penambangan emas yang mereka buat di lereng Gunung Pongkor. Isi perutnya hilang. Tidak ada ktp atau kartu identitas lainnya yang dapat menjelaskan siapa dia. Di kantong celana kampret hitamnya ditemukan selembar bon dari sebuah restoran bertuliskan MJ Pakuan dan segepok kunci dengan gantungan yang digrafir. Di gantungan yang terbuat dari perak itu tertulis: CIKURAY 13.

(Bersambung)

Penasaran dengan kelanjutannya? Datang saja ke Falla.

Sumber gambar: durian, hippo

25 COMMENTS

  1. Ceritannya menyeramkan sekali misteri gunung pongkar, kasihan sekali yang meninggal daliam keaadaan yang tidak wajar.
    Semoga arwahnya diterima sama tuhan yang maha esa.
    Terima kasih, salam kenal 🙂

  2. @echa: tenang cha, tenang
    @chandra iman: thx 😉
    @unggulcenter: sport otak namanya
    @eneng ocha: tuh dapt doa tu fal
    @ima: thx
    @zico: thx
    @MT di Bogor: jadi curiga saya, jgn2 punya penyakit ngakak hehhe… pipis ah
    @anKa: setuju… pengen liat intan ayu beneran
    @achoey: semua jadi juara pertama kok
    @achfall: mantap fal terusannya, betul2 saya dipecundangi hehehe…
    @masfajar: biar nggak tegang2 amat, kasih lucu sesendok teh saja
    @Tiest: ayo, ditunggu ya

  3. great job!

    sudah terbukti keunggulan sagena eh keunggulan kang WKF dalam menulis. bukan sekedar artikel saja. bahkan chain posting dari Anka dan MT pun bisa dilanjutkan dengan mengaitkan tema lainnya.

    seperti yg kutulis di komentar blognya ontohod, chain posting tidak mengubah blogorians dari karakteristik menulisnya. di sinipun, aku tetap ngakak abis, saat membaca cerita WKF!

  4. speechless, ketika baca cerpen diatas. pemaparan ceritanya enak dibaca (jujur pak, swear dweh…) jalan ceritanya mengalir. dan inilah cerpen pertama pak Adi yang saya baca. karena biasanya Pa Adi selalu nulis artikel. dan sekalinyan bikin cerpen. it’s extraordinary i mean. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here