merdeka atau ngungsiMERDEKA! Kata itu dulu dipekikkan para pejuang, sekarang diteriakkan peserta karnaval digemborkan para koruptor negeri ini. Para pejuang meneriakkannya untuk memberi semangat, perserta karnaval melakukannya untuk meramaikan pesta tahunan, dan para koruptor ingin menunjukkan betapa nyamannya tinggal di negeri yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Barangkali salah para bapak bangsa kita juga ketika dulu mereka menyusun UUD 1945. Dalam preambule atau pembukaan undang-undang itu kita bisa baca pada paragraf kedua seperti di bawah ini.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Apa maksudnya? Itu artinya kita hanya diantar sampai di luar saja, hanya sampai di depan pintu, tidak masuk ke dalam. Coba jika waktu itu kata ” ke depan pintu gerbang” dalam pembukaan tersebut diubah menjadi ”sampai masuk ke dalam”, barangkali akan lain ceritanya. Tentu saja saya bercanda dalam hal ini. Namun faktanya benar kan? Masih banyak dari saudara kita yang belum bisa dikatakan merdeka. Bahkan yang memprihatinkan, justru yang menjadi penjajah adalah saudara sendiri yang sebangsa dan setanah air.

Coba anda jawab dengan jujur pertanyaan ini. Apakah sudah bisa dikatakan merdeka jika rakyat masih kesulitan memperoleh pendidikan yang menjadi haknya? Sudah menjadi tugas negara mengupayakan rakyatnya mendapatkan hak yang begitu mendasar. Kenyataannya, setiap tahun ajaran baru banyak terkabarkan betapa sengsaranya para orangtua berjibaku demi sekolah putra-putrinya. Sedihnya lagi ketika usaha orang tua mendapatkan dana untuk biaya sekolah tidak berhasil, anak-anak mereka mengambil jalan pintas dengan menghabisi nyawanya sendiri. Ironis. Sementara beberapa dari kita adalah orang-orang terkaya di Asia Tenggara maupun dunia, di sisi lain keluarga kita berkeringat darah untuk sekedar bisa menyekolahkan anaknya.

Itu baru satu kasus yang menggambarkan bahwa yang namanya merdeka masih hanya sebuah slogan. Hak memperoleh pendidikan yang layak belum bisa otomatis dinikmati seluruh anak bangsa. Dalam dunia pendidikan, kita belum merdeka. Bagi masyarakat miskin, mendapatkan pendidikan layak seolah-olah haram hukumnya.

Bila kita membuat daftar bukti belum merdekanya kita, entah berapa lembar kertas yang dibutuhkan. Pasien yang ditolak berobat, Marsinah yang dirajam secara seksual karena membela hak buruh, masyarakat Porong yang bermandikan lumpur panas, Munir yang tiba-tiba pulang dari Belanda berkain kafan, kasus Bank Century yang terbungkus rapi, rekening tidak masuk akal para jenderal polisi, berapa contoh lagi yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa kita ini memang masih di depan pintu gerbang kemerdekaan?

Indonesia yang sebentar lagi menyatakan dirinya sudah 65 tahun merdeka, rakyatnya bisa jadi akan kembali meneriakkan slogan pilihan seperti yang dilakukan para pejuang kemerdekaan dulu, ”Merdeka atau Mati!” Hanya bedanya, mereka akan meneriakkan dengan penuh ketidakberdayaan, ”Merdeka atau Ngungsi!

Sumber gambar: di sini

Catatan:

Tulisan ini merupakan artikel lomba yang diadakan di kompasiana.com

15 COMMENTS

  1. Kasihan sekali nasib para PAHLAWAN,

    klo pada akhirnya bangsa besar ini malah dijajah bangsanya sendiri.
    Parahnya lagi,,, Manusia2 penjajah yang jumlahnya semakin banyak ini pada akhirnya malah mendapat gelar pahlawan. Pahlawan palsu

  2. ga ngerti pa negara ini mau dibawa kemana. Malah sebagian provinsi jg udah pada pengen pindah ke negara lain. Ironis memang. Harus ngapain ya ultah RI sekarang?

  3. […] Jangan salahkan bila ada sebagian rakyat merasa masih terjajah di era merdeka ini. Mereka bukan cengeng, tetapi adalah orang-orang yang tidak berdaya. Heranlah jika di negara merdeka ini rakyat harus mengungsi karena ketidakbecusan penguasa mengelola bencana. Slogan baru yang kemudian muncul: merdeka atau ngungsi! […]

  4. ingat kata pak jendral besar sudirman ” Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah sedangkan perjuangkan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa kalian sendiri”. Ya, inilah yang menurut saya kolonialisme gaya baru akang 👿 penjajahan model baru 👿

  5. @tito: Merdeka tapi kok masih di Jajah, bingung ya? 🙄
    @zico: begitulah keadaan kita. yg penting kita isi dg semampu kita dan tdk mencontoh yg koruptor kerjakan. kepajangan? makin panjang makin baik 😉 and thanks for your comment

  6. betul pak….sekarang ini secara seutuhnya bangsa ini belum merdeka.. dan sebenarnya kita masih merindukan pemimpin figur yang benar benar figur pemimpin. lihat saja, negara kita masih menggantungkan harapan pada negara asing, *negaranya gak usah disebutkan karena udah pada tau..hehe.. kapan ya pak negara ini jadi negara mandiri…? mungkin butuh puluhan tahun untuk mewujudkan kemerdekaan yang mandiri
    sekarang kita sering melihat para elit politik muncuk di TV menunjukkan parodi yang mengalahkan tayangn sinetron, yang bingung ya….orang awam, dan yang kesel, tentu orang yang punya wawasan intelektual…
    walau bagaimana pun…saya ingin meriakkan “Merdeka” karena Pejuang dulu berjuang dengan hati, dan tanpa mengharap apa-apa..hanya satu yang di tuju,, yaitu”KEMERDEKAAN UNTUK SELURUH RAKYAT” Btw, maaf pak komennya kepanjangan..hehehe

  7. @arman & indobrad: setuju, kita memang sudah terbebas dari penjajah belanda dan jepang. dan kita wajib bersyukur dan mengisinya. cuman sayang, penjajahan bangsa asing itu kemudian dilanjutkan oleh sebagian bangsa sendiri dg mengkorupsi yang menjadi hak orang lain. 🙄

  8. jargon “kita belum merdeka” akan selalu muncul setiap tahun kayaknya. kalau saya pribadi sih mendingan stop meneriakkan bahwa kita belum merdeka. faktanya kita sudah merdeka dari penjajahan; maknanya saya batasi di situ saja. soal ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih terjadi itu soal lain yang harus dipecahkan, tidak ada hubungannya dengan perayaan 17 Agustus 😀

  9. mungkin kita belum merdeka dari kemiskinan, dari kebodohan, dari penyakit… tapi jangan lupa kita udah merdeka dari penjajahan. kita udah menjadi negara sendiri, yang berdiri sendiri. dan itu berkat para pejuang dulu.

    mengenai kemiskinan, kebodohan, dll, itu emang jadi PR buat para pemimpin negara kita sekarang.

    tapi 17 agustus kan untuk memperingati kemerdekaan dari penjajahan. bayangin kalo kita sekarang masih dijajah negara lain, mungkin kita malah masih berperang, masih miskin banget, mungkin yang menjajah kita komunis atau diktator… mungkin kita gak punya internet… intinya gak bisa seperti sekarang ini.

    jadi menurut gua sih tetap kita harus bersyukur atas para pejuang dan pahlawan kita, karena emang kita udah merdeka kok. merdeka dari penjajahan! 🙂

    dan sekarang saatnya kemerdekaan ini diisi, dipelihara supaya perjuangan para pahlawan kita dulu gak sia2…

    merdeka!

Leave a Reply to tedja Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here