menuju ngopikere busHohah kembali melihat jam tangan, untuk ketujuh kalinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Duloh dan Wekape belum junga muncul. Padahal jadwal pemberangkatan bus setengah jam lagi. Sore itu mereka akan berangkat ke acara #NgopiKere. Acara minum kopi yang dikemas sangat menarik. Tak heran jika pesertanya dari beragam komunitas dan profesi.

Di depan kantor pos, Duloh dan Wekape sedang berada di sebuah angkutan kota. Mereka sekali-sekali melihat jam yang berada di telepon genggam masing-masing. Rasa khawatir terpancar di raut wajah keduanya. Mereka sadar Hohah pasti sudah menunggu. Sebelum itu, Hohah menelepon tetapi itu tidak otomatis bisa mengurai kemacetan yang memerangkap kendaraan yang mereka tumpangi. Jarak ke tempat Hohah memang tidak jauh namun kemacetan itu menjadikan perjalanan ke sana melama seratus tahun rasanya. Duloh hanya bisa mengumpat. Wekape lebih memilih diam. Dia tahu, umpatan seperti apa pun tak akan mengubah keadaan. Sesaat kemudian kemacetan perlahan terurai. Akhirnya mereka sampai di tempat Hohah sepuluh menit sebelum keberangkatan. Bus sudah menunggu. Mesinnya dalam keadaan hidup. Duloh menyempatkan diri membeli buras dan bala-bala serta tempe goreng di warung dekat kantor agen bus. Dia tak sempat makan siang. Buras dan gorengan itu akan dia santap di atas bus sebagai makan siang. Lumayan, setidaknya bisa membuat perutnya yang sudah beberapa kali bernyanyi itu diam. Wekape lebih memilih membeli kacang Bogor rebus yang dijajakan di atas gerobak di depan warung tempat Duloh membeli makan siang. Hohah sudah membeli cemilan berupa singkong goreng ketika kedua temannya itu belum muncul. Mereka bertiga segera naik ke bus. Masing-masing menjinjing kantong keresek yang berisi makanan. Tas mereka yang berisi pakaian semua dimasukkan ke dalam bagasi. Tiga sekawan ini merupakan penumpang terakhir yang naik bus tepat saat jam keberangkatan tiba. Sopir bus setengah baya berkaos loreng tentara segera menginjak pedal gas. Kedua lengan kekarnya menggerakan setir memutar ke kanan. Kendaraan berujud roti tawar raksasa itu bergerak perlahan.

Hohah, Duloh, dan Wekape duduk di belakang sopir. Duloh duduk di sebelah kanan Hohah, di samping jendela, menghadap punggung sopir. Wekape memilih duduk di dekat gang, di sebelah kiri Hohah. Tempat duduk mereka dekat roda depan sehingga goncangan lebih terasa bila jalan tidak rata. Mereka menikmati perjalanan saat bis masih menyusuri jalan-jalan di Kota Bogor dan sepanjang tol Jagorawi dan Cikampek. Ketiganya mulai membongkar bekal yang berada dalam kantong plastik di tangan masing-masing. Dengan lahapnya Duloh menyantap tiga bungkus buras ditemani tiga bala-bala dan tiga tempe goreng sebagai lauk. Masih tersisa tiga buras dan empat gorengan di dalam kantong. Rencananya buras dan gorengan itu akan dia makan nanti jika tiba di pemberhentian bus untuk istirahat. Daripada harus mengeluarkan uang lagi untuk makan malam, lebih baik makan buras dan gorengan yang masih tersisa. Hemat, begitu pikirnya. Hohah menikmati singkong gorengnya. Orang satu ini agak unik. Mentang-mentang hobi menyantap makanan pedas, apa pun yang dimakan selalu ditemani dengan cabai. Begitu juga saat makan singkong goreng. Untungnya masih ada beberapa potong cabai yang dia bisa minta dari Duloh. Sebenarnya Hohah sudah makan siang. Namun, selain doyan pedas, dia juga doyan makan. Perutnya gampang lapar. Duloh dan Wekape suka mengolok-olok bahwa perutnya penuh cacing. Sementara itu, Wekape menikmati kacang Bogor rebusnya. Dia tadi sempat mengomel setelah duduk di dalam bus. Semua harga barang sekarang mahal, termasuk kacang Bogor. Wekape kesal dengan uang sepuluh ribu hanya mendapat kacang Bogor sebanyak ‘kaleng tahi’. Entah apa yang dia maksudkan dengan kaleng tahi. Yang dijadikan tempat kacangnya juga bukan kaleng, tapi kantong keresek warna hitam. Meskipun gondok, kacang Bogor yang berasa gurih asin itu dinikmatinya. Perlahan.

Bus telah melewati pintu tol keluar di wilayah Cikampek. Beberapa ratus meter dari pintu tol itu, jalan mulai rusak. Di beberapa tempat, jalan jelas perlu diperbaiki. Bus melambat saat melewati jalan yang aspalnya terkelupas membentuk lubang cukup besar. Perjalanan mulai dirasa tidak nyaman bagi tiga sekawan ini. Meski Hohah bekerja di agen bus, ternyata ini perjalan jauh pertamanya. Selama ini, tempat terjauh yang didatangai Hohah menggunakan bus, dari Bogor ke Tangerang saat bibinya mengkhitankan anak pertamanya. Duloh dan Wekape tak tahu tentang itu.
“Kepalaku agak pusing,” kata Hohah. Mukanya agak pucat.
“Sama.” Duloh menimpali.
“Aku juga,” sambung Wekape.
“Kerja di agen bus masak mabuk, Hah?” Tanya Wekape. Heran.
“Badanku lagi tidak fit.” Hohah beralasan. Dia tak ingin kedua temannya tahu ini perjalanan jauh pertamanya.
Duloh diam saja. Mukanya tak beda dengan mukanya Hohah, memucat. Dia sebenarnya lebih memilih kereta untuk bepergian, atau jalan kaki bila memungkinkan. Pilihan pergi ke Yogyakarta dengan naik bus diambil karena Hohah temannya kerja di agen bus. Bagi Duloh, itu memudahkan dia dibandingkan harus ke Jakarta, ke Stasiun Senen, untuk memesan tiket kereta api. Dia juga tak yakin akan mendapatkan tiket karena tanggal keberangkatan yang dia pilih bertepatan dengan tanggal merah yang merupakan libur nasional. Duloh nekat berangkat ke acara #NgopiKere meski harus naik bus. Dia ingin mengenalkan dirinya sebagai founder Serabi Jenggot, juga komunitas yang didirikannya itu. Menurut dia, #NgopiKere merupakan acara bagus dan tepat untuk menyosialisasikan komunitasnya yang memiliki akun Twitter @SerabiJenggot.

Tiba-tiba Wekape merebut kantong keresek yang dipegang Hohah. Di dalamnya masih ada lima potong singkong goreng. Kacang Bogor yang ada di kantong plastiknya dia tuang ke dalam kantong keresek milik Hohah itu.
“Hei, itu masih ada isinya. Masak kacang Bogor kamu campur dengan singkong goreng.” Hohah protes.
Wekape tak menggubris. Begitu kacang Bogor telah berpindah semua, kantong yang sekarang berisi singkong goreng dan kacang dia ulurkan. Hohah menerima sambil cemberut. Wekape segera membentang kantong plastiknya yang telah kosong tepat di bawah dagu. Kepalanya dia tundukkan sehingga mulutnya persis menghadap kantong plastik yang siap menampung jika dia muntah. Tak lama kemudian Wekape betul-betul mengeluarkan isi lambungnya. Suaranya mirip babi disembelih. Dia tak berdaya memelankan suara. Semua penumpang bus memperhatikan dia. Seorang penumpang yang duduk di bangku belakang bahkan sampai berdiri mencari-cari asal suara babi disembelih. Sopir tidak menengok kebelakang. Dia hanya melihat dari kaca spion yang ada di atas kirinya. Dari kaca spion itu dia bisa lihat siapa yang sedang mabok. Sopir itu hanya menggelengkan kepala, perlahan. Untuk kesekian kalinya, dia menyaksikan penumpang busnya mabuk.

Wekape duduk menyandarkan punggungnya, lemas dengan muka masih pucat, meskipun tak sepucat tadi. Namun dia terlihat lega. Setelah kacang Bogor dan makanan lain dalam lambungnya terkuras semua, Wekape merasa sudah tidak sepusing sebelum muntah. Kantong plastik berisi muntahannya telah dia ikat erat dan ditaruh di bawah tempat duduknya. Dia akan membuang kantong itu ke tempat sampah nanti bila bus merapat ke tempat istirahat. Kantong keresek yang berisi kacang Bogor bercampur singkong goreng ada di pangkuan Hohah.

Bau asam yang menguar dari muntahnya Wekape membuat kepala Hohah semakin berat. Mulutnya terasa asam. Matanya berair. Hohah merasakan tanda-tanda akan muntah.
“Pinjam keresekmu,” kata Hohah sambil merebut kantong yang dipegangi Duloh.
Duloh bergeming. Dia hanya memperhatikan Hohah yang segera memindahkan kacang Bogor dan singkong goreng ke dalam kantong keresek yang tadi dia pegang. Duloh juga diam saja ketika Hohah menaruh kantong keresek yang sekarang terisi kacang Bogor, lima potong singkong goreng, tiga buras, dan empat gorengan ke atas pangkuannya. Hohah melakukan apa yang tadi dikerjakan Wekape. Dia menundukkan kepala menghadap kantong keresek yang terbuka tepat di bawah mulutnya. Suara mengorok tiba-tiba keluar dari kerongkongannya. Hanya suara. Tidak ada muntahan. Berkali-kali Hohah membuang ludah kental yang terasa asam, juga mengeluarkan suara keras orang mengorok. Seisi bus kembali memperhatikan arah suara. Lelaki di bagian belakang yang tadi berdiri saat Wekape muntah kembali menegakkan badan. Mukanya ditekuk sambil bergumam, “Ndeso!”

Duloh sebenarnya setengah mati mencoba bertahan untuk tidak muntah. Ketika Hohah mengeluarkan isi perutnya, Duloh sudah merasakan ludah asam di dalam mulutnya. Dia tak ingin muntah. Namun isi perutnya serasa merangkak ke atas mendekati rongga mulut. Sekarang bahkan tidak merangkak lagi, sudah melompat-lompat. Duloh tak berdaya. Di tangannya ada kantong keresek tapi tidak kosong. Tidak mungkin dia muntah di kantong itu, yang berisi kacang Bogor rebus, singkong goreng, buras, dan gorengan. Duloh kebingungan. Lambungnya semakin bergolak meminta isinya dikeluarkan. Dia butuh kantong keresek yang dia pegang itu untuk menampung muntahannya. Duloh tidak mau muntah di lantai bus. Wekape dan Hohah hanya bisa mengamati. Duloh akhirnya menuangkan isi kantong keresek itu ke pangkuannya. Namun terlambat, seperti ada dorongan dari bawah dan belakang, isi perut Duloh menyemprot keluar. Arah semburannya lurus ke depan. Dia tak kuasa menahannya.
“Aaah…” Terdengar suara sopir bus. Punggungnya terasa hangat disertai aroma asam. Dia juga merasakan ada benda hangat yang meleleh dari kepala bagian belakang ke tengkuk. Secara refleks kakinya menginjak pedal gas. Ban bus Sepuluh Bersaudara mengeluarkan bunyi mendecit. Seluruh penumpang terdorong ke depan. Bus bergerak oleng karena direm mendadak.
“Diancuk!” Suara teriakan seorang laki-laki itu berasal dari arah belakang diikuti bunyi berdebum. Lelaki yang duduk di belakang yang sebelumnya mengumpat ‘ndeso’ terlempar ke atas lantai bus. Mukanya jatuh terlebih dahulu menyentuh lembaran baja kasar yang menjadi lantai bus. Lelaki berkulit kelam berusia sekitar tiga puluh tahun meluncur ke depan beberapa sentimeter. Dia tak bergerak. Tak ada penumpang lain yang mencoba membantu karena sedang menyelamatkan dirinya masing-masing. Semua penumpang sedang berpegangan apa pun yang bisa diraih dan dicengkeram agar tidak terlempar atau terbentur. Bus akhirnya dapat dikuasai. Perlahan sopir menepikan bus. Di bawah tempat duduknya, bertebaran segala rupa makanan yang tadi dipangku Duloh. Di sekeliling bus gelap gulita. Dari terang lampu depan bus, mereka bisa melihat ternyata bus berhenti di tengah hutan. Sesekali mobil melintas dari arah depan dan belakang. Lampunya menyoroti jalan aspal di belakang bus. Ada lukisan ular hitam kembar meliuk sama persis di atasnya.

Sumber gambar: di sini

10 COMMENTS

  1. Deskripsi’y terasa pak, baca postingan ini setelah makan siang, jadi ngerasa soto mie (menu makan siang tadi) ngerangkak kluar perlahan, untung masih bisa kedorong sama air minum..hehe

  2. Jane sangu suru kok.. barangkali nanti ada yang tumpah di lantai bis.

    Suru = sendok darurat yang dibuat dari daun pisang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here