menjadi guru digitalPengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan itu jelas benar adanya. Karena itulah, ketika kita berkesempatan menjadi pengajar, memilah-milah cara mengajar berdasarkan pengalaman ketika kita menjadi murid perlu dilakukan. Yang dulu pernah kita alami saat duduk sebagai murid, bisa jadi membantu kita dalam mengajar saat ini. Dengan harapan, seluruh pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki bisa kita ajarkan ke anak didik. Itu tentunya menjadi harapan semua murid juga.

Yang dihadapi murid zaman dulu dan sekarang tentu saja berbeda. Metode yang dulu pernah digunakan, saat ini sudah harus diganti, diubah, atau dimodifikasi. Intinya, metode tersebut harus disesuaikan dengan kondisi sekarang. Bila kita tetap bersikukuh mengajar sebagaimana saat kita sekolah dulu, dijamin kita pasti tidak akan berhasil dalam mengajar atau setidaknya tidak akan maksimal. Berkembangnya waktu juga membawa perkembangan teknologi termasuk yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Jika dulu perpustakaan menjadi sumber utama informasi, sekarang internet menjadi pilihan. Bukan hanya sekadar alternatif, internet kadang menjadi pilihan pertama dan utama ketika harus mencari sebuah informasi. Hal itu bisa dimaklumi karena selain jauh lebih lengkap, internet bisa diakses lebih cepat dan dari mana saja. Dari segi biaya, internet bisa menjadi lebih murah dibandingkan, misalnya harus mengeluarkan ongkos angkutan ke lokasi perpustakaan, lebih-lebih bila perpustakaan itu ada di kota atau negara yang berbeda.

Jika kita amati, banyak murid sekarang selain membawa buku mereka juga menenteng gadget. Gadget itulah yang akan bisa kita manfaatkan sebagai media pembelajaran. Daripada membiarkan mereka menggunakan gadgetnya untuk bermedia sosial seperti Twitter atau Facebook sekadar haha-hihi bersama temannya, mengapa kita tidak manfaatkan untuk sarana penyampaian materi belajar? Hal itu tentu menyenangkan bagi mereka karena bisa belajar dengan perangkat sama dengan yang mereka gunakan untuk bersosialisasi. Yang perlu dipersiapkan berikutnya adalah pihak pengajarnya. Dengan memaksimalkan gadget yang dimiliki anak didiknya maka guru yang dibutuhkan bukan lagi guru biasa tetapi harus seorang guru digital.Untuk bisa menjadi guru digital, beberapa syarat harus dipenuhi.

Dari namanya, guru ini pasti melibatkan media digital. Lebih spesifik lagi, guru digital harus melek internet. Bukan hanya perangkat off line yang dia harus gunakan tetapi media online harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika murid biasa menggunakan Facebook dan Twitter, guru juga harus bisa, bila perlu lebih mahir. Dengan demikian, guru akan mampu menggunakan bahasa yang sama dengan anak didiknya. Bukan menjadi pihak yang “gaptek” dan tidak nyambung saat diajak berkomunikasi. Meskipun disebut media sosial, Facebook dan Twitter bisa difungsikan sebagai media belajar. Ada fasilitas yang disediakan oleh kedua media ini yang bisa dipakai sebagai media transfer pengetahuan. Ini harus diketahui dan dikuasai seorang guru digital. Sebagai contoh, Facebook menyediakan fasilitas membuat grup. Grup ini bisa difungsikan layaknya ruang kelas. Bila grup ini diset ‘closed’, hanya anggota yang bisa masuk dan berinteraksi dengan anggota yang lain. Guru dapat membuat grup ini menjadi kumpulan dari suatu kelas atau bisa juga dipakai sebagai kelompok pembelajar untuk mata pelajaran tertentu. Di Twitter, fasilitas membuat grup seperti yang disediakan di Facebook bernama List. Walaupun tak sama persis, fasilitas List bisa digunakan untuk mengelompokkan siswa di satu kelas atau kelompok yang mempelajari suatu bidang studi.

Blog juga sebuah perangkat media sosial yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. Seorang guru digital perlu memiliki minimal satu blog. Media ini bisa difungsingkan sebagai penyampai materi belajar. Materi belajar yang melibatkan multimedia, misalnya video, lebih cocok bila ditaruh di sebuah halaman blog. Agar hasilnya optimal, lebih bagus lagi jika blog, Facebook, dan Twitter diintegrasikan. Ini akan menghasilkan sebuah media belajar yang sangat sinergis.

Di masa sekarang, menjadi guru digital sudah merupakan keharusan. Dengan semakin berkembangnya perangkat digital dan aplikasinya, seorang pengajar harus mau bermetamorfosis menjadi guru yang terampil bermedia sosial. Bukan untuk menggalau, media sosial itu sebagai amunisi dan sarana menjalani peran sebagai guru digital.

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here