33 tokoh sastra indonesia paling berpengaruhBisa-bisa H.B. Jassin bangkit dari kuburnya karena Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) yang dia dirikan pada 28 Juni 1976 telah memfasilitasi tindakan mengabadikan kebodohan. Di tempat itu, Jumat 3 Januari 2014, sebuah buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh telah diluncurkan.

Buku ini membuat gerah khususnya para sastrawan. Pasalnya adalah muncul nama Denny JA yang bertengger di nomor 30 di antara 33 nama terpilih. Segerah apa pun, tak ada gunanya memprotes bahkan sampai mencaci maki sekalipun. Buku telah terbit. Nama seorang “bukan sastrawan” nyelip di antara para sastrawan yang sebenarnya. Orang luar boleh meradang, Tim 8 sebagai penyusun yang punya kuasa. Silakan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Hak memilih sepenuhnya ada di tangan mereka. Hak Tim 8 ibarat prerogatif seorang presiden. Hal ini dengan gamblang tersebut dalam kata pengantar di halaman xxviii berupa kalimat “Inilah 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pilihan Tim 8:” yang kemudian diikuti nama dan tahun lahir-meninggal ketigapuluh tiga tokoh. Jelas, kan? Pilihan Tim 8! Bukan pilihan orang lain! Jadi, silakan tutup mulut dan baca buku “hebat” karya mereka itu.

Berikut 33 nama yang Tim 8 klaim sebagai tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh dalam satu abad ini:
1. Kwee Tek Hoay (1886-1952)
2. Marah Roesli (1889-1968)
3. Muhammad Yamin (1903-1962)
4. HAMKA (1908-1981)
5. Armijn Pane (1908-1970)
6. Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994)
7. Achdiat Karta Mihardja (6 Maret 1911-2010)
8. Amir Hamzah (20 Maret 1911-1946)
9. Trisno Sumardjo (1916-1969)
10. H.B. Jassin (1917-2000)
11. Idrus (1921-1979)
12. Mochtar Lubis (7 Maret 1922-2004)
13. Chairil Anwar (26 Juli 1922-1949)
14. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)
15. Iwan Simatupang (1928-1970)
16. Ajip Rosidi (31 Januari 1935)
17. Taufik Ismail (25 Juni 1935)
18. Rendra (7 November 1935-2009)
19. Nh. Dini (1936)
20. Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940)
21. Arief Budiman (3 Januari 1941)
22. Arifin C. Noor (10 Maret 1941-1995)
23. Sutardji Calzoum Bachri (24 Juni 1941)
24. Goenawan Mohamad (29 Juli 1941)
25. Putu wijaya (1944)
26. Remy Sylado (1945)
27. Abdul Hadi W.M. (1946)
28. Emha Ainun Nadjib (1953)
29. Afrizal Malna (1957)
30. Denny JA (4 Januari 1963)
31. Wowok Hesti Prabowo (16 April 1963)
32. Ayu Utami (1969)
33. Helvi Tiana Rosa (1970)

Dalam istilah Jawa, munculnya nama Denny JA itu hasil gathuk-mathuk. Dicari yang cocok, diakur-akurkan, agar keberadaannya di antara tokoh sastra yang terpilih terkesan memenuhi syarat serta bisa diterima dan dapat dimaklumi oleh para sastrawan dan penikmat karya sastra. Di dalam pleidoi yang dia tulis dalam situs perpustakaan daring-nya, Denny sendiri menganalogikan dirinya dengan Winston Churchill yang bukan tokoh sastra tetapi mendapat nobel sastra pada 1953. Sebuah upaya yang makin memperjelas adanya gathuk-mathuk.

Bagaimanapun juga, kerja Tim 8 menyusun buku ini patut diapresiasi. Karya mereka bisa menjadi referensi dan menambah perbendaharaan buku sastra. Namun konsekuensi logis yang bakal terjadi jika buku yang dijadikan acuan salah, hasilnya bisa menyesatkan. Lebih-lebih bila si pembaca menelan mentah-mentah apa yang tersaji dan tidak berupaya mencari sumber lain yang sejenis. Meski ada bantahan dari salah satu anggota Tim 8 bahwa buku ini bukanlah sebuah legitimasi atas ketokohan 33 orang yang dipilih, tendensi ke arah sana tetap tak bisa dihindari. Denny JA bisa jadi akan benar-benar dianggap sebagai salah satu tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh karena namanya tersebut. Setidaknya oleh pembaca buku ini.

Terus terang, sampai saat ini saya masih gagal menemukan pengaruh Denny JA dalam dunia sastra. Justru yang saya tahu Denny ini adalah raja kuis di Twitter yang rajin mencari follower lewat akun @DennyJA_WORLD. Akun itu saya kenal kurang lebih setahun yang lalu karena sering berseliweran di galur waktu. Follower saya sering menyebut (mention) akunnya karena mengikuti kuis yang dia adakan. Tak heran bila banyak yang ikut karena besarnya hadiah yang dijanjikan. Jika kuis-kuis yang biasa diadakan hanya berhadiah pulsa senilai Rp 10.000 sampai Rp 100.000 atau hadiah lain misalnya kaos, Denny berani memberi iming-iming berupa iPad atau uang senilai 100 juta sebagai hadiah. Tidak aneh jika saat tulisan ini dibuat, akun Denny memiliki follower sebanyak 1.079.099 meskipun following-nya 0. Di Twitter, mencari follower lewat kuis memang biasa dilakukan.

Dua akun peserta kuis @DennyJA_WORLD.

Perihal istilah puisi-esai dianggap genre baru sastra Indonesia ciptaan Denny, sah-sah saja dia mengklaim. Penciptaan istilah semacam itu bisa muncul di mana saja dan di beragam bidang. Puisi-esai tak beda dengan sop buah. Tak ada yang istimewa. Istilah itu dibuat sekadar membuat orang menoleh, bertanya-tanya, kemudian mencicipi. Tak peduli penciptaan istilah itu kadang ngawur dan mengada-ada. Teknik pemasaran ‘jadul’ yang sampai sekarang tetap ampuh. Siap-siap saja nanti akan muncul genre baru entah memakai istilah apa lagi.

Potensi bakal terjadi kontroversi atas terbitnya buku ini tentu sudah diperkirakan. Kontroversi jelas mengundang keriuhan. Sisi positifnya, buku ini akan menarik perhatian dan diperbincangkan. Dari segi pemasaran, buku ini berhasil menciptakan kecipak di tengah pasar sastra yang cenderung datar tanpa keriuhan. Sudah pasti pro-kontra akan muncul. Agar kalayak tak meliar, saya melihat lembar penutup berjudul Yang Indah dan yang Luput sebagai halaman peredam sekaligus apologia. Lembar ini menjadi halaman penampung nama-nama sastrawan yang tak masuk daftar pilihan Tim 8.

Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh memang sepenuhnya milik penyusunnya. Pembaca boleh menerima, silakan juga kalau menolak isi buku yang tersaji. Hal lain termasuk asumsi pembaca atas penerbitan buku juga tak bisa dibendung. Saya melihat, buku ini semacam barter untuk pendanaan PDS H.B. Jassin. Ini tentu saja masih berupa asumsi. Bisa benar, bisa tidak. Berapa nominal yang telah digelontorkan Denny JA untuk PDS H.B. Jassin dan atau Tim 8, itu bukan urusan saya, bahkan memang benar-benar ada atau tidak. Yang pasti menurut saya, penerbitan buku ini adalah sebentuk usaha mengabadikan kebodohan. Sudah jelas kambing, masih juga dimasukkan ke dalam kelompok harimau dengan alasan yang dicari-cari dan dicocok-cocokkan, misalnya karena sama-sama berkaki empat.

Raja Philip II atau Felipe II

Sekadar melongok ke belakang, di Spanyol masa pemerintahan Raja Philip II atau Felipe II (21 May 1527-13 September 1598), buku semacam ini barangkali akan masuk Index Librorum Probiturum karena ada penyimpangan di dalamnya dan penulis serta penerbitnya akan digantung (Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, Fernando Baez, halaman 157). Untungnya, ini Indonesia, dan sekarang.

Sumber gambar: koleksi pribadi dan di sini

2 COMMENTS

  1. kambing tetap kambing, walau duduk di antara harimau.

    btw aku tak mau ribet dg soalan ini. tokh itu proyeknya tim 8. boleh jadi niat bikin buku cuma buat cari duit, bukan buat melengkapi sejarah sastra Indonesia. aku tak akan penasaran untuk membeli atau meminjam buku itu. atau mempromosikannya di twitter melalui percekcokan yg kadang membuat kita terpancing menjadi merasa lebih baik dari yg dipersoalkan.

    tapi. gue suka permulaan tulisan ini. keren sadis!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here