mendadak crotIni merupakan tulisan pertama dari #RantaiCerita yang bertopik #Crot.  Peserta dari cerita berantai ini berjumlah enam orang yaitu @wkf2010, @abahzoer, @1bichara, @erfanonalakiano, @rudigints, @mataharitimoer. Semua peserta bebas mengembangkan cerita berdasarkan imajinasi masing-masing. Semua nama dan kejadian dalam cerita ini adalah fiktif belaka. Apabila ada kesamaan, salah sendiri sama! Selamat menikmati.

Crot! Jidat Manov yang mengkilat belepotan cairan putih kehijau-hijauan. Diusapnya cairan itu. Telapak tangan yang digunakan untuk mengelap dia sorongkan ke depan hidung.
“Bangsat! Burung, bangsat!” Manov nanar melihat ke atas sambil mengacungkan tangannya yang berlumur tahi burung. Setelah beberapa saat, tangannya dia peper-peperkan ke batang pohon yang ada di sebelahnya sebelum ke celana. Jorok! Ya, memang. Seperti itulah seorang Manov.

Nama lengkapnya Iraha Manovara. Apa artinya, Manov sendiri tidak tahu. Ketika ditanyakan ke ayahnya, dia hanya menjawab nama itu terdengar bagus di telinga. Ayah Manov tidak peduli apakah itu nama laki-laki atau perempuan. Bayi laki-laki yang dilahirkan 30 tahun lalu akhirnya menyandang nama itu. Manov sendiri bangga dengan nama itu setelah dia mengerti arti memiliki sebuah nama. Dia merasa seperti orang Rusia, negara impiannya yang dia ingin datangi. Teman-temannya memanggil dia Manov. Dia dikenal oleh mereka sebagai mantan demonstran. Bukan seorang demonstran yang melakukan aksinya karena sebuah idealisme tetapi sebagai cara untuk tetap bertahan dalam kehidupan di negara yang karut marut seperti ini. Pekerjaan yang menjajikan karena banyak politisi kotor, pejabat korup, dan pengusaha rakus membutuhkan penjual jasa seperti dia. Sekali melakukan demo, Manov bisa mengantongi penghasilan tiga juta.

Manov tidak lagi berdemo sekarang. Pekerjaan itu dia tinggalkan setelah mengenal seorang gadis cantik berambut panjang terurai. Seorang penyanyi dangdut bersuara sopran. Sastrianing atau biasa dipanggil Aning telah membuatnya bertekuk lutut. Karena pesona dari kekasihnya itu, Manov memutuskan berhenti berdemo kemudian menggunakan uang yang berhasil dia kumpulkan untuk modal usaha. Sebuah kios khusus menjual Blackberry dia buka di Botani Square. Penghasilan dari kios itu ditambah pemasukan dari hasil manggung Aning akan mereka gunakan untuk biaya pernikahan kelak. Mereka berdua mulai merajut mimpi-mimpi mereka menuju ke pelaminan.

***

Aning kecil tinggal bersama orangtua dan kedua adiknya di sebuah desa di wilayah Tabanan, Bali. Ayahnya yang pelukis dan ibunya yang penari menjadikan dia memiliki darah seni. Tidak heran ketika Aning berusia tiga tahun, dia sudah mematut-matut di depan cermin sambil berlagak seorang penyanyi. Di usia itu suaranya sudah terdengar jernih. Seisi rumah sangat suka dan terhibur setiap kali dia menyanyi meskipun tidak jelas liriknya. Kadang-kadang malah tidak ada yang tahu dia itu sedang mendendangkan lagu apa. Karena suaranya yang indah, semua orang tidak mempermasalahkan. Kebiasaan dia berada di depan cermin sambil bernyanyi masih Aning lakukan hingga sekarang ketika usianya sudah menginjak 21 tahun.

Aning yang sering mengikuti ibunya pentas membuatnya sangat mencintai seni. Ibunya telah melatihnya bukan hanya bagaimana menari di panggung dengan baik juga olah vokal. Hingga suatu ketika, saat peresmian patung Garuda Wastu Kencana, ibu Aning pentas bareng dengan seniman dari Bogor bernama Idang Suja’i. Seorang pimpinan kelompok musik dangndut OM. Irama Kota Hujan. Ibu Aning sangat berharap Idang Suja’i bersedia melatih Aning.
“Kang Idang, senang banget bisa ketemu lagi,” ibu Aning mengawali percakapan.
“Saya juga senang Mbok Darte. Bagaimana kabar Bli Ketut? Kok tidak kelihatan?” Idang Suja’i menjawab sapaan ibu Aning, juga menanyakan kabar suaminya. Setelah tegur sapa itu, ibu Aning selanjutnya mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Idang sebagai guru olah vokal bagi Aning. Dia yakin Idanglah orang yang tepat untuk menjadikan Aning penyanyi dangdut terkenal.

Aning mengikuti Idang Suja’i kembali ke Bogor. Idang meluluskan keinginan ibu Aning untuk melatih putrinya. Sejak saat itu Aning tinggal di rumah Idang yang besar dan asri di wilayah Sukaraja. Setiap hari selama dua jam Idang melatih Aning menyanyi sebagai penyanyi dangdut yang baik, kecuali ada jadwal manggung. Bukan itu saja. Idang juga melatih bagaimana tampil di atas panggung dengan menarik tapi tetap menjaga norma kesopanan. Hingga tanpa terasa, Aning telah berada di rumah Idang selama satu tahun dan telah menjelma menjadi seorang penyanyi dangdut dengan suara emas dan gaya panggung memikat. Aning telah menjadi penyanyi wanita andalan OM. Irama Kota Hujan.

***

OM. Irama Kota Hujan mendapat tawaran manggung sebuah perusahaan distributor obat-obatan dari Jakarta. Meskipun yang menyewa perusahaan di Jakarta, pentasnya sendiri di Bogor. Perusahaan tersebut sedang mempromosikan sebuah produk kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah sekaligus menginformasikan kantor cabang barunya di Bogor. Untuk menarik pengunjung, OM. Irama Kota Hujan yang sudah sangat dikenal masyarakat Bogor merupakan pilihan yang tepat.

Hari Minggu langit Bogor biru cerah. Sebuah panggung di pelataran parkir depan pusat perbelanjaan Botani Square telah berdiri. Di tempat itulah kelompok musik pimpinan Idang Suja’i akan tampil. Jam telah menunjukkan pukul 09.45 WIB. Lima belas menit lagi pertunjukkan dimulai. Namun demikian, di depan panggung telah berkerumun penonton sementara di atas panggung teknisi sedang mempersiapkan peralatan musik. Agak terpisah dari kerumunan, Manov memperhatikan orang-orang tersebut sambil memutar-mutar rokok di tangannya. Dia berdiri di tepi selokan kota yang berair hitam dan berbau busuk. Sebenarnya dia berada di tempat itu bukan semata-mata akan menyaksikan penampilan OM. Irama Kota Hujan tetapi lebih karena hal lain. Hari itu, tepat jam 10, segerombolan orang akan melakukan demo di Tugu Kujang. Sebagai pemimpin demo, dia tidak ikut dalam rombongan tetapi memastikan demo akan berjalan dengan lancar. Seperti biasa dia akan berada di balik layar.

Dari tiga arah yang berbeda terlihat barisan massa menuju Tugu Kujang. Di depan mereka terbentang spaduk bertuliskan ‘Turunkan walikota durjana!’, ‘Kebiri walikota!!’, Walikota pengumbar syahwat’.
“Allah hu akbar!”
“Allah hu akbar!”
“Allah hu akbar!”
Orang-orang di pinggir jalan yang dilewati menyaksikan barisan pendemo. Jalanan menjadi macet. Polisi sibuk mengatur lalu lintas. Manov tersenyum sambil menyaksikan orang-orang bayarannya sudah bergerak. Tangannya sibuk memutar puntung rokok yang masih menyala. Tiba-tiba terdengar suara dari panggung musik dangdut.
“Assalamu’alaikum! Apa kabar Bogor?!” Suara Idang Suja’i terdengar jelas.
Acara musik dangdut ternyata sudah digelar. Di sekitar tempat itu banyak kerumunan manusia dengan kepentingan masing-masing. Panggung musik dangdut dan Tugu Kujang dikerubuti massa. Para biduan dangdut mendendangkan beragam lagu, para demonstran menyanyikan kepentingan mereka. Manov puas menikmati demo orang-orang bayarannya yang diisi dengan orasi dan membaca puisi melalui megafon. Di tangannya terdapat rokok baru yang dia putar-putar.

Suara Idang kembali terdengar. Beberapa penyanyi telah melantunkan lagu-lagu dangdut baru maupun lama.
“Bagaimana ndangnduter Bogor, mau lanjut?”
“Lanjuuuuutttt…”
“Baiklah. Kali ini saya akan tampilkan penyanyi OM. Irama Kota Hujan yang cantik jelita dan bersuara dahsyat. Harap ke atas panggung… Aaaaaniiiingggg Tooongggg Tooonggg…”
Penonton bersorak-sorak. Aning yang kini menjadi penyanyi andalan orkes melayu pimpinan Idang Suja’i mendapat tambahan nama panggung Tong Tong di belakang nama aslinya. “Setiap penyanyi harus punya nama panggung,” begitu kata Idang. Dengan langkah gemulai Aning melangkah ke tengah panggung. Senyumnya merekah. Penonton bertepuk tangan meriah lupa susah. Di tempat Manov berdiri, dia masih bisa melihat paras ayu Aning. Matanya tak berkedip. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Tangannya yang memutar-mutar rokok yang belum lama dinyalakan disorongkan ke mulut. Rokok tersebut dihisapnya. Untuk beberapa saat dia tidak menyadari yang menempel di bibirnya adalah ujung rokok yang menyala.
“Auuuhhhh!” Manov baru sadar apa yang terjadi setelah bibirnya melepuh. Karena kaget, dia lupa di mana dia berdiri. Badannya miring ke belakang bergoyang-goyang. Dia berusaha jaga keseimbangan tetapi gagal total. Crot! Karena jatuhnya miring, setengah badannya sebelah kiri masuk ke selokan. Sebagian air selokan yang hitam dan berbau busuk masuk ke dalam mulut. Manov terbatuk-batuk sambil berusaha berdiri. Beberapa orang yang berada di dekatnya mencoba menariknya berdiri. Kaos putih dan celana cordoray coklat kesayangannya belepotan air selokan busuk. Salah satu penolongnya menunjukkan kran untuk mencuci badan. Begitu mempesonanya Aning sampai membuat bibirnya terbakar kemudian masuk selokan. Dia dendam karena kejadian itu. Manov bertekad untuk mendapatkan Aning.

***

Semenjak tragedi selokan busuk, Manov mati-matian mencari informasi di mana Aning bisa ditemui. Usahanya tidak sia-sia. Entah dengan ilmu pelet apa, Manov akhirnya mendapatkan cinta Aning. Mereka saling jatuh cinta. Kehidupan menjadi begitu indah dan menyenangkan. Setiap ada kesempatan, mereka selalu pergunakan untuk jalan bersama: nonton bioskop, wisata kuliner, atau sekadar menikmati udara sejuk di sore hari. Hati mereka berbunga-bunga.

Bagi Manov, Aning adalah segalanya. Apapun yang diminta Aning, tidak sanggup dia untuk menolaknya. Seandainya Aning meminta dia merampok Bank Samiun yang ada di seberang Kantor Pos Besar Bogor, dengan senang hati dia akan melakukan. Meski Aning tidak meminta Manov berhenti menerima pekerjaan untuk melakukan demo, pesona gadis Bali ini seolah mengatakan itu. Suara Manov yang menggelegar saat demo ternyata tak terdengar, kalah oleh suara pesona paras ayu Aning. Bahkan tanpa diminta, Manov menuliskan sebuah puisi norak untuk menyenangkan hati kekasihnya itu.

MENDADAK CROT

senyummu kikik kikuk diriku
tawamu kakak kokok hatiku
mendadak crot
cintamu membalur bilur hati melulur
mengulir nurani mengular kelar
lahir rindu mengalir hilir
adamu mendadak crot

***

Dua tahun sudah perjalanan cinta Manov dan Aning. Manov telah memutuskan berhenti berdemo demi cintanya kepada Aning. Mereka sepakat mengumpulkan uang untuk pernikahan mereka tahun depan. Manov membuka kios Blackberry di Botani Square, Aning terus bernyanyi untuk mengais rejeki. Hanya satu yang mengganjal hati mereka berdua, orangtua Aning belum tahu hubungan mesra mereka meski sudah jalan dua tahun. Idang Suja’i yang ketitipan Aning juga tidak mengetahui percintaan itu. Aning begitu pandai menyimpan kisah kasihnya dengan Manov hingga tidak terendus oleh Idang. Meskipun demikian, masalah ini harus segera diselesaikan. Baik orangtua Aning maupun Idang Suja’i harus tahu hubungan mereka. Manov dan Aning akhirnya sepakat untuk memberi tahu mereka. Sebelum ke Idang Suja’i, Aning ingin orangtuanya dahulu yang dikabari. Oleh karena itu, Aning mengharap Manov mau datang ke Tabanan untuk langsung berbicara dengan kedua orangtuanya. Manov setuju.

***

Manov sudah satu jam berada di bawah pohon mahoni besar di pinggir jalan itu. Dia sedang menunggu Aning. Sesuai janji, mereka berdua akan berangkat ke Tabanan hari itu. Aninglah yang memintanya menunggu di tempat itu. Crot! Jidat Manov yang mengkilat belepotan cairan putih kehijau-hijauan. Diusapnya cairan itu. Telapak tangan yang digunakan untuk mengelap dia sorongkan ke depan hidung.
“Bangsat! Burung, bangsat!” Manov nanar melihat ke atas sambil mengacungkan tangannya yang berlumur tahi burung. Setelah beberapa saat, tangannya dia peper-peperkan ke batang pohon yang ada di sebelahnya sebelum ke celana. Jorok! Ya, memang. Seperti itulah seorang Manov.

Aning belum juga terlihat batang hidungnya. Manov mulai gelisah. Sms yang dia kirimkan tidak dijawab. Nomornya tidak aktif saat dia mencoba menghubunginya. Seorang anak laki-laki bersepeda mendekatinya. Diulurkan tangannya yang memegang amplop warna coklat.
“Kata tante cantik yang rambutnya panjang, surat ini untuk om.”
Manov bengong.

Sumber gambar: di sini

(Bersambung ke blognya @abahzoer)

15 COMMENTS

  1. hahahaaaaaaaaaa

    kasihan banget manovara itu. nasibnya gak jauh dari tai burung.
    tapi kenapa si Aning nitipin surat ya? apakah surat tagihan utang? atau surat permohonan bantuan dana acara #GBB?

    silakan dilanjutkan ya @abahzoer!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here