memuliakan kentutRupanya artikel berjudul Reuni Virtual merupakan tulisan terakhir untuk bulan September. Satu lagi gagasan tertinggal di bulan itu yang bisa saya tuangkan menjadi sebuah tulisan ternyata menjadi artikel pembuka di bulan Oktober. Ide tulisan tersebut adalah tentang sebuah pekerjaan sia-sia namun kadang kita lakukan.

Beberapa menit yang lalu saya menulis di status Facebook saya tentang sebuah pekerjaan sia-sia. Jelas sia-sia, tetapi karena pelakunya anak-anak, semua orang kemungkinan besar akan menganggapnya lucu saja meskipun aneh. Coba anda baca status yang saya tulis ulang di bawah ini dan silakan dinilai. Saya yakin anda pasti memiliki penilaian yang sama.

Memang menjijikkan dan sebuah perbuatan sia-sia tetapi itulah yang kadang dilakukan anak2, kadang orang dewasa juga. Kedua anak saya sejak sblm lebaran hingga skg lagi menghitung kentutnya sendiri. Yang gede kelas 1 SMA sdh mengumpulkan 173, lebih banyak dari adiknya yg kls 5 SD yg baru dpt 65. Perasaan saya dulu nggak kayak gitu deh.

Apa coba untungnya dengan menghitung kentut? Namun bagi mereka, ternyata jumlah perolehan kentut itu berbanding lurus dengan tingkat kebanggaan dan keceriaan kedua anak itu. Semakin banyak kentut yang mereka hasilkan semakin bangga dan senanglah mereka. Sebagai pihak yang tinggal serumah, kadang-kadang saya terkena imbasnya. Baunya itu lho. Mereka kadang saya omeli ketika membuang kentut sembarangan. Saat ingat, mereka memang mengendalikan untuk kentut di tempat yang agak jauh. Namun kadang kala, mereka suka lupa hingga kelepasan membuang bom yang bikin neg itu. Kalau sudah begitu, meskipun mereka saya semprot dan marahi habis-habisan, percuma saja, sebagian gas tersebut sudah terhisap dan bersarang dalam paru-paru. Bau busuk terlanjur menguar ke mana-mana dan memakan korban.

Bau busuk kadang menguar dalam rumah akibat proyek absurd yang dilakukan kedua anak-anak tersebut. Namun di satu sisi, saya lega dan senang dengan proyek β€˜penting’ yang sedang mereka jalankan. Dengan memproduksi kentut setiap hari, itu kan artinya kesehatan pencernakan kedua anak saya itu masih bagus. Kentut itu kan sebuah mekanisme pelepasan gas berlebih yang ada dalam lambung? Jika tidak dikeluarkan, si pemilik perut bisa merem-melek, bukan keenakan tapi menahan sakit. Apa yang bakal terjadi bisa anda bayangkan seperti balon yang dimasukin udara terus-menerus. Balon akan meletus bila volume udara melebihi daya tampungnya. Perut memang tidak akan meletus saat di dalamnya penuh dengan gas. Namun demikian, jangan sampai deh perut anda kepenuhan gas, pasti sengsara juga tidak membawa nikmat. Bila ingin mengetahui betapa sengsaranya dikerjain oleh barang yang tidak terlihat dan terasa tapi bisa dideteksi keberadaannya dari baunya silakan baca tulisan yang berjudul Kentut, Kurindu Hadirmu dan Kentut V.2 ini.

Bisa anda lihat? Meskipun kentut menjijikkan, rupanya saya suka membahas gas memabukkan itu. Buktinya, tulisan tentang kentut ini ternyata bukan yang pertama. Ada dua atau mungkin bisa lebih, karena saya tidak ingat, artikel kentut yang saya tulis. Tulisan-tulisan itu bukan bermaksud jorok melainkan untuk menunjukkan betapa powerful-nya kentut. Jadi, jangan pernah sekali-sekali menyepelekan kentut. Bila anda suatu saat jadi korban kentut yang berulah, barangkali anda mau dan rela jika diharuskan memuliakan kentut.

Barangkali anda ingin bergabung dalam proyek kedua anak yang tersebut dalam status Facebook di atas? Saya yakin mereka tidak keberatan dan justru akan senang bila ada tambahan anggota baru. Salam kentut!

Sumber gambar: 4.bp.blogspot.com

16 COMMENTS

  1. hahaha, segar mas…
    kentut itu sebenarnya kan manusiawi. kalo menjadi hal yang tidak senonoh, barangkali itu karena baunya. namun ada juga kan kentut yang tidak bau? jadi, katakanlah keringat saya bau, apakah saya melakukan hal yang tidak senonoh? πŸ™‚

  2. @Siti Fatimah Ahmad: baguslah jika bunda Siti paham dg yg saya tulis. barangkali saya harus terus membaca agar semakin paham bhs malaysia. btw, saya juga tlh membaca tetralogi laskar pelangi, hanya saja saya kecewa berat dg buku yg keempat. isi buku terakhir itu tidak bagus menurut saya.

  3. @Wong KamFung

    Alhamdulillah, saya faham akan penulisan mas. Kalau dikatakan memahami penulisan dalam bahasa Indonesia, saya memberi 70% untuk markah penguasaan saya kerana sudah hampir 2 tahun saya melayari dunia maya di Indonesia, membaca artikel dan berusaha menulis yang boleh saya fahami. malahan saya kini punya hampir seribu sahabat dari Indonesia melalui maya ini.

    Kalau selalu membaca mas, pasti mas juga dapat memahami bahasa Malaysia kerana laras bahasanya hampir sama dengan bahasa melayu di Pulau Belitong… saya peminat tegar Andrea Hirata. Semua novel aslinya saya sudah miliki dan dibaca.

    Salam ceria di sore yang indah. πŸ˜€

  4. @Siti Fatimah Ahmad: bgitulah bunda yang namanya anak2, benar apa yang bunda Siti katakan. sekedar bertanya, apakah bunda paham dg bahasa yg saya gunakan? mohon maaf, saya merasa bodoh ketika harus memahami bahasa malaysia karena ada kata-kata yang membingungkan meskipun saya sudah berusaha keras. itulah sebabnya saya selalu menebak-nebak untk bisa mengerti aritkel maupun komentar yg bunda tulis di sini. meskipun bahasa kita serumpun, nyatanya ada perbedaan yang cukup menyulitkan saya. bagaimanapun juga, saya mengucapkan terima kasih bunda bersedia mengunjungi gubuknya orang kampung ini. hehehe…
    @Miftahgeek: kalo sara mending nggak usah deh Mif πŸ˜‰

  5. Assalaamu’alaikum Wong Kam Fung

    Hahahaha….. anak-anak selalu membuat haru biru dalam tingkah dan ulah yang sangat kreatif dalam perbuatan dan pemikiran mereka. Saya menyukai cara fikir mereka mas. Pasti anak-anak ini aktif, cergas dan sering melakukan hal yang tidak pernah terfikir oleh orang tuannya. Genius. Salut dari saya.

    Hehehe… sok bapa mereka yang keterlaluan dalam membicarakan mulianya ketut ini sehingga banyak postingan tentangnya. Saya sangat tertarik dengan informasi kentut yang mas kongsikan. Sememangnya manusia harus bersyukur kepada Allah atas nikamt ketut yang dikurniakan, jika tidak pasti perut kita akan meletup dan angin akan berjinak di dalam badan bagi belon yang dipompa. Semua itu nikmat dari Allah walau ia hanya sebunyi kentut. heheheh, betul ke padannnya mas.

    Saya barusan turun dari pesawat dari Kuala Lumpur ke Sibu yang memakan masa hampir 2 jam. Sungguh sakit menahan nafas dan mendapat udara segar saat seorang atau beberapa penumpang pesawat yang terkentut dan saking siksanya, tidak diketahui siapa pelaku yang membunuh nikmat kehidupan dalam pesawat yang sebentar itu. πŸ˜€

    Salam mesra dari saya di Sarawak. πŸ˜€

  6. Saat kecil dulu suka ada lomba paling keras kentut. Dan saya selalu saja sulit untuk melakukannya. Sekarang sih dah bisa keras. Tapi kebayang kalo saya kentut di Mie Janda saat pelanggan banyak πŸ˜€

  7. sebenarnya saya ketawa baca statusnya plus ulasannya. tapi ada sedikit rasa sedih sedikit krn betul kata Anda, kentut itu sehat. kalau Anda tidak bisa kentut gara2 sayuran yang ada di urap, berbeda dng suami saya. dua bln yg lalu suami saya kesakitan habis karena merasa perutnya kembung. awalnya juga krn makan buah trus kembung, dihantam pakek tolak angin eh malah perih gak tambah gak keruan. gak bisa kentut walaupun sudah dipaksakan dan didorong dengan obat dan kerokan. ternyata setelah dicek darah ada gangguan ginjal πŸ™

    nah saya jadi ingat waktu dia sudah pulang opname, suami saya bilang : kalau sudah begini, namanya kentut itu sebuah barang mewah πŸ˜€

  8. Akhirnya jadi PertamaX…cihuy…
    wah lucu juga pak, kentut sampai dihitung..
    tapi disitulah letak dunia anak-anak dan dunia remaja, semuanya terkesan alami dan ceria… dan menyangkut persoalan kentut yang ampe di itung itu adalah hal yang kreatif dan jarang orang yang punya ide menghitung kentutnya…hehe πŸ™‚

    semoga keceriaan dirumah tetap ada selalu tiap hari..
    salam Perkawanblogan πŸ™‚

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here