Kematian itu sudah pasti datangnya. Tak perlu ditakuti, tak usah dihindari. Orang biasa, orang ternama, jenis kelamin apapun, usia berapapun, semua akan dihampiri. Dia akan hadir entah karena suatu penyakit atau penyebab yang lain. Jangankan sehari, dalam hitungan detikpun kematian pasti menimpa siapapun yang sudah waktunya mendapat giliran. Itu bisa ditemukan di lingkungan tempat tinggal, di tempat lain, atau terbaca di media.

Kematian memang terdengar mengerikan tetapi faktanya justru ada orang-orang yang dengan sengaja mempermainkannya. Maut yang sudah pasti datang tanpa dapat diduga-duga, oleh orang-orang ini dia dihadirkan dengan sengaja dan terencana. Dengan alasan yang berbeda-beda, mereka mendekati atau bahkan mendatangi kematian yang secara umum disebut bunuh diri. Bila sudah seperti ini, apakah kematian akibat bunuh diri bisa disebut sebagai sebuah takdir?

45 menit selepas tengah malam, telepon genggam saya berbunyi karena hadirnya sebuah pesan singkat. Sayangnya pada saat itu saya sudah tidur sehingga baru paginya saya mengetahui ada sms dari seorang sahabat tersebut. Begitu pesan itu terbaca, saya begitu terkejut. Berita yang saya terima itu betul-betul di luar dugaan. Isinya membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus prihatin.

Apa yang terjadi dengan sahabat saya yang diberitakan dalam sms tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Seperti itukah langkah yang harus dipilih untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi? Saya tidak akan menyalahkan dia atas keputusan yang diambil. Sahabat saya ini pasti memiliki alasan atas perbuatan yang dia lakukan meskipun orang-orang mencelanya. Saya pribadi hanya menyayangkan, mengapa bunuh diri menjadi solusi baginya.

Tindakan bunuh diri bisa dipastikan menjadi pilihan bagi mereka yang menderita depresi. Artikel psikologi yang pernah saya baca menyebutkan tindakan itulah yang lazim dan pasti diambil penderita depresi jika tidak segera ditolong. Penderita merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi sehingga dia beranggapan untuk apa hidup. Rasa putus asa yang tak tertahankan lagi itu menyebabkan nalarnya dikalahkan oleh emosi. Dia tak lagi mampu berpikir dengan tenang dan jernih. Sangat mengkhawatirkan memang tetapi sebelum terlambat kita masih memiliki kesempatan untuk membantu dia mengembalikan semangat hidupnya. Mengembalikan kesadaran bahwa dirinya memiliki manfaat bagi orang lain, banyak orang yang menyayangi dia, diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah cara-cara yang bisa dilakukan di luar penanganan medis.

Menghadapi kenekatan seorang sahabat yang ingin mengakhiri hidupnya ini bukanlah hal pertama bagi saya. Dulu saya pernah menghadapi situasi seperti ini. Ketika teman baik saya itu dikabarkan meninggal, tentu saja saya sangat terkejut. Berdasarkan kabar yang saya terima, dia nekat mengakhiri hidupnya karena menderita penyakit yang tak kunjung sembuh. Saya sendiri tidak bisa menghadiri pemakamannya. Hanya bela sungkawa dan doa yang bisa saya panjatkan. Meski saya tidak dapat membuktikan, dalam hati saya tak percaya bahwa dia mempermainkan kematian seperti itu.

Kematian itu bukan sebuah permainan, jadi tak perlu dipermainkan. Tak perlu didatangkan atau didatangi, bila sudah tiba saatnya, dia akan hadir dengan sendirinya. Mati dan hidup adalah dua dunia yang akan dijalani semua mahluk hidup. Tak pantas disebut hebat bila dia berani mati melalui bunuh diri. Orang yang berani hiduplah yang patut mendapat acungan jempol, karena dia tidak menjadi pengecut dalam menghadapi segala resiko kehidupan ini.

Daripada mempermainkan kematian, kan lebih asyik memainkan kehidupan ini?

Sumber gambar: di sini

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here