Biarlah apa kata orang tentang saya. Yang pasti, tujuan saya membunuh adalah demi kebaikan semua pihak termasuk yang menjadi korban. Anda bisa menerima atau tidak, penghilangan nyawa itu telah saya lakukan. Namun demikian, sebelum anda terlanjur mencerca dan mengutuki saya sehingga berbuah dosa, alangkah baiknya anda membaca dahulu tulisan ini sampai selesai. 😉

Sebenarnya peristiwa penghilangan nyawa ini tidak akan terjadi jika yang bersangkutan memiliki tenggang rasa. Dalam kehidupan bertetangga, rasa saling menghargai dan menghormati jelas sangat diperlukan agar hidup ini menjadi harmonis. Jika kita semua melakukan itu, saya yakin harmoni kehidupan ini akan bisa dijaga. Kalaupun hidup nyaman tidak bisa dicapai seutuhnya, setidaknya penyebab ketidaknyamanan bisa diminimalisir. Bila ada tetangga yang tidak bertenggang rasa, sudah pasti akan ada tetangga lain yang menjadi korban alias merasakan ketidaknyamanan akibat perbuatan tersebut. Dan jika yang jadi korban itu tidak terima kemudian muncul percecokan, atau sampai berujung kematian, mau nggak mau kita harus memakluminya. Semut yang binatang kecil saja jika diinjak akan menggigit, ya toh?

Mungkin anda akan mempertanyakan mengapa sampai harus mengambil tindakan penghilangan nyawa bila terjadi ketidakharmonisan dalam hidup bertetangga. Seharusnya dilakukan dialog atau sejenisnya untuk menyelesaikan perselisihan. Saya setuju dengan ide itu. Sayangnya hal itu tidak dapat dilakukan. Bagaimana anda bisa berdialog dengan tetangga yang bermasalah dengan anda jika dia tidak mau menemui anda? Mana mungkin kita berkomunikasi bila bahasa yang digunakan tidak kita pahami? Saya tidak perlu menyebut dia dari suku apa atau mana karena itu tidak penting. Gerakan tubuh memang dapat menjadi bahasa isyarat tetapi jangan terlalu banyak berharap akan memahami makna yang tersirat. Bisa-bisa bukannya menjadi jelas titik persoalannya tetapi malah semakin banyak terjadi kesalahpahaman. Itulah yang terjadi pada saya. Dia tidak mau saya temui dan saya ajak bicara baik-baik. Entahlah apa alasannya yang menyebabkan dia seperti itu. Barangkali saya dianggap sebagai ancaman. Meskipun faktanya anggapan dia tersebut tidak salah.

Proses dialog sudah dicoba diusahakan tetapi memang kenyataannya hal itu tidak mungkin dilakukan. Harapan untuk bisa saling menghargai dan saling bertoleransi hanya tinggal harapan. Kalau hanya masalah tidak mau berdialog barangkali saya masih bisa terima. Namun ketika dia berpanjang tangan alias suka mencuri dan melakukan vandalisme alias merusak barang-barang yang ada di dalam rumah, saya tidak bisa mentolerir lagi perbuatannya itu. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Saya harus mengambil tindakan. Saya akan menemuinya nanti hari Minggu pagi atau paling cepat malam Minggu. Saya harus memaksanya menemui saya, suka atau tidak, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dia telah lakukan.

Ternyata saya harus menjumpai dia satu hari lebih cepat dari yang saya rencanakan. Dia telah membuat ulah di tengah-tengah orang pada nyenyak tidur. Karena kelakuannya yang menyakitkan hati itu, saya abaikan rencana saya menemuinya di malam Minggu atau Minggu pagi. Pukul tiga dini hari di hari Sabtu, saya bersama istri sambil masing-masing memegang penggembuk yang terbuat dari fiberglass mengendap-endap ke tempat tetangga si pembuat ulah itu. Nggak peduli apa kata orang nanti dan juga demi kebaikan dia juga agar tidak berbuat dosa lagi. Saya suruh dia keluar dari tempatnya. Begitu dia menunjukkan batang hidungnya, saya dan istri kemudian saling berlomba untuk menggebukinya. Di saat para tetangga tidur nyenyak, sepasang suami-istri telah menghilangkan nyawa tetangganya yang lain. Itu semua dilakukan demi kebaikan semua pihak, khususnya seluruh manusia penghuni rumah. Tikus yang selama ini menjadi tetangga kami dan telah tinggal lama di dalam rumah tidak akan diapa-apain jika dia tidak merusak barang-barang dan tidak mengotori dengan kencing dan tahinya.

Tetanggaku, semoga kau masuk sorga.

Sumber gambar: di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here