membincang sociopreneur
(gambar diambil dari slide Dee)

Saya kenal istilah entrepreneur atau entrepreneurship sudah lama sekali, hitungannya puluhan tahun. Sedangkan sociopreneur, ini sesuatu yang baru buat saya. Itulah sebabnya ketika Akber Bogor mengadakan kelas “Menjadi Sociopreneur” di Pesantren Daarul Uluum beberapa waktu yang lalu, tak perlu berpikir dua kali bagi saya untuk memutuskan ikut.

Menarik, saat Kartika Djoemadi yang sering disapa Dee memaparkan sociopreneur dalam kelas tersebut. Dia yang memang praktisi sociopreneurship jelas menguasai tetek-bengek bahasan tersebut. Dalam uraian di kelas berbagi yang diadakan Akber Bogor itu, Dee menjelaskan perbedaan mendasar antara entrepreneur dengan sociopreneur. Entrepreneur sebagaimana yang saya ketahui merupakan orang yang menjalankan usaha untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Bisa dikatakan, orientasinya adalah keuntungan. Beda dengan sociopreneurship. Keuntungan jelas juga menjadi fokus seorang sociopreneur, namun bukan semata-mata itu. Selain mencari keuntungan, sociopreneur juga memikirkan bagaimana hasil usahanya bisa membuat karyawan dan masyarakat di sekitar tempat usahanya menjadi pengusaha seperti dirinya. Dia berkeinginan untuk membangun dan mengembangkan komunitasnya agar lebih berdayaguna. Sociopreneuradalah penebar virus kewirausahaan bermodal sosial.

Modal sosial? Ini yang menarik. Sebelum ikut kelasnya Dee, yang tergambar di kepala saya perihal modal sosial atau social capital adalah keterlibatan masyarakat dalam menjalankan usaha. Ada kata sosial di situ, saya mengartikan ada sesuatu dalam masyarakat yang bisa dijadikan modal untuk mulai merintis sebuah usaha. Meskipun tidak seratus persen seperti dugaan saya, ternyata masih nyambung juga dengan apa yang dipaparkan Dee. Ternyata yang dimaksud dengan modal sosial adalah kemampuan dasar (core competence) yang dimiliki setiap individu. Jenisnya macam-macam. Beberapa di antaranya misalnya:

  • Kemampuan berkomunikasi
  • Kemampuan membangun jejaring (networking)
  • Kemampuan menulis
  • Kemampuan menggunakan kamera
  • Kemampuan menggunakan media sosial
  • Kemampuan memperbaiki alat alat elektronik

Siapa pun bisa menjadi sociopreneur. Kiat menjadi sociopreneur yang dibagikan Dee cukup mudah dan sederhana untuk diikuti. Asalkan berkomitmen dan terus berusaha, bukan hal mustahil bisa menjadi sociopreneur kondang seperti Bill Gates dan Sandiaga Salahuddin Uno. Seorang sociopreneur harus:

  • Berpikir positif dan bijaksana, bahwa membangun usaha tidak selalu harus mendapatkan keuntungan besar.
  • Kreatif dan Konsisten dengan ide ide dasar yang otentik.  Jangan lupa untuk selalu membagi ide ide tersebut kepada yang membutuhkan.
  • Sabar dan pantang menyerah, jika ada kendala, anggap saja itu sebuah pembelajaran penting yang berharga.
  • Ikuti ajang kompetisi Sociopreneur yang ada di tingkat nasional maupun internasional.

Membandingkan entrepreneur dengan sociopreneur, kegiatan sociopreneur jelas lebih mendayagunakan masyarakat. Sociopreneur akan menjadi mesin pencetak pengusaha yang lebih berorientasi pada kemandirian masyarakat, bukan pengusaha yang sekadar membagi ikan, tidak kail, bernama CSR (corporate social responsibility).

5 COMMENTS

  1. Dear Mas MT..

    Blogger yang produktif dan selalu membagi ilmunya kepada komunitasnya merupakan contoh sederhana dari seorang Sociopreneur 🙂

    Seorang Blogger yang produktif.. karya-karya dalam blog-nya biasanya diminati dan mendatangkan rezeki.. Blogger menggunakan social capital untuk menjadi blogpreneur.. dan jika secara berkala membali ilmunya kepada komunitasnya maka blogpreneur layak disebut sebagai Sociopreneur..

    Salam 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here