memainkan perasaanKita ini masing-masing punya sensitifitas yang berbeda-beda. Selayaknya, kita perlu menyikapi orang lain dengan perasaannya itu secara berbeda pula. Saya juga melakukan itu, tetapi dengan cara lain. Terus terang, saya suka mempermainkan perasaan. Bukan untuk menyakiti, namun untuk mengajari. Kejamkah? Anda yang menilai. Mudah-mudahan anda mengerti apa yang saya maksud setelah selesai membaca.

Sebagian tulisan saya, banyak atau sedikit, mungkin menyinggung perasaan. Bukan dengan sengaja saya menulis untuk menyinggung perasaan anda tetapi memang saya rencanakan. Maksudnya membuat tulisannya yang saya rencanakan. Jika kemudian membuat perasaan pembaca tersinggung, itu di luar rencana saya. Tidak ada maksud sedikitpun ingin mencederai perasaan anda. Sungguh. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya mohon maaf. Namun bila permintaan maaf ini anda tidak mau terima tidak apa-apa. Toh itu hak anda. Setidaknya, saya telah memohon.

Perbedaan memang kadang menyakitkan. Akan tetapi, jangan pernah menginginkan kesamaan bila anda mengharapkan harmoni. Tidak ada harmoni yang berasal dari keseragaman. Harmoni tercipta karena adanya perbedaan. Tidak mungkin muncul keindahan pelangi bila unsur warnanya sejenis. Begitu juga dengan perasaan, tidak mungkin semua orang memiliki perasaan sama. Kita bukan barang cetakan yang diproduksi pabrik plastik atau patung lilin yang menjadi koleksi museum. Kita ini manusia. Manusia itu mahluk unik. Oleh karena itulah kita berbeda. Aneh dan tidak masuk akal bila anda berharap kita semua harus sama.

Karena perbedaan, muncul keselarasan. Agar selaras, perlu toleransi (pengertian). Masalahnya, toleransi seperti apa yang anda butuhkan? Menyamakan titik toleransi hanyalah sebuah pekerjaan sia-sia. Kecil kemungkinannya setiap orang memiliki ambang toleransi yang sama. Yang ada adalah kesamaan batas toleransi yang merupakan hasil tawar-menawar. Kadang-kadang, diperlukan sebuah kerja keras dan saling memahami untuk mencapai batas ini,

Saya tahu dengan sebenar-benarnya bahwa semua orang memiliki tingkat sensitifitas yang berlainan. Dalam tingkatan ekstrim, sensitifitas perasaan seseorang ada yang begitu peka seperti selaput tipis hingga gampang terobek. Sebaliknya, ada yang sangat rendah sampai-sampai orang lain menjuluki dia tidak punya hati. Kedua jenis manusia dengan sensitifitas yang bertolak belakang ini tentu harus dihadapi dengan cara yang sangat berbeda.

Saya bukannya tidak menghargai perasaan orang-orang yang berada pada dua kutub yang berbeda tersebut, terutama mereka yang tingkat sensitifitasnya begitu tinggi. Saya hanya heran, sering malah, dengan mereka yang, kalau boleh saya mengatakan, suka memanjakan perasaan. Merekalah orang-orang sensitif. Barangkali istilah saya ini kurang tepat, atau berlebihan. Tapi maaf, saya sendiri kebingungan untuk mencari sebutan yang pas bagi mereka. Mungkin John Gray yang punya buku Men are from Mars, Women are from Venus (terbit Mei 1992) punya jawabannya.

Bagi orang-orang yang berhati ’batu’ barangkali kita tidak perlu terlalu berhati-hati saat berbicara dengan mereka. Tidak gampang omongan kita dapat melukai mereka. Namun, jangan sembarangan bertutur dengan si kulit kentang, harus mau memilah dan memilih kata sebelum diucapkan. Begitu juga dengan tulisan. Manusia berhati ’batu’ tidak mudah dijatuhkan oleh sebuah tulisan tetapi si kulit kentang akan gampang terkoyak oleh tulisan sederhana tetapi menusuk bagi mereka.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menginformasikan bagaimana saya menghadapi anda terutama yang begitu sensitif perasaannya. Yakinlah bahwa saya memiliki maksud baik hanya saja caranya yang mungkin agak berbeda. Awalnya perasaan anda akan berdarah-darah, tetapi selanjutnya memiliki tingkat kekebalan dan elastisitas tinggi. Saya hargai perasaan anda tetapi bukan berarti secara otomatis tulisan saya tidak akan melukainya. Bagi saya ini bukan tindakan yang tidak berperasaan, melainkan sebuah pembelajaran mengelola sensitifitas. Kita boleh peka, harus malah, tetapi bukan kelewat sensitif. Jika anda memainkan perasaan, percayalah, saya akan mempermainkannya. Bercitarasa sadiskah saya?

Sumber gambar: di sini

23 COMMENTS

  1. tidak sadis..saya rasa ini sebuah kewajaran dan salah satu bentuk apresiasi dari pak Dhe. Manusia memang diciptakan beragam, karena kita tak bisa hidup menyeorang. Kita pasti memerlukan bantuan. dan apabila dengan tulisan-tulisan Bapak ini, pak Dhe bisa membantu yang lainnya khususnya para blogger kan bagus … top markotop postingan pak Dhe yang ini …^^

  2. @zico: saya juga yakin karakter itu bisa dipilih dan dipelajari sehingga yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, setelah bisa kemudian menjadi biasa. bila sudah biasa maka otomatis akan bisa dan itu terus berlangsung.
    @PeGe: untung bercanda πŸ˜‰ tapi kalo serius juga nggak papa kok berarti siap saya permainkan perasaannya ya? πŸ˜†

  3. dulu saya orang yang bisa dikatakan sensitive terhadap yang sepele sekalipun.. tapi itu nggak bergunan untuk pribadi saya.. dan mulai mencari ilmu untuk memperbaiki kekurangan saya itu. dan ternyata…ketika kita punya niat untuk memilih karankter, entah itu mau tegas, mau melankolis, mau kuat, atau sensitif.. ternyata kita bisa membentuknya sendiri. dan tentunya latihan….terus waktu jualah yang mampu kita jadi bijak… πŸ™‚ dan terhindar dari sensitif akut… πŸ™‚

  4. Kalau menghadapi orang yang sensi kadang memang susah Pak
    Dikit2 ngambek
    Dan ternyata orang sensi itu gak ngaruh dengan umur dan latar belakang pendidikan

    mg kita tak termasuk orang yg pandai mainin perasaan orang πŸ˜€

  5. wah pak….liat gambar dan judulnya kupikir akan memberi tips strategi menghadapi cowok yang suka mempermainkan perasaan hahhahaha….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here