melompat ke luar
(Foto: clipartbest.com)

Tersebutlah sebuah kapal. Di dalamnya berisi beragam manusia. Mereka adalah penumpang sekaligus pemilik kapal. Kapal itu sedang berlayar menuju ke sebuah pelabuhan. Agar kapal melaju kencang dan terarah dengan baik, dibutuhkan seorang nakhoda. Tugas utama nakhoda adalah membawa seluruh penumpang selamat sampai tujuan.


Diajukanlah beberapa calon nakhoda yang dianggap memiliki kemampuan oleh para penumpang. Pemilihan dilakukan secara langsung dan oleh seluruh penumpang. Satu penumpang satu suara. Kemudian terpilihlah seorang nakhoda. Semua penumpang mengucapkan selamat atas terpilihnya sang nakhoda. Semua menaruh harapan atas keselamatan mereka hingga kapal selamat sampai di pelabuhan tujuan. Sebagai penumpang sekaligus pemilik kapal, sudah seharusnya mereka bersikap seperti itu. Siapa pun yang terpilih jadi nakhoda, tak akan jadi masalah selama dia bisa memimpin dan membawa kapal hingga ke tujuan.

Sayangnya rencana tidak semudah itu dijalankan. Rambut sama hitamnya, cara berpikir bisa beda-beda. Semua orang punya hati, tidak semua bernurani tulus suci. Meskipun nakhoda sudah terpilih, ternyata ada sebagian penumpang yang tidak legawa menerimanya. Mereka merasa tidak sreg. Di antara penyebabnya adalah nakhoda yang terpilih bukanlah yang mereka calonkan. Walau mereka berada di dalam kapal yang dinakhodai orang yang terpilih oleh sebagian besar penumpang, para penumpang yang tidak puas ini menganggap dia bukan nakhoda mereka. Oleh karenanya, mereka merasa tidak perlu mengikuti perintah nakhoda untuk bisa sampai ke pelabuhan yang dituju. Karena berprinsip seperti itu, tindakan-tindakan selanjutnya yang dilakukan hanyalah kebodohan dan kekonyolan.

Ada saja perbuatan yang dilakukan untuk menggagalkan kinerja sang nakhoda, misalnya melubangi lambung kapal. Mereka tidak mampu berpikir bila kapal tenggelam, semua penumpang akan tenggelam, termasuk diri mereka. Jika kapal tidak sampai di pelabuhan tujuan, semua penumpang otomatis tidak akan merapat ke sana, termasuk diri mereka. Andai kapal kemudian jadi terapung-apung di tengah samudera, semua penumpang akan menderita, termasuk diri mereka. Sayangnya, hal-hal semacam itu tidak berhasil masuk ke dalam otak dan mereka cerna.

Lebih buruk lagi ketika di antara penumpang konyol tersebut terdapat manusia oportunis. Mereka hanya mencari keuntungan demi kepentingan diri sendiri. Bahkan bila perlu mengorbankan penumpang lain. Hal itu tidak mengherankan karena pada dasarnya manusia oportunis pastilah seorang egois. Selama menguntungkan dirinya, persetan dengan manusia lain. Bila penumpang lain menderita, asalkan dirinya tidak, the show must go on. Kalau pun terpaksa kapal tak sampai tujuan, tidak apa-apa asal yang lain tidak boleh ada yang selamat karena dirinya tidak. Bukan masalah solidaritas jika hal itu terjadi tetapi memang seperti itulah tabiat manusia oportunis plus egois.

Penumpang kapal yang rasialis, sexist, misoginis (orang yang membenci wanita), bigot bebal, dan penganut primordialisme juga akan menjadi penghambat lajunya kapal. Perilakunya yang bisa dibilang asosial akan memicu keresahan dan ketidaknyamanan penumpang lain. Celakanya, manusia-manusia macam itu selalu ada. Lebih celaka lagi bila mereka ada di dalam kapal dan bikin ulah.

Kapal dengan penumpang seperti itu perjalanannya pasti tidak akan mulus. Meskipun dibuat dengan bahan berkualitas kelas satu dan dilengkapi teknologi mutakhir, ketika ada tangan-tangan jahat yang menggerayangi, masalah akan selalu muncul. Bisa saja kapal tak akan menabrak gunung es sebagaimana terjadi pada Titanic. Mungkin saja ombak, hujan badai, dan petir yang menyambar-nyambar tak mampu menenggelamkannya. Namun, lagi-lagi, bila di antara para penumpang sekaligus pemilik yang ada di dalamnya melakukan sabotase, akibatnya kapal tidak akan ke mana-mana. Jika sudah demikian, pelabuhan tujuan yang dinanti-nanti penumpang kapal tak akan pernah terlihat dari atas geladak atau buritan. Jangankan terlihat, sangat mungkin kapal tak akan pernah sampai. Bila ini terjadi, bukan karena ketidakmampuan nakhoda yang harus ditunjuk sebagai biang keladi. Bukan berarti nakhoda tidak mampu mengemban tugas dan kewajibannya. Penumpangnyalah yang menjadi penyebabnya.

Bila nakhoda diganti oleh nakhoda pilihan mereka, itu pun tak menjamin kapal sampai di tujuan. Masalahnya bukan siapa yang menjadi nakhoda tetapi bagaimana seluruh penumpang bisa menerima keberadaan nakhoda dan bahu-membahu mendukung dia membawa kapal di mana mereka semua ada di dalamnya. Penumpang model pembolong kapal itu pada dasarnya orang-orang tak bernyali sekaligus bodoh. Jika betul-betul punya nyali, bukan dengan cara menghentikan laju agar kapal gagal sampai tujuan. Bila memang jantan, melompatlah ke luar kapal. Kalau perlu tak usah pakai pelampung, biar semakin sahih kebodohannya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here