Mellow itu bukan buah. Kalo buah, tulisannya diakhiri dengan huruf “n” dan bentuknya bulat kayak ballown. Bila dibikin jus, disebut jus mellown. Lain kan mellow dengan mellown? Mellow juga bukan merek sandal jepit.

Mellow merupakan produk kreatifitas manusia. Manusia yang masuk golongan usia muda. Mereka suka menamakan dirinya anak gaul. Oleh karenanya, mellow dikatakan sebagai bahasa gaul. Dan itulah nasib sebuah bahasa sepanjang waktu yang selalu dipermak, ditelikung, diperkosa, dan diacak-acak semaunya oleh penggunanya untuk menghasilkan varian baru. Bahkan bukan hanya itu, kadang-kadang maknanyapun sudah bergeser dari asalnya.

Jika diamati baik bentuk maupun penggunaannya, mellow berasal dari dan memiliki arti melankolis, yaitu suatu keadaan yang terkait dengan perasaan dan emosi. Jadi ketika ada yang menceritakan kisah asmara sambil termehekmehek, temannya kemudian berkomentar, “Sok mellow luh!” Mengenai kapan persisnya kata mellow mulai digunakan, tidak ada yang tahu. Sebagaimana munculnya kata-kata baru lainnya, kepopulerannya terjadi karena di antara pemakainya adalah mereka yang sering masuk media atau mereka yang menuangkannya dalam tulisan yang kemudian dibaca orang lain. Proses penyebarluasannya seperti virus yang tidak mungkin dibendung, apalagi di jaman secanggih ini. Yang jelas sekarang kata itu sering terdengar dan terbaca. Banyak pengguna memakainya untuk segala situasi yang terkait dengan emosi. Saya juga tidak mau ketinggalan dong.

Baru kemarin saya mengalami hal yang boleh dibilang mellow. Emosi saya teraduk-aduk. Sayang saya tidak membawa handuk besar yang bisa dipakai untuk mengelap air mata. Saya memang membawa saputangan, tapi saya tidak yakin saputangan itu bisa menampung air mata saya. Makanya mending saya tidak menangis saja meskipun dada ini begitu sesak. Semua itu terjadi ketika saya mengunjungi kampung lama saya.

Saya datang kembali karena mantan tetangga saya punya hajat. Dia menikahkan anak gadisnya. Semua tetangga diundang. Saya yang sebenarnya sudah tidak tinggal di kampung itu juga ikut diundang via telepon beberapa hari sebelumnya. Karena saya lihat hari resepsi itu saya bisa datang, ya berangkatlah saya ke sana.

Sudah tiga bulan saya keluar dari kampung itu. Namun rupanya hal itu hanya fisik saya saja. Emosi saya tidak sepenuhnya meninggalkan kampung yang hampir 12 tahun saya tinggali. Begitu saya memasukinya kembali, saya merasakan serpihan emosi saya yang tertinggal. Hati rasanya gimana gitu. Mata saya kerjap-kerjapkan untuk menahan jatuhnya air mata. Bukannya saya nggak ingin menangis, cuma sayang bila air mata kebuang.

Ketika melewati depan masjid, kenangan selama bertahun-tahun dengan tempat ibadah itu tergambar jelas. Ramai-ramai dengan tetangga mengecat dan membersihkan masjid menjelang Ramadhan. Bergotong royong mendirikan tenda menyambung dengan serambi untuk sholat tarawih ibu-ibu. Sholat tarawih bersama-sama tetangga. Menunggu tetangga yang akan menitipkan zakat fitrah di sepuluh malam terakhir Ramadhan setiap selesai tarawih. Berdingin-dingin melaksanakan iktikaf dengan dikerubuti nyamuk. Badan saya belepotan darah dan bau amis setiap hari raya Idul Adha. Bersama-sama tetangga, saya membantu memegangi domba yang sedang disembelih dan kemudian menguliti dan mencacah-cacah. Setelah daging, jeroan, dan tulang selesai dicacah, kemudian dicampur dan disusun menjadi tumpukan-tumpukan kecil. Tumpukan itu dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dibagikan kepada orang-orang yang telah memiliki kartu bernomor untuk mengambil daging kurban. Biasanya mereka sudah antri menunggu ketika panitia masih menyiangi daging kurban.

Di dekat masjid ada pos ronda. Di bangunan berukuran 2 x 3,5 meter itu, keluar guyonan-guyonan yang kadang-kadang mesum, jorok, dan vulgar. Melawan dinginnya malam, saya ngrumpi dengan tetangga yang lain saat melakukan ronda bersama. Kadang-kadang, meskipun bukan gilirannya ronda, saya ikut bergabung dengan mereka hanya untuk bermain gaple. Di malam Minggu yang merupakan jadwal rutin ronda bersama untuk warga yang mendapat giliran jaga, pos ronda selalu menjadi tempat yang menyenangkan. Bahkan ketika orang-orang lagi senang-senangnya masak, meskipun bapak-bapak semua, hampir setiap malam Minggu mereka ngeliwet. Malahan malam Sabtu pun, ngliwet jalan terus. Sambil memandangi pos ronda kenangan, hati saya kembali teraduk-aduk, merasa mellow banget.

Kesempatan mendatangi undangan itu juga saya manfaatkan untuk bertandang ke beberapa mantan tetangga. Salah satunya yang secara emosi saya merasa dekat adalah dengan yang namanya pak Solah. Dia pernah menulis di buletin Mawar, media informasi milik warga kampung itu, untuk melepas kepindahan saya. Tulisan yang berjudul Ketika Mandevillia Berbunga sengaja dibuatnya untuk saya. Dia mengisahkan dalam tulisannya saat-saat bunga yang bentuknya mirip alamanda itu dibeli bersama-sama saya dulu. Oh, what a touching story. Makanya ketika ingat pak Solah, saya ingat tulisannya. Bila ingat tulisannya, saya jadi ingat bunga mandevillia yang kemarin berbunga lebat saat saya mengunjungi rumahnya.

Saya nggak tahu apakah anda juga kadang-kadang menjadi mellow. Bukanya sok menggurui, bila hati anda tidak mudah tergerak saat menghadapi sesuatu yang emosional, nggak ada salahnya anda curiga. Barangkali anda memerlukan terapi. Jangan-jangan anda tidak mudah tersentuh karena hatinya sudah membatu. Jika hati yang membatu itu tetap dibiarkan, kepedulian terhadap sesama tidak akan muncul. Mementingkan diri sendiri akan menjadi prioritas. Selanjutnya, akan muncul individu yang egois dan tidak mempedulikan perasaan orang lain.

Dengan menulis perihal yang mellowmellow ini, saya tidak mengajak anda untuk menjadi cengeng. Saya hanya berharap mudah-mudahan anda mau membagi sedikit hati anda untuk peduli dengan sesama. Tidak harus dengan uang atau barang, sisi emosional pun cukup. Berbagai cara untuk menyampaikan sisi emosional anda dengan mudah bisa anda lakukan, membuat tulisan misalnya. Ungkapan perasaan anda itu juga akan menjadi sesuatu yang berharga sekaligus membantu. Jadi nggak salah kan mellow itu?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here