kompasMau ke mana? Siapa sih yang tak suka jalan-jalan? Ah, mungkin saja ada yang lebih suka diam di rumah, melakukan segala aktivitas tetapi tidak ke mana-mana. Namun kadang masalahnya bukan karena senang tinggal di rumah ketika tidak pergi tetapi karena tidak tahu harus ke mana. Pernah mengalami seperti itu?

Ada kalanya rekomendasi dari seorang teman untuk pergi ke suatu tempat menjadi andalan. Ini tentu saja bisa lebih dipercaya bila dibandingkan dengan informasi yang tidak jelas dari orang lain yang tidak dikenal. Masih mending jika orang lain itu teman dari teman kita. Kalau orang itu benar-benar asing, lebih baik abaikan. Namun, boleh juga kalau misalnya mau berspekulasi. Meski tak tahu sumbernya, tetap saja dicoba. Orang-orang yang jiwa petualangannya kuat mungkin akan melakukan itu.

Ketika saya mau pergi ke suatu tempat, bukan hanya teman dan orang yang dikenal yang saya jadikan rujukan. Orang asing pun tak masalah buat saya. Apalagi di jaman sekarang di mana media online mengerubuti kita, semakin melimpahlah informasi yang tersedia. Tak perlu ke mana-mana, hanya bermodal jari, kita sudah ke mana-mana, rasanya. Artinya, kita sudah dapat informasinya sebelum kita benar-benar sampai di tempat tersebut. Sekarang, apa coba yang tidak tersedia di internet? Apalagi kalau hanya masalah tujuan atau destinasi.

Bila kita mengobok-obok internet untuk tujuan mencari informasi sebuah tempat tujuan, yang kita dapat bisa dipastikan lebih dari cukup. Sampai-sampai bisa jadi bingung sendiri karena begitu melimpah informasi yang didapat. Atau bisa juga, misalnya, jadi tersesat karena informasi yang dipilih ternyata salah. Bisa-bisa, belum berangkat sudah tersesat duluan. Tapi mungkin saja kan? Coba deh baca tulisan saya perihal Sesat Itu Pilihan dalam berinternet.

Saya punya buku tentang Indonesia yang dikeluarkan oleh Lonely Planet Australia. Sengaja saya beli buku tersebut karena tuntutan kerja saat itu saya sering bepergian ke luar kota. Idenya sendiri untuk membelinya justru datang dari orang-orang asing yang bertandang ke Indonesia terutama para backpacker. Jika kita perhatikan, mereka selalu menenteng sebuah buku tebal berisi informasi tentang negara ini. Saya pikir mengapa saya tidak melakukan seperti mereka? Meski pun saya asli Indonesia, nyatanya tidak semua bahkan banyak tempat di Indonesia yang saya tidak tahu. Sejak itu, jadilah saya membeli buku panduan perjalanan sebagaimana yang selalu ada di tangan para bule backpacker itu. Bahkan sampai dua kali karena penerbitnya meluncurkan edisi baru.

Setelah saya mengundurkan diri dari tempat kerja, buku tersebut sudah tidak saya bawa ke mana-mana lagi. Namun demikian, buku itu tetap masih bisa dipakai meski edisi terbarunya sudah terbit. Selain buku, internet tentu saja menjadi alternatif lain sebagai sumber informasi destinasi. Banyak penyedia informasi bagi pelancong di internet. Tinggal pilih yang mana yang disuka. Salah satunya adalah Wego Indonesia dengan alamat di wego.co.id yang minggu kemarin muncul di Social Media Festival 2012. Dengan slogan ‘save time, pay less, travel more’, jasa layanan bagi pelancong ini menyediakan mesin pencari berbahasa Indonesia untuk membantu perencanaan perjalanan. Cukup berbekal telepon pintar semacam android, mesin pencari tersebut bisa diakses dari mana dan kapan saja. Pertanyaan mau ke mana yang tiba-tiba muncul langsung terjawab karena kita tahu di mana harus mencari.

Sumber gambar: di sini

5 COMMENTS

  1. angin sampaikan padanya.. aaaa
    baca blog ini sambil dengarkan dewa.

    jadi ingat omongan gunungkelir, pakai GPS, gunakan penduduk sekitar (agar tak nyasar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here