Enak benar jadi keong (siput), bila pindah rumah tidak repot. Ke manapun dia pergi, rumahnya selalu nempel. Tidak pusing memikirkan kontrakan dan tetek-bengek ketika pindahan. Tapi jika dipikir-pikir, kan keong tidak punya apa-apa selain rumah? Kalau begitu mendingan jadi orang saja deh meskipun jadi lieur alias pusing saat harus boyongan, dan nggak apa-apalah bila tidak punya rumah.

Siapa sangka saya harus begadang dan angkut sana angkut sini sampai hampir jam 3 malam saat saya pindahan hari Sabtu (5/7/08) kemarin. Saya memang rencana pindah rumah pada hari dan tanggal itu, dan… rencana saya berjalan on schedule. Meskipun ada hal di luar perhitungan dan perkiraan saya, tetapi bisa dikatakan segalanya berjalan dengan lancar.

Pindahan ini terpaksa baru bisa saya lakukan siang hari. Sebenarnya enak jika bisa pindah di pagi hari. Selain adem, juga banyak waktu, sehingga tidak perlu sampai lewat tengah malam masih harus angkut-angkut. Karena ada aktivitas lain yang tidak bisa saya tinggalkan, apa boleh buat, pindahan baru dilakukan jam 14.30 wib. Saya hanya berharap saja saat pindahan hari tidak hujan. You know lah, Bogor itu kan kota hujan. Untungnya saja Jum’at sore sampai malam hujan begitu lebat dan lama, dan saya berdoa mudah-mudahan inilah bantuan yang diberikan oleh Allah. Hujan sengaja dihabiskan pada malam hari sehingga saat paginya, hujan sudah tidak turun lagi. Ternyata doa saya terkabul, saat Sabtunya langit cerah dan rupanya hujan memang sudah dihabiskan di malam sebelumnya. Thank God!

Saya juga bersyukur memiliki tetangga dan teman yang baik dan helpful. Karena bantuan mereka, beban kerepotan yang saya hadapi bisa berkurang. Ketika packing, para tetangga bergotong royong mengangkat barang-barang ke atas mobil. Bisa anda bayangkan, mana mungkin mengangkat rak buku yang segede kebo, atau memanggul kulkas yang meskipun tidak besar tetapi karena saya bukan Hulk, ya nggak mungkinlah saya panggul sendiri.

Kloter pertama, maksudnya pada saat berangkat, ada dua mobil yang saya gunakan: truk engkel empat roda dan satu mobil bak terbuka kecil yang dipinjami sekaligus disopiri pemiliknya yang adalah tetangga saya yang profesor IPB. Yang truk diisi dengan barang-barang yang tidak bisa masuk ke dalam mobil kecil biasa, bukan bak terbuka. Itu memang prioritas saya. Bila nanti misalnya masih ada barang yang harus diangkut setidaknya saya cukup menggunakan mobil biasa dan tidak perlu menyewa truk engkel lagi. Hitung-hitungannya lebih murahlah.

Rupanya di kloter pertama, meskipun truk dan mobil pak profesor sudah penuh barang, masih banyak barang yang belum bisa diangkut. Namun demikian, setidaknya barang-barang yang besar yang tidak muat dalam mobil kecil sudah terangkut dalam truk. Untuk barang yang tersisa, nanti bisa saya bawa menggunakan mobil Carry pinjaman.

Kloter pertama berangkat jam 14.30 wib. Molor setengah jam dari yang direncanakan. Segalanya lancar. Meskipun jalan agak macet, biasa, weekend, tetapi masih bergerak mengalir. Tidak ada polisi yang menghadang di jalan. Memang itu yang saya harapkan walaupun saya sudah persiapkan uang sogokan sebagaimana yang disarankan oleh pemilik truk engkel beberapa hari sebelumnya. Mobil beriringan menyusuri jalanan kabupaten dan kota Bogor hingga sampai tujuan.

Pasukan yang sebelumnya saya mintai tolong sudah datang menyambut. Mereka teman-teman muda saya yang sedang kuliah di BEC. Sungguh, mereka benar-benar membantu. Tanpa mereka, tidak kebayang bagaimana saya bisa menurunkan dan mengangkat barang-barang saya yang dua mobil penuh itu. Terima kasih my friends.

Ketika kloter kedua, truk engkel dan mobil pak profesor sudah tidak digunakan lagi. Kali ini saya menggunakan Carry plus sopir. Mobil pinjaman lagi. Beginilah kalau jadi orang yang tukang pinjam. Untungnya orang pada baik sama saya.

Carry plus sopirnya bersama saya kemudian mengambil barang yang masih ada di rumah lama. Gara-gara kunci rumah lama lupa kebawa maka mobil pinjaman yang saya ambil dari Bogor kota balik dulu ke rumah baru yang ada di Bogor kabupaten untuk mengambil kunci. Akibatnya jam delapan malam baru sampai di rumah lama. Seperti inilah repotnya jadi orang pelupa. Suka jengkel sendiri.

Sopir Carry yang namanya pak Endang ini memang jago ngepak. Mobil yang seukuran angkot itu ternyata bisa dimuati banyak barang. Coba di kloter pertama tadi ada pak Endang, pasti truk engkel dan mobil pak profesor dapat memuat lebih banyak barang dan saya tidak perlu begadang sampai pagi.

Setelah mobil benar-benar tidak bisa diisi barang lagi, pak Endang saya suruh berangkat sendiri. Sementara saya menyiap-nyiapkan barang yang belum terangkut. Bila mobil itu datang lagi, barang-barang yang sudah saya siapkan itu tinggal dimasukkan ke mobil. Pak Endang berangkat jam sembilanan.

Jam 23.30-an pak Endang sudah datang lagi. Barang-barang yang saya persiapkan tadi segera diangkut ke dalam mobil. Pak Endang kembali menunjukkan keahliannya dalam mengepak. Rasanya jika pak Endang diberi tebakan bagaimana cara memasukkan seekor gajah dalam kulkas, pasti dia bisa menjawab dengan cepat dan tepat. Anda tahu jawaban dari tebakan itu?

Semua barang yang tersisa telah masuk ke mobil kira-kira jam satuan. Pak Endang dan mobilnya segera berangkat. Ini merupakan kloter ketiga dan terakhir. Pak Endang berangkat sendiri lagi. Saya tidak ikut mobil itu karena naik motor yang juga harus dibawa. Tetapi saya tidak langsung pulang. Saya ngobrol dahulu dengan orang-orang yang sedang menjalankan ronda di poskamling. Setiap malam Minggu memang warga sendiri yang melakukan ronda menggantikan petugas yang dibayar warga. Petugas keamanan yang dibayar ini sengaja diberi waktu untuk istirahat setiap malam Minggunya.

Malam itu merupakan malam terakhir buat saya di kampung yang sebentar lagi saya tinggalkan. Banyak kenangan manis tertinggal di kampung itu. Sudah 12 tahun saya hidup bermasyarakat di sana. Terus terang saja berat rasanya meninggalkan lingkungan yang sudah begitu saya kenal baik. Namun apa boleh buat, keengganan itu harus saya tepis. Dan alasan saya pindah pernah saya tuliskan di catatan online saya ini dengan judul Berani. Tulisan yang masuk kategori ”Wajib Baca.” Versi yang nulis tentu saja.

Jam dua pagi akhirnya saya putuskan pulang, dengan berat hati. Saya tinggalkan kampung lama menyongsong kampung baru saya. Saya jadi The Night Rider malam itu. Jalan sudah sepi. Hanya satu dua kendaraan yang saya temui. Udara malam yang menggigit menyusup di celah-celah baju yang saya kenakan. Malam itu saya hanya memakai jaket denim. Sekujur badan, dari ujung kaki sampai leher, terasa dingin. Hanya kepala saja yang terasa hangat karena terlindung helm yang menutupi seluruh kepala. Jam 02.30-an pagi saya sampai di rumah. Kampung baru saya sudah tidur pulas.

Selamat tinggal kampung dan warganya yang menjadi sahabat dan saudara-saudara saya selama ini. Saya tidak akan melupakan kalian semua dan saya janji akan datang berkunjung suatu saat. Uhuk… uhuk… uhuk….

 

2 COMMENTS

  1. […] Kandang kambing adalah julukan yang diberikan oleh para sahabat untuk rumah yang saya tempati sekarang. Saya tahu alasan yang mendasari penamanaan itu. Di sebelah rumah terdapat kandang kambing lengkap dengan kambing dan tahinya. Di Twitter, kandang kambing juga dibuatkan tagar (tanda pagar) #KandangKambing yang sering dipakai saat berkicau. Buat tuip (pengguna Twitter) yang belum tahu, tagar ini suka membingungkan. Masak ngopi di kandang kambing? Rumah yang saya tempati ini adalah rumah kontrakan. Karena tuntutan pekerjaan, rumah milik sendiri saya kontrakkan. Uangnya saya gunakan untuk membayar kontrak rumah yang dijuluki #KandangKambing ini. Saya sekadar memindahkan uang kontrakan yang saya terima. Keuntungannya adalah tempat tinggal saya sekarang lebih dekat ke tempat mengais rejeki meskipun saat pindahan sempat dibuat repot. Kerepotan memboyong segala barang ke rumah kontrakan ini pernah saya tuliskan dalam Mas Keong. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here