>Setelah membaca tulisan ini atau melihat judulnya, mungkin anda akan berkomentar sekaligus bertanya, “Penting nggak siiihhh…?” Atau ingatan anda malah melompat mundur beberapa tahun ke belakang. Anda jadi ingat masa kecil. Terkenang persahabatan manis anda. Terbayang saat-saat berburu buah-buah mewah di lereng dan kebun-kebun orang. Buah mewah di mata anak-anak tentu saja, seperti ceri (kersen) misalnya.

Judul di atas memang nama-nama tanaman yang buahnya bisa dimakan. Saat kecil kita suka kelayapan mencari buah yang rasanya manis itu. Persis seperti pepatah ada gula ada semut, karena buah itu manis banyak anak-anak yang memburunya. Tidak peduli badan jadi gatal-gatal karena menyusup-nyusup belukar, atau baju belepotan tanah. Yang dirasakan hanya senang dan kegairahan.

Terutama di pedesaan atau kampung yang masih banyak lahan terbuka dan kebun-kebun, buah-buahan perdu itu sering ditemukan. Bagi sebagian anda, buah-buahan itu mungkin sudah anda kenal dengan baik. Begitu membaca namanya, langsung tergambar di benak anda bentuk dan warnanya. Bahkan hidung andapun seolah-olah bisa mencium baunya yang tidak asing lagi. Sebagian anda yang lain mesti mencocok-cocokkan dulu dengan database memori buah masa kecil anda.

Biar lebih jelas lagi terutama bagi anda yang masih samar-samar atau buat anda yang tidak begitu kenal buah-buah tersebut di atas, saya akan coba gambarkan satu persatu. Tapi harap maklum jika ada bagian yang tidak begitu jelas penggambarannya, sebab terus terang saja ada salah satu dari ketiga buah itu yang belum pernah saya cicipi maupun lihat bentuk aslinya.

Marmot. Namanya mirip-mirip keluarga kelinci yang telinganya pendek yang suka dipelihara orang. Binatang ini ada yang menyebut mermut, marmut, atau marmot. Untuk marmot yang buah, saya baru tahu kalau namanya marmot beberapa hari yang lalu saat ngobrol di pos ronda dengan petugas keamanan di dekat rumah saya. Saya sendiri pernah memakannya. Jadi, ketika penjaga di pos ronda itu menggambarkan buah marmot saya langsung tahu buah apa yang dimaksudkan. Tanaman marmot merupakan jenis tanaman merambat. Dia suka tumbuh di antara semak-semak. Buahnya seperti lampion, atau buah kurung. Kurungannya mirip jaring. Bila mentah, warna buah dan kurungannya hijau. Menjadi kuning muda warna jaringnya dan kuning tua buahnya bila sudah matang/tua. Buah yang sudah matang terasa manis. Buah plus jaringnya mengeluarkan bau yang khas, terutama saat masih muda. Bagi saya baunya harum dan merangsang. Bagaimana dengan anda? Sayangnya saya tidak bisa membandingkan dengan bau yang lain biar anda lebih gampang membayangkannya.

Cecenet. Itu kata orang sunda. Orang jawa (tengah) menyebutnya ciplukan atau ceplukan. Anda boleh pilih yang mana. Mau bikin nama sendiri juga silakan. Paling-paling tidak ada yang ngerti. Cecenet ini dulu pernah menjadi sahabat saya. Belum lama. Beberapa tahun yang lalu saat saya sudah setua ini. Penyebabnya adalah paru-paru saya. Bisa nebak, bagaimana paru-paru bisa membuat pemiliknya akrab dengan cecenet? Saya hitung sampai tiga. Tiga! Salah! Eh, emang njawab apa sih? Gini, saya terpaksa jadi akrab dengan ‘beliau’ karena saya pernah kena pneumonia. Keren ya? Kalau bisa jangan sampai deh kena penyakit itu. Meskipun namanya bagus, mana ada penyakit yang enak. Pneumonia itu kan bahasa medis. Bahasa kampungnya adalah paru-paru basah. Bu dokter, benar? Dan tahukah anda, cecenet bisa digunakan melawan penyakit ini.

Jika saya menulis banyak-banyak tentang buah buruan masa kecil dan yang ternyata juga bisa digunakan sebagai penyembuh ini ya harap maklum saja. Kami pernah menjadi tim yang solid selama enam bulan.

Cecenet itu seperti marmot. Dia juga bunga kurung, tapi bentuk kurungannya beda. Jika marmot kurungannya bolong-bolong seperti jaring, cecenet rapat. Bila sudah tua, kurungan yang menjadi pelindung buah cecenet berwarna kuning pucat. Begitu juga warna buahnya. Buah dan kurungan cecenet yang muda berwarna hijau dan pahit rasanya. Beda banget dengan rasa buah yang sudah tua, manis. Kok bisa begitu ya? Itulah yang disebut Allahu Akbar.

Cecenet ini tanaman yang gampangan. Gampangan? Kesannya kaya apa aja gitu ya. Maksud saya, dia itu gampang tumbuh di mana saja, di antara semak-semak bisa, di kuin (tumpukan bekas bongkaran bangunan) pun jadi. Karena mudah tumbuh di mana saja itulah, saya dulu tidak begitu kesulitan mencarinya untuk kemudian direbus dijadikan obat. Cuma pahitnya itu, mantab.

Marasi. Nah, kalau buah yang ini, terus terang saja, tahu pun baru beberapa hari yang lalu. Itu juga hasil dari ngobrol-ngobrol dengan penjaga malam di kampung saya, kemudian saya lanjutkan dengan mengkorek-korek di internet. Kata dia, setelah makan buah marasi, minum air putih jadi manis. Jeruk nipis yang asam pun bisa menjadi manis. Menarik juga. Buah marasi bisa mengubah rasa menjadi manis karena mengandung protein yang disebut curculin. Protein ini bisa tahan di mulut sampai setengah jam sebelum akhirnya rasa manisnya menghilang.

Marasi yang aslinya dari Afrika Barat suka disebut juga dengan parasi, terasi-terasian, atau lemba. Di Papua dikenal dengan nama cua mok. Orang Prabumulih (Palembang) malah lebih ekstrim, mereka menyebutnya buah tahi (sebenarnya sih lengkapnya lentahi). Tanaman yang memiliki nama Latin, Curculigo latifolia, ini termasuk keluarga Hypoxidaceae. Ia herba yang sering dijumpai di pinggiran hutan di seluruh wilayah Indonesia hingga sebagian besar Asia Tenggara. Sosoknya tegak, dengan tinggi kurang dari 1 m. Daun tumbuh langsung dari batang dalam tanah atau rizoma. Bentuknya memanjang dan bertekstur seperti lipatan-lipatan kecil.Sekilas ia tampak seperti anakan salak atau anggrek tanah. Seperti halnya daun,bunga marasi juga muncul dari rizoma, sehingga terlihat seakan-akan tumbuh daritanah. Bunga berwarna kuning cerah, kecil, dengan 6 kelopak. Buahnya berwarna bening keputihan berukuran kira-kira 1 cm dan berbiji banyak kecil-kecil hitam seperti dragon fruit. Tanaman merumpun setinggi 80 cm itu tumbuh liar, terutama di area yang ternaungi pepohonan besar. Marasi cocok di lingkungan yang lembab dan cenderung gelap.

Marasi merupakan pesaing buah ajaib lain yang suka dikenal dengan nama miracle fruit (Synsepalum dulcificum) yang kandungan proteinnya bernama miraculin. Jika curculin di marasi terasa manis (satu-satunya protein yang berasa manis), miraculin di miracle fruit tidak. Anda pernah ketemu atau makan buah ajaib ini?

SHARE
Previous article>Inspiring Suckling
Next articleOrang-orang Konyol

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here