mari menjadi nyinyirKebebasan berekspresi dan HAM adalah tema pekan ketiga dari Liga Blogger Indonesia garapan komunitas blogger Semarang atau DotSemarang. Jika ajakan untuk nyinyir yang saya jadikan judul itu Anda turuti, apakah Anda merasa telah bebas berekspresi dan menggunakan hak asasi Anda sebagai manusia?

Nyinyir atau cerewet sangat dikenal oleh pengguna Twitter karena kata itu sering disebut-sebut. Buat sebagian atau barangkali semua tuip (tweep atau pengguna Twitter), akan tidak suka bila dijuluki nyinyir oleh tuip lain. Hal ini bisa dimaklumi karena nyinyir berkonotasi negatif, khususnya di Twitterland. Saya sendiri pernah bahkan beberapa kali mendapat sebutan seperti itu. Saya tidak marah atau sakit hati. Bila sebutan nyinyir disandangkan di pundak saya, tanpa mereka ucapkan saya bisa memahami mengapa mereka menyebut saya seperti itu. Yang saya ocehkan di galurwaktu (TL) Twitter pasti dilihat sebagai kenyinyiran oleh mereka.

Sadar atau tidak, sebenarnya begitu kita menjadi pengguna Twitter dan kemudian aktif berkicau maka kita telah menjadi seorang yang nyinyir. Apapun yang dikicaukan, entah itu penting atau remeh-temeh, kultwit maupun twitwar, akhirnya menjadi sebuah kenyinyiran bagi orang lain meskipun tidak semua. Saya katakan tidak semua karena ketika kicauan orang lain itu sreg di hati maka jelas itu bukan sebuah kenyinyiran. Namun, bagaimana jika yang terjadi sebaliknya, kita sangat terusik atau terganggu dengan ocehan yang terbaca di galurwaktu? Maka dengan enteng kita akan melabeli tuip tersebut nyinyir. Tidak sependapat? Boleh. Silakan. Tulis di kolom komentar di bawah, ya. ๐Ÿ˜‰

Saya tidak tahu batas kebebasan berekspresi yang menjadi hak asasi itu sejauh mana. Ketika sudah bicara hak asasi manusia, maka hak tersebut akan bersifat universal (berlaku di mana saja di dunia ini) dan egaliter (sama untuk semua orang atau sederajat). Namun yakinkah kita bahwa berkicau di galurwaktu tetap dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang kemudian diklaim sebagai hak asasi ketika kicauan itu ditanggapi sebagai sebuah kenyinyiran? Rumit lagi saat nyinyir tidaknya sebuah kicauan harus dibuatkan parameter. Bagaimana tidak rumit bila parameternya adalah sesuatu yang sifatnya subjektif seperti yang sudah saya tuliskan dalam paragraf di atas? Ah, nampaknya tulisan ini menjadi terlalu serius dan mulai membingungkan, buat saya tentunya. Mudah-mudahan saja Anda tidak.

Sekarang kita sederhanakan saja sesuai judul tulisan ini. Nyinyir di galurwaktu bolehlah diklaim sebagai kebebasan berekspresi. Masalah nyinyir itu kemudian memuakkan orang lain, itu karena dia berada di seberang. Lebih-lebih jika yang berkicau itu orang yang sangat dibenci. Tanggapannya pasti cuma satu, NYINYIR! Seperti yang sudah saya tulis di atas, kicauan dianggap nyinyir karena dia tidak sreg atau cocok. Kalau sreg, kan pasti tidak akan bilang nyinyir?

Saat membuat tulisan ini, saya sempatkan menengok KBBI untuk tahu dengan pasti makna dari kata nyinyir. Yang saya temukan adalah seperti yang anda baca di bawah ini.

nyiยทnyir a mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet: nenekku kadang-kadang — , bosan aku mendengarkannya;

Apa yang bisa Anda simpulkan? Dari definisi di kamus tersebut, saya melihat bahwa makna nyinyir tidak selalu negatif. Ada kalanya terhadap orang atau untuk hal tertentu kita perlu nyinyir, misalnya kasus korupsi. Haruskah kita berhenti mempermasalahkan bila para koruptor itu mengatakan kita ini nyinyir? Ini berlaku juga ketika kenyinyiran terhadap hal-hal atau manusia tidak benar itu dan sejenisnya dipindahkan ke galurwaktu. Kita harus tetap nyinyir meskipun mereka menyumpahi kita ini nyinyir. Jika sudah demikian, ternyata nyinyir bisa menjadi semacam fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Jadi, tidak salah kan kalau saya mengajak nyinyir? Bahkan bila perlu, bergabunglah ke dalam Laskar Nyinyir. Mari menjadi nyinyir. :mrgreen:

Sumber gambar: di sini

8 COMMENTS

  1. Hmm, sangat mencerahkan pak.
    Terus terang, Menurut saya di twitter itu sikap egois seseorang mencapai puncaknya. Kita mau nanya kabar, dibilang kepo. Eh, giliran kita cuek dibilang sombong. Bingung jadinya *garuk garuk kepala*

    Berbeda dengan di blog. Hanya di blog-lah ketika kita berkomentar tidak akan ditanggapi, “Ih, kamu kepo banget sih. Iyuwh.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here