mari bicara jazz
Idang Rasjidi (foto oleh @AflRoses)

Ini pertama kali tulisan saya membincangkan musik secara khusus. Beberapa artikel yang menyinggung musik pernah saya buat, tapi hanya secara sekilas, ketika menuliskan sebuah kegiatan semacam Bogor Jazz Reunion. Untuk tulisan ini, saya mencoba lebih mendalam mengulas tentang musik. Mengapa jazz? Itu pertanyaannya.

Bagi saya, mungkin juga bagi anda, jazz bukanlah musik yang gampang untuk dinikmati. Terdengar berat di telinga. Beat-beatnya terasa rumit. Bisa saja itu faktor selera, atau bisa juga karena tidak gampang dicerna kemudian mempengaruhi selera. Contoh gampangnya misalnya membandingkan Alamat Palsunya Ayu Ting Ting dengan Gemintangnya Andien. Yang mana menurut anda yang gampang ‘didengarkan’?

Membicarakan jazz, khususnya yang ada di Indonesia, tentunya tidak bisa lepas dari musisi-musisi tanah air pengusung jenis musik ini. Banyak nama yang bisa disebutkan sebagai dedengkotnya musik jazz Indonesia. Beberapa nama misalnya Bubi Chen, Bill Saragih, Ireng Maulana, Jack Lesmana, Embong Rahardjo, dan Idang Rasjidi. Mereka adalah musisi yang bisa dikatakan mendedikasikan hidupnya untuk jazz. Bagaimana hasil karya mereka bisa kita nikmati bukanlah hal yang susah. Dengan adanya teknologi internet, meski tidak semua, sebagian dari karya dan aksi panggung mereka serta kehidupan mereka bisa kita peroleh di dunia maya ini, Youtube salah satunya.

Perkembangan jazz di tanah air tidaklah sesemarak jenis musik lain. Jazz seperti seorang anak budaya yang pendiam dalam sebuah keluarga di rumah musik. Dia tidak senarsis dan seeksis saudara-saudaranya, pop, rock, dan dangdut misalnya. Meskipun demikian, mengambil istilah dari dunia pemasaran, jazz tetap memiliki pangsa pasar sendiri. Meski denyutnya tidak sederas saudaranya yang lain, jazz tetap hidup dan terus hidup hingga sekarang. Saya juga yakin bahwa jazz akan terus berkembang hingga nanti. Pokoknya, jazz never dies lah.

Memang di dunia media, porsi pemberitaan untuk jazz bisa dikatakan minim. Beda jauh dengan porsinya acara musik pop atau dangdut. Seberapa sering anda membaca atau menikmati acara di televisi tentang jazz? Ini bisa dimaklumi karena peminatnya juga tidak sebanyak jenis musik lain. Media cetak maupun elektronik juga pelaku pasar yang orientasinya keuntungan. Bila sudah menyangkut bisnis, hukum permintaan dan penawaran jelas akan berlaku. Tidak mungkin kita menjual barang jauh melebihi permintaan pembeli kan?

Meski bisa dibilang minim penggemar, bila dibandingkan dengan jenis musik lain, untungnya jazz tetap mendapat dukungan dari mereka yang peduli dengan musik yang satu ini. Orang-orang semacam Arifin Panigoro dan Peter F Gontha, dan para penggiat jazz yang tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Pekalongan, Jogjakarta, Medan, Batam, dan Makassar adalah mereka yang menjadikan jazz tetap hidup di Indonesia. Karena merekalah acara semacam JakJazz Festival, Ngayogjazz, dan Bogor Jazz Reunion bisa ada. Dengan adanya festival atau acara yang mengusung musik jazz maka masyarakat musik di negeri ini akan terus disadarkan akan keberadaan jazz. Mata mereka akan terus terbuka dan melihat bahwa jazz memang masih hidup dan masih bisa dinikmati oleh pecintanya. Sebagaimana yang terjadi pada North Sea Jazz Festival di Belanda yang menjadi barometer kaliber musisi jazz dunia, festival ini menyadarkan warga dunia tentang musik jazz.

mari bicara jazz
Erha Limanov dan Tompi (foto oleh @AflRoses)

Sebuah kompromi barangkali perlu dilakukan untuk membuat jazz lebih seksi sehingga lebih menarik dan bisa dinikmati banyak orang. Menjadikan jazz lebih ngepop, atau ngerock, atau bila perlu ngedangdut bisa dipertimbangkan. Bagi pecinta jazz murni, mainstream atau apapun istilahnya, jazz asimilatif ini mungkin terasa tidak nendang. Tapi bagi mereka yang tidak biasa menelan jazz murni, musik yang diusung Tompi, Andien, Afgan, Glenn Fredly, Indra Lesmana dan penyanyi yang sejenis dengan mereka barangkali lebih menyegarkan. Ditamsilkan minum jus, bukan hanya manis tetapi ada asam-asamnya dan bisa jadi ada rasa sepatnya juga. Lagipula, menurut saya, berkreasi dengan musik jazz yang dikombinasikan dengan jenis musik lain bukanlah sebuah bentuk ‘kemurtadan’. Bila kemudian mereka yang masuk dijalur campuran ini dituding sebagai seorang pelacur, ah terlalu kasar ya?, itu hak mereka yang menghujat seperti itu. Namun demikian, Tompi dan golongannya pasti memiliki alasannya. Setidaknya, menurut saya yang bukan musisi jazz, tetapi hanya pemakan omnivora alias pelahap semua jenis musik, menikmati jazz asimilatif ibarat minum kopi bercitarasa mint. Nikmat dan menyegarkan.

3 COMMENTS

  1. @Chandra Iman: memang, lumayan juga musik ini jadi teman. makasih komen dan kunjungannya 😉
    @beoding: Andien dan Tompi lebih gampang diterima karena sudah bercampur dg pop. makasih kunjungan dan komennya 😉

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here