Terjadinya jam 5-an sore tiga hari yang lalu (Rabu, 3/1/07). Mamah jatuh dan paha kiri luar sebelah atas sobek terkena selot pintu pagar sehingga membutuhkan duabelas jahitan, tiga dalam sembilan luar. Namanya juga musibah. Datangnya tidak bisa ditebak atau diperkirakan waktunya. Untungnya saat jatuh ada Mang Dayat, Mang Sadi, dan Asep ( tukang dan dua kenek) yang masih kerja di rumah. Merekalah yang mengangkat mamah ke dalam rumah sebelum dibawa ke klinik.

Saat saya pulang kantor, mamah sudah tergolek di atas matras mengaduh kesakitan. Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya juga ketika melihat istri saya berjalan tergopoh-gopoh dengan muka panik. Rupanya dia sedang mencari mobil untuk mamah. Begitu melihat saya datang, segera dia informasikan tentang mamah.

Mobil pak Syabar yang akhirnya dipakai. Mang Dayat dan keneknya sekali lagi mengangkat mamah masuk ke dalam mobil. Saya dan Lili (bu Kris) menemani mamah sementara pak Syabar duduk di depan memegang kemudi. Kendaraan segera membawa mamah ke Klinik Amanah di Cibanteng yang merupakan klinik terdekat yang terpikirkan oleh kami. Begitu sampai segera saya dan pak Syabar membimbing mamah langsung masuk ke ruang periksa. Lega rasanya mamah sudah ditangani oleh ahlinya. Lili yang masuk menemani mamah, sementara saya dan pak Syabar duduk di ruang tunggu.

Ada kejadian yang menggetarkan hati waktu menunggu di klinik ketika itu. Saat saya dan pak Syabar ngobrol sambil nunggu mamah dijahit, masuklah seorang ibu-ibu yang dibopong dua orang laki-laki. Sementara di belakangnya mengikuti seorang wanita yang lebih muda. Rupanya ibu-ibu yang kemudian didudukkan di atas sofa ruang tunggu di depan saya itu dalam keadaan pingsan. Perkiraan saya dia korban kecelakaan meskipun tidak ada luka, hanya lecet sedikit di jempol kaki kanan. Saya kasihan melihat kondisinya. Namun bukan dia yang menggetarkan hati saya, tapi anak muda yang dibawa masuk sesudahnya.

Dua orang laki-laki masuk membopong remaja laki-laki yang merupakan korban kecelakaan yang sama dengan ibu-ibu yang dibawa masuk sebelumnya. Kemudian dia didudukkan di sofa sebelah kanan saya. Segera pak Syabar dan saya berdiri untuk melihat kondisi anak muda tersebut. Dia tidak pingsan. Duduk diam bersandar di sofa. Matanya melek tapi tidak pernah berkedip. Pandangannya kosong lurus ke depan. Kaki, tangan, dan wajahnya lecet-lecet tapi tidak berdarah-darah. Yang menggetarkan saya adalah, setiap beberapa saat dia seperti orang cegukan atau seperti orang yang habis nangis lama. Melihatnya seperti itu, saya tidak bisa atau malahan tidak berani menebak apakah dia bisa diselamatkan atau tidak. Pak Syabar kemudian bilang kepada yang membawa korban bahwa korban tersebut sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Rasanya klinik kecil ini tidak bisa memberikan pertolongan yang dibutuhkan karena diperkirakan yang luka adalah bagian dalam.

Para penolongnya mengikuti anjuran pak Syabar. Anak muda tersebut dibawa kembali ke mobil bak terbuka yang membawanya tadi. Dia ditidurkan di bak belakang dengan hanya dikasih bantal untuk kepalanya tanpa tikar atau alas sama sekali. Si ibu-ibu juga dibopong kembali dan didudukkan di sebelah sopir. Mereka akan dibawa ke rumah sakit di Leuwiliang. Mudah-mudahan saja keduanya yang merupakan korban kecelakaan di Cicadas belum terlambat untuk ditolong.

Jam 6 lebih luka mamah akhirnya selesai dijahit. Namun ada satu lagi obat yang harus diberikan ke mamah tetapi klinik tersebut sedang kehabisan. Mamah harus disuntik dengan ATS (anti tetanus). Atas informasi dari petugas di Klinik Amanah, mamah kemudian dibawa ke Klinik Avira di Cibungbulang untuk disuntik ATS. Selesai itu kami langsung pulang.

Mamah ini memang bukan ibu saya ataupun istri saya. Dia itu uwaknya Lili istrinya pak Kris, tetangga saya, yang sudah dianggap ibu sendiri oleh dia karena yang merawatnya sejak kecil. Saya sendiri dengan ikut-ikutan memanggil mamah merasa dia bukan hanya sekedar tetangga, tetapi seperti keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here