Tulisan Malam Jahanam di Yogyakarta ini sebenarnya sambungan dari cerita yang pernah saya buat pada 23 Oktober 2014 berjudul #Jalurkopi2: Malam Jahanam di Yogyakarta. Ternyata sudah berlangsung tiga tahun lebih kejadian tak terlupakan di Kota Gudeg itu, dan baru sekarang saya tuliskan. Tidak apa-apa, ya. Biar lambat, yang penting telat. 😀

Kalau saya menyebut malam jahanam di Yogyakarta, sebenarnya jika itu dilihat dara sisi negatifnya. Bila mau menyikapi secara positif, segala sesuatu yang tidak mengenakkan seperti yang saya alami di Yogyakarta pada waktu itu tentu ada hikmahnya. Di balik yang negatif, pasti ada positifnya.

Sebagaimana yang saya ceritakan di #Jalurkopi2: Malam Jahanam di Yogyakarta, malam itu menjelang pukul 12 malam saya berangkat ke Gunungkelir yang lokasinya di puncak Bukit Menoreh. Perjalanan dilakukan setelah selesai beranjangsana sambil ngopi-ngopi di rumah suami-istri yang keduanya adalah teman baik saya. Waktu itu suami-istri yang bernama Daan dan Lisa belum pindah rumah. Mereka tinggal di perumahan entah apa namanya dan di daerah mana saya lupa. Mereka berdua tidak ikut naik ke Gunungkelir. Hanya sahabat saya @suryaden yang dengan baik hati menggunakan mobilnya mengantarkan saya ke desa di puncak Menoreh itu.

#jalurkopi2
Bersama Daan dan Suryaden (Foto: @ladangkata) – #jalurkopi2

Menuju Gunungkelir

Perjalanan malam ke arah Gunungkelir begitu tenang. Tak banyak kendaraan di jalan. Saat melewati Pasar Godean yang sudah tutup, di depannya nampak berderet gerobak dengan lampunya yang terang benderang menjajakan belut goreng yang merupakan kudapan khas daerah itu. Selain gerobak belut goreng, ada juga pedagang makanan lain semacam nasi goreng dan martabak. Kami tak mampir untuk mencicipi belut goreng yang terlihat menggugah selera itu.

Jalan mulai menanjak setelah melewati perempatan Kenteng. Beberapa puluh meter kemudian, di kiri kanan jalan hanya sawah terbentang. Semua terlihat samar-samar di remang malam. Tidak ada lampu jalan. Penglihatan kami semata-mata hanya mengandalkan sorot lampu depan mobil. Kami seperti membawa dua senter raksasa tertatih-tatih meniti jalan mendaki. Beruntung sopirnya sudah menguasai medan. Jalan menanjak dan menurun yang berkelak-kelok di Bukit Menoreh sudah biasa dia libas. Termasuk perjalanan kali ini, entah sudah yang keberapa buatnya, juga dengan mudah dia lalui.

Menembus Kegelapan Bukit Menoreh

Rumah penduduk kembali saya jumpai saat melewati perkampungan. Sebelum sampai tujuan, kami melewati beberapa kampung. Namun karena lewat tengah malam, tak ada satu pun manusia terlihat. Hanya lampu teras yang cenderung redup karena menggunakan bolam 5 atau 10 watt dan kerlap-kerlip lampu di kejauhan di sela-sela rerimbunan pohon.

Gelapnya malam terasa semakin pekat saat melewati hutan pinus sebelum sampai tujuan. Bahkan ketika saya menengok ke kanan, sahabat saya hanya samar-samar terlihat. Lampu di dalam mobil memang tidak dinyalakan, dan cahaya lampu depan mobil rupanya tak begitu membantu. Saya sempat berpikir akan sampaikah di tujuan. Kegelapan di sekeliling memantik pikiran saya seperti itu. Di luar mobil benar-benar gelap total. Di kiri kanan jalan yang saya tahu pasti adalah deretan pohon pinus sama sekali tidak kelihatan. Semua yang ada hanya warna hitam, sehitam jelaga. Jalan di depan pun yang terlihat hanya yang terkena sorot lampu mobil. Kegelapan malam benar-benar mengisolasi cahaya lampu depan mobil sehingga sinarnya terlihat lurus seperti batang kayu berpendar keputihan.

Kopi Gunungkelir

Akhirnya kami tiba di Gunungkelir yang masuk wilayah Katerban, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tuan rumah sudah menunggu kedatangan kami. Sebelumnya memang sudah janjian kalau kami akan berkunjung. Kopi segera disajikan. Kopi khas Gunungkelir. Teman baik yang jadi tuan rumah memang punya kebun kopi di sekeliling rumahnya. Lokasinya yang tinggi cocok untuk pohon kopi.

Sebenarnya saya berencana menginap di Gunungkelir dan esok harinya baru pulang langsung ke Stasiun Tugu, Yogyakarta. Tuan rumah yang dikenal di media sosial dengan nama @gunungkelir biasanya berbaik hati mengantar saya. Kebetulan waktu itu dia ada acara di pagi harinya jadi tak bisa membawa saya pakai mobilnya yang nyaman sampai ke stasiun. Daripada ketinggalan kereta, saya batalkan rencana menginap dan ikut turun kembali bersama @suryaden sekitar pukul 02.30 pagi ke Yogyakarta. Saya minta diturunkan di ujung jalan daerah Blimbingsari. Setelah itu saya jalan kaki menuju tempat kos anak saya. Arloji di tangan menunjukkan sekitar pukul 03.30 WIB.

Terlantar di Blimbingsari

Blimbingsari sangat lengang. Tak ada seorang pun yang kelihatan batang hidungnya. Maklum saja karena masih jamnya orang tidur. Sambil berjalan kaki saya berencana nanti tidur sebentar di tempat kos anak saya, baru setelah itu berangkat ke Stasiun Tugu. Lumayanlah bisa rebahan dan memejamkan mata barang sejam dua jam. Badan penat dan kepala yang berat pasti akan berkurang. Masih ada waktu untuk istirahat sejenak karena kereta Bogowonto yang saya naiki baru berangkat pukul 09.07 WIB dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan sampai di Stasiun Pasar Senen, Jakarta pukul 17.29 WIB.

malam jahanam di yogyakarta
Stasiun Tugu Yogyakarta – Malam Jahanam di Yogyakarta

Kos-kosan di Blimbingsari yang ditempati anak saya bentuknya lorong yang di kiri kanannya terdapat kamar-kamar kos. Kamar anak saya jauh dari jalan dan ada di paling ujung sebelah kanan dekat dapur dan deretan kamar mandi tempat semua penghuni kos mandi atau mencuci dan masak. Lorong kos-kosan itu bentuknya huruf L terbalik. Jadi kalau masuknya dari jalan, untuk sampai di kamar kos anak saya harus belok kanan dulu hingga sampai ke kamar paling ujung. Sialnya, ketika saya sampai di tempat kos itu, ujung lorong yang dekat jalan ternyata berpintu. Saat saya dorong pintunya, pintu itu dikunci dari dalam. Saya bengong.

Malam Jahanam di Yogyakarta Dimulai

Tak mungkin saya memanjat apalagi mendobrak pintu itu. Kalaupun berteriak memanggil anak saya juga percuma karena suara saya tidak akan terdengar jelas atau bisa jadi malah tidak sampai ke kamar anak saya yang jauh dari jalan. Bisa-bisa saya malah dipersekusi warga karena mengganggu ketenteraman di larut malam. Mau mengetuk pintu, adakah yang dengar atau adakah yang mau membukakan pintu? Akhirnya saya mencoba menelepon anak saya dan berharap diangkat lalu membukakan pintu buat saya sehingga saya bisa merebahkan badan yang makin terasa penat dan kepala yang memberat ini. Oh alangkah nikmatnya.

Beberapa kali saya menelepon. Tetap tak terjawab. Tampaknya anak saya tidur begitu nyenyak. Sambil berjalan pergi, saya masih mencoba menghubungi tapi tetap tidak ada hasil. Akhirnya saya putuskan mencari penginapan di sekitar tempat itu.

Udara malam tak begitu dingin karena saya pakai jaket dan jalan kaki sejak tadi. Saya ingat ada sebuah hotel kelas melati di sisi jalan menuju Blimbingsari. Kalau memang tak bisa numpang tidur di kamar kos, tak masalah. Ada penginapan yang pasti bersedia menampung saya. Dengan menahan kantuk dan merasakan kepala yang makin pusing, saya melangkahkan kaki ke hotel itu. Sampai di tempat, pintu gerbang hotel tertutup. Pos satpam di samping pintu tersebut kosong. Saya longok ke dalam lewat celah pintu gerbang besi itu, di ruang resepsionis juga tak ada manusia satu pun. Ini hotel atau kuburan? Saya tidak berhasil menjumpai satu gelintir pun manusia di hotel itu. Otomatis rencana untuk merebahkan badan batal.

Sasaran Kedua

Kaki rasanya makin berat saat perjalanan mencari tempat tidur saya lanjutkan. Target berikutnya adalah penginapan yang ada di dekat bunderan UGM. Seingat saya pada waktu itu, ada satu penginapan di situ. Kalau tak salah namanya Wisma Kagama. Dan ternyata, tiga tahun kemudian tepatnya 31 Desember 2017, saya baru tahu kalau ada dua penginapan di situ yaitu Wisma Kagama dan di dekatnya ada Gadjah Mada University Club (UC) Hotel UGM tempat saya menginap di malam tahun baru 2018 kemarin.

malam jahanam di yogyakarta
Gadjah Mada University Club (UC) Hotel UGM – Malam Jahanam di Yogyakarta

Saat sampai di Wisma Kagama, keadaannya sama persis seperti di hotel kelas melati yang ada di Blimbingsari. Tak ada secuil pun makhluk hidup bernama manusia yang bisa saya tanya. Pintu penginapan itu juga tutup. Yang saya rasakan ini benar-benar sebuah malam jahanam di Yogyakarta. Dua penginapan itu seolah-olah sekongkol menolak kehadiran saya. Waktu itu saya tidak tahu kalau seandainya saya mau jalan sedikit lagi saja, saya akan ketemu UC Hotel. Di hotel ini mungkin saya bisa bertemu orang, entah itu petugas satpam atau resepsionis, dan bisa dapat tempat tidur.

Arloji di lengan kiri sudah menunjukkan pukul empat pagi. Mata saya makin berat. Kepala saya makin pusing. Jalan saya makin terseok-seok layaknya zombi. Saya hanya berharap dan menguat-nguatkan diri supaya tak jatuh pingsan. Tak lucu bila tiba-tiba pingsan di tengah jalan dan tak ada satu pun orang di sekitar situ.

Ganti Sasaran

Saya jalan kaki kembali ke arah bundaran UGM. Bila memang tak berhasil dapat penginapan di situ, saya akan ke pusat kota. Saya akan mencari hotel di dekat stasiun sekalian. Jadi bila mau naik kereta tinggal jalan kaki. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah melangkahkan kaki mencari taksi. Saya tahu di dekat bundaran UGM ada rumah sakit. Di depan rumah sakit yang ternyata bernama Panti Rapih itu mungkin ada taksi mangkal.

Jarak Bundaran UGM ke Rumah Sakit Panti Rapih sebenarnya cuma 60 meter dan hanya, ya, H-A-N-Y-A, butuh waktu satu menit jalan kaki. Namun yang cuma 60 meter itu terasa 6.000 kilometer dan yang hanya satu menit itu menjadi satu tahun jalan kaki. Menuju Rumah Sakit Panti Rapih rasanya tak sampai-sampai dengan membawa badan yang sangat kecapaian yang di atasnya bertengger sebentuk kepala yang pusingnya makin menggila.

Hati jadi semringah saat terlihat sebuah taksi hijau tua mangkal di depan Rumah Sakit Panti Rapih. Saya sangat berharap sopirnya ada dan tidak tidur di dalam taksi itu. Yang lebih penting lagi, dia mau mengantarkan saya ke salah satu hotel yang berderet di sepanjang Jalan Pasar Kembang di samping Stasiun Tugu. Tak peduli deretan hotel yang ada di situ dikenal sebagai hotel esek-esek. Saya cuma mau tidur. Titik!

Untungnya sopir taksinya melek dan mau membawa saya ke Jalan Pasar Kembang. Di dalam taksi saya menyandarkan punggung agak merosot biar kepala saya yang sangat pusing bisa direbahkan di atas jok. Untuk sesaat saya bisa mengistirahatkan badan. Di dalam taksi, saya menikmati kemewahan itu. Saya sudah tak peduli lagi untuk mengagumi malamnya Yogyakarta di sepanjang perjalanan. Lagian apa yang bisa saya nikmati?

Betul-betul Malam Jahanam di Yogyakarta

Taksi sampai di Jalan Pasar Kembang. Saat di mobil saya bilang ke sopir kalau saya mau cari penginapan. Oleh sopir taksi, mobilnya diberhentikan di depan salah satu hotel yang ada di situ. Dia kemudian bertanya tentang ketersediaan kamar kepada seorang perempuan yang berdiri di depan hotel. Percakapan yang terjadi antara sopir taksi dan perempuan itu persisnya saya lupa, yang saya ingat waktu itu saya kemudian ditawari jasa layanan perempuan itu. Rupanya dia pedagang daging mentah yang mangkal di depan hotel itu, bukan pegawai hotel. Mbak pedagang, Mas sopir taksi, saya butuh tempat tidur ya. Bukan teman tidur. Saya betul-betul mengalami malam jahanam di Yogyakarta kalau begitu caranya.

Berakhirnya Malam Jahanam di Yogyakarta

Jalan Pasar Kembang terkenal sebagai lokasi jual beli jasa sambung raga sudah saya alami sendiri. Saya akhirnya memutuskan tidak menginap di hotel. Setelah membayar ongkos taksi, saya berjalan menuju stasiun yang hanya beberapa meter dari tempat saya berdiri. Saya tak yakin diperbolehkan masuk area stasiun karena saat itu sekitar pukul 04.30 pagi sedangkan kereta saya berangkat pukul 09.07 WIB.

Hoki saya rupanya lagi baik. Mungkin petugas stasiun yang jadi penjaga pintu masuk setelah mengamati tampang saya yang kuyu dan kucel serta terlihat kelelahan lalu jatuh iba. Dia mengijinkan saya masuk. Senang bukan main hati ini dibuatnya. Saya segera ke musala untuk ambil air wudu lalu menghadap Sang Maha Pemilik termasuk pemilik malam jahanam di Yogyakarta yang baru saja saya lalui. Kebetulan belum lama memang terdengar suara azan subuh entah dari masjid mana.

Selesai salat subuh, saya menuju deretan bangku panjang di dekat musala. Banyak kursi kosong tersedia. Sebagian terisi orang yang sedang tidur. Saya memilih salah satu bangku panjang kosong untuk rebahan. Kesempatan ini yang saya tunggu semenjak di Jalan Blimbingsari. Meskipun sudah mendapatkan apa yang saya idamkan, saya tak berani tidur pulas. Khawatir kebablasan. Keinginan saya berganti. Kalaupun sekarang tak bisa tidur nyenyak, saya akan balas dendam nanti di atas kereta. Jika kereta Yogyakarta-Jakarta masih kurang, saya akan tambahi kereta Jakarta-Bogor.

Sumber gambar: koleksi pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here