escargotMakan enak memiliki definisi beragam. Antara satu orang dengan lainnya bisa berbeda. Bahkan mungkin saja malah kontradiktif. Maksudnya, makan enak seseorang bisa jadi merupakan makan super tidak enak bagi seseorang yang lain. Misalnya escargot.

Makan enak atau tidak itu tergantung banyak faktor. Makan enak menyangkut selera. Bila bicara selera, sampai berbuih-buih mulut pun tak akan pernah sampai pada titik temu. Selera tak bisa diperdebatkan. Apalagi selera makan penghuni negeri yang memiliki banyak suku beserta kulinernya ini. Wajar, misalnya, bila orang Bogor seleranya pada kuliner Bogor. Itulah sebabnya, sungguh konyol bila sampai terjadi pertikaian akibat memperdebatkan selera makan.

Saya kira, makan enak bisa menjadi universal sifatnya bila menyangkut satu hal, yaitu rasa lapar. Siapa pun kita, dari suku atau bangsa mana pun, makanan yang sedang kita santap akan jadi makan enak bahkan terenak di dunia bila kita dalam keadaan lapar. Tak peduli sesederhana apa pun makanan yang kita telan. Jadi kalau mau makan enak, cukuplah dengan melaparkan diri dulu saja.

Saya jadi berpikir kembali mengapa dulu  saya merasa oseng-oseng oyong yang dimasak mendiang nenek begitu enak saat saya mengunjungi desa tempat tinggalnya ketika libur sekolah dan menginap di rumah beliau.  Kesan itu begitu sangat membekas. Padahal kejadian itu sudah lama sekali, puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih sekolah di SD atau SMP. Saya masih mengingatnya dengan baik sampai sekarang.

Kesan yang sama juga saya rasakan terhadap masakan ibu saat beliau masih sanggup masak. Sekarang beliau tak lagi masak karena faktor usia. Sampai sekarang saya masih menganggap masakan sederhananya yang hanya terdiri dari potongan cabai hijau, bawah merah kupas utuh, dan garam lalu ditumis sebentar dengan sedikit minyak adalah masakan paling lezat. Apalagi kalau beliau masak cumi hitam, yaitu cumi yang dimasak sekalian dengan tintanya. Benar-benar makan enak.

Mengapa menyantap oseng oyong nenek jadi makan enak padahal biasanya saya tidak suka oyong? Mengapa tumisan cabai hijau dan bawang merah yang begitu sederhana bikinan ibu jadi makan enak? Sampai-sampai mau menghabiskan nasi sebakul karenanya. Setelah saya pikir-pikir, itu pasti karena lapar. Rasanya tak masuk akal bila biasanya tak suka oyong tiba-tiba menjadi demen kalau bukan karena lapar.

Doyan Escargot?

Makan enak setiap orang tentu saja berbeda. Makan enak tak harus menyantap sajian haute cuisine yang diracik koki kelas dunia. Makan enak bisa datang dari dapur ndeso yang mungkin dianggap kumuh oleh mereka yang biasa masak di dua macam dapur yaitu dapur basah dan dapur kering. Makan enak bisa berupa sambal tumpang yang dibuat dari tempe busuk, jajangmyeon, mi ayam, semur jengkol, les escargot a la Bourguignonne, kari tutut, mutton biryani, tutug oncom, piza, kue cucur, botok sembukan, caesar salad, gado-gado, dan lain-lain.

Intinya makan enak itu banyak hal yang melatarinya. Kita yang biasa makan singkong tentu akan menganggap enak makanan yang berbahan baku singkong. Mereka yang hidup di dataran tinggi Alpen akan merasa makan api saat mencoba menikmati combro isi oncom campur cabai jablay. Begitu juga sebaliknya. Kita yang tak biasa makan ikan mentah, akan meremang bulu kuduk saat disuguhi sashimi. Jangankan menelannya, baru mencium baunya saja isi perut sudah sampai di tenggorokan. Mual luar biasa. Tak peduli sashimi itu sudah dibalur wasabi dan minyak wijen atau olesan penyedap apa pun. Kalau sudah begitu, gimana bisa disebut makan enak?

Jadi, makan enak itu terkait dengan selera. Selera dibentuk oleh tempat lahir dan lingkungan pergaulan. Tak ada tingkatan selera superior-inferior. Mereka yang tinggal di kota, yang hobinya makan escargot, tidak otomatis seleranya lebih tinggi, makanannya lebih enak. Malahan sekarang banyak orang kota yang pergi ke desa dan kampung untuk berburu kuliner. Katanya mau makan enak. Gimana coba?

Balik lagi ke hal yang sudah saya sebutkan di paragraf ketiga. Apa pun seleranya. Tak peduli apa pun makanannya. Untuk makan enak, kunci sejatinya hanya satu: LAPAR. Itu saja.

Sumber gambar: koleksi pribadi

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here