Terbit juga akhirnya majalah setan sesuai rencana, 7 April 2006. Tadinya mau cuek saja. Tidak peduli. Mau terbit mau nggak, bodo amat. Tapi ternyata nggak bisa. Nurani ini rupanya masih belum bisa diajak untuk begitu. Sebenarnya secara finansial, tidak ada sesenpun kerugian yang saya derita. Investor bukan. Karena saya bukan orang kaya. Kalaupun kaya nggak bakalan sudi inves untuk bisnis mesum kayak gitu. Pemilik apalagi, pasti lebih bukan lagi. Sepeda motor saja nggak punya. Tapi hati ini rasanya nelongso banget. Dan saya yakin, lebih banyak rakyat yang nelongso daripada tidaknya. Nggak ada gunanya punya pemerintah budheg. Tidak mau mendengarkan teriakan rakyatnya. Tidak ada tindakan nyata yang diambil untuk mencegah terbitnya majalah tersebut. Polisi yang dilapori berkilah untuk menangkap para pelakunya. Alasannya tidak ada gambar mesum di dalamnya. Bila sikap pemerintah tetap seperti itu, bisa jadi akan semakin banyak sukarelawan yang bergabung ke FPI.

Saya sendiri, hanya bisa melawan dengan doa. Lewat blog ini saya mendukung tindakan FPI menyuiping (sweeping) majalah yang sudah terlanjur beredar. Saya setuju para pelakunya dirajam. Termasuk model sampulnya, Andhara Early, janda beranak satu yang tidak ketahuan siapa bapaknya. Juga model lain yang ada di majalah itu, Kartika Oktavina Gunawan, serta pimpinan redaksi Erwin Arnada, fotografer Oke Gania, dan penanggung jawab Ponti Corolus.

Indonesia negeri tercinta ini penduduknya mayoritas muslim. Presidennya muslim, haji. Wakilnya muslim, haji. Ketua MPRnya muslim, haji. Ketua DPRnya muslim, haji. Tapi kelompok minoritas bejat bak THE UNTOUCHABLE yang punya kuasa.

Jan-jane negoro ki duwe’e sopooooooooooo……….?!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here