Kisah ini adalah tulisan ke-10 atau terakhir dari cerita berantai dengan topik Perkawinan Darah. Proyek penulisan ini digarap oleh 10 blogger dengan urutan penulis @echaimutenan, @ari_dexter, @harrismaul, @juleahardy, @elafiq, @thianongnong, @aniRingo, @IndahJuli, @mataharitimoer dan @wkf2010. Mereka berasal dari empat komunitas yaitu Blogor (Komunitas Blogger Bogor), dBlogger (Komunitas Blogger Depok), Komunitas Blogger Bekasi, dan Dotsemarang (Komunitas Blogger Semarang). Cerita sebelumnya dapat dilihat di sini. Seluruh tautan tulisan bisa dibaca di sini. Selamat menikmati.

Ombak samudera tak pernah lelah menghantam tebing karang Uluwatu. Buihnya yang putih menebar ke segala arah begitu ombak itu pecah. Kabut tipis yang terbentuk dari hasil benturan ombak ke dinding karang tak pernah berhenti menyelimuti sekeliling tempat tersebut. Bila dilihat dari atas, perairan yang ada di bawah tebing karang terlihat samar-samar. Di langit, serombongan burung camar terbang menuju ke arah matahari yang sudah condong ke barat. Dua gumpalan mega putih berselimut cahaya kuning keemasan dari sang mentari menghiasi langit yang keperakan.

“Selamat sore, bang.” Seorang pengunjung yang baru datang menyapa sambil menarik sebuah kursi kemudian ikut bergabung dengan orang-orang yang membentuk setengah lingkaran menghadap orang yang disapa itu.
“Sore. Gimana anak istrimu, Dal?” Idang Ginting membalas sapaan Afdal, sahabat sekaligus langganan kafenya. Dia berhenti mengisahkan cerita favoritnya kepada para pengunjung kafe yang duduk dengan sabar di depannya.
“Anak istri baik, bang.” Afdal menjawab pertanyaan Idang Ginting.

Seperti biasa, Uluwatu’s Jazz Café milik Idang Ginting itu ramai dengan pengunjung. Lokasinya yang berdekatan dengan Pura Luhur Uluwatu menjadi tempat singgah yang nyaman bagi pengunjung obyek wisata baik lokal maupun mancanegara. Para pengunjung tersebut sebagian besar adalah langganan. Mereka selalu datang dan menyempatkan diri mampir ke kafe itu meski hanya sekedar menikmati secangkir cappuccino atau sebotol bir. Menu yang ditawarkan adalah menu standar kafe, sama seperti di kafe-kafe sejenis yang ada di sekitar tempat itu atau di wilayah berbeda yang ada di Bali. Keistimewaan yang dimiliki Uluwatu’s Jazz Café dan jarang ditemukan di kafe lain adalah Idang Ginting selalu menyapa satu persatu tamu yang datang, baik pendatang baru maupun pelanggan. Satu lagi, dan yang ini pasti hanya ada di kafenya Idang Ginting, dia menjadi seorang pencerita ulung yang menghipnotis pendengarnya setiap kali mengisahkan suatu tragedi terkait dengan lukisan kuno. Sebuah lukisan sepasang pecinta yang tergantung di dinding belakang para bartender yang meracik minuman. Meski sebagian dari kisah itu pada dasarnya diulang-ulang, pendengarnya seolah merasa mendengarkan kisah baru. Kelihaian Idang itulah yang menjadi pesona magnetis bagi pengunjung kafe.

Seperti yang sedang berlangsung sore itu, Idang Ginting sedang membuat pengunjung kafe terhipnotis oleh kisahnya saat Afdal datang. Setelah bertegur sapa sebentar dengan Afdal, Idang kembali melanjutkan ceritanya.
“Jadi ketika Diego menemukan Ica sudah tak bernyawa di atas sofa, kecurigaan Diego tertuju pada Lasmi.” Begitu awal kisah yang mulai didengar Afdal sore itu.

Darah segar yang berbuih masih berceceran di sofa, daster, dan bibir Ica. Diego tak kuasa menahan kepedihan saat memeluk tubuh istrinya yang sudah tak bernyawa. Lasmi yang mencoba membantu mengelap darah di bibir Ica menggunakan tisu dia tepiskan dengan lembut. Diego masih mampu menahan untuk tidak berlaku kasar. Bagaimanapun juga dia tetap curiga dengan perempuan ini meski ada hubungan darah. Lasmi adalah adiknya yang berasal dari satu rahim beda bapak. Suaminya yang kini mendekam di Nusa Kambangan karena kasus narkoba tidak otomatis menghilangkan kecurigaannya. Ada yang mengganjal di hatinya semenjak Lasmi ikut bersamanya namun hal itu dia abaikan. Setelah kejadian itu, dia berniat akan mencari tahu lebih jauh siapa Lasmi sebenarnya selain sebagai adiknya.

Dua hari dirasa sudah cukup bagi Diego untuk tenggelam dalam kesedihan. Dia tidak mau berlarut-larut meratapi nasib. Kehilangan Ica memang peristiwa tragis tetapi hidup harus dilanjutkan. Tiba-tiba dia ingat, saat kejadian itu mata Lasmi melirik penuh arti ke lukisan yang menempel di dinding. Lukisan tua yang menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan tempo dulu. Ada apa dengan lukisan itu? Bergegas Diego mendekati lukisan itu. Dia amati dengan cermat setiap permukaannya berharap ada satu petunjuk yang bisa dia pergunakan untuk menguak rahasia tentang Lasmi. Dalam lukisan yang dibingkai pigura besar itu, sang perempuan memiliki raut muka dan bentuk tulang pipi yang mirip kepunyaan Lasmi. Selama ini Diego memang tidak pernah meneliti lukisan tersebut. Posisinya yang menempel di dinding ruang keluarga dan setiap hari dia lewati membuat dia abai keberadaannya.

Keterangan: gambar dicolong dari blognya @mataharitimoer yang saya yakin juga hasil nyolong. 😉

Tatapan mata Diego berhenti di sudut kanan bawah lukisan. Di tempat itu terdapat inisial DAB. Dia berjalan cepat menuju ruang tamu. Di ruangan itu terdapat pula sebuah lukisan dengan gambar sepasang laki-laki dan perempuan yang nampaknya sama hanya posisinya yang berbeda. Di sudut kanan bawah lukisan itu juga terdapat inisial DAB. Diego tahu kedua lukisan itu sudah lama ada di tempat seperti yang sekarang dia lihat. Tetapi adakah hubungan kedua lukisan ini dengan kematian Ica istrinya? Benda itukah, yang setiap hari tergantung di dinding dan seisi rumah tidak peduli, yang membuat Lasmi tega membunuh Ica? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.

Karena tak berhasil menemukan titik terang, Diego menuju ke meja kerjanya. Komputer yang ada di atasnya dia nyalakan. Koneksi internet otomatis tersambung begitu komputer hidup. Iseng-iseng dia ketik kata kunci ‘lukisan dab’ di mesin pencari, Google. Dalam hitungan detik, terpampang di depannya ribuan tautan yang mengandung kata kunci itu. Di baris paling atas ada judul tautan yang menarik perhatiannya, beserta sebuah deskripisi yang tertulis di bawahnya. Deskripisi itulah yang membuatnya segera membuka tautan tersebut. Beberapa detik kemudian, di depannya terdapat sebuah berita dengan judul, “Kolektor Asing Berani Membayar US$10 Juta untuk Lukisan DAB (Damian Armando Bollattelli)”. Jadi inikah penyebab kematian Ica?

***

Sebuah musik Barrock terdengar. Asalnya dari telepon genggam Diego. Dia segera mengeluarkan telepon yang ada di saku jasnya begitu nada dering itu sampai ke telinganya.
“Halo.”
“Selamat siang. Dengan pak Diego?”
“Betul. Dari mana ya?”
“Saya Jeremiah Markonah dari Laboratorium Rumah Sakit Prokere Sukamiskin Internasional. Saya hanya ingin menginformasikan, keterangan mengenai sampel cairan yang bapak kirimkan dua hari yang lalu bisa diambil. ”
“Baiklah. Saya meluncur ke sana sekarang.”

Diego menyambar kontak mobil yang ada di meja. Lalu lintas Yogyakarta bisa dibilang masih ramah dibandingkan Jakarta. Kepadatan kendaraan dan kemacetan yang diakibatkannya masih bisa ditolerir. Diego mengemudikan Hummer kuningnya membelah kota Yogyakarta. Mobilnya dia arahkan ke Klaten. Laboratorium rumah sakit yang dia tuju berada sebelum komplek Candi Prambanan. Dua hari yang lalu, dia telah mengirimkan sampel darah yang menempel di jasad Ica ke laboratorium itu sebelum polisi datang. Hal itu dia lakukan karena kecurigaan atas kematian istrinya yang mendadak itu. Dengan hati berdebar, dia berharap ada berita positif dari hasil laboratorium yang sebentar lagi dia terima.

Hummernya dia parkir di bawah pohon mahoni begitu sampai di pelataran Laboratorium RS Prokere Sukamiskin Internasional. Dengan langkah lebar Diego menuju meja resepsionis. Seorang gadis cantik dan wangi menyambut kedatangan Diego dengan senyum menawan. Senyum yang sudah menjadi standar perusahaan untuk tamu-tamunya.
“Selamat siang, mbak. Saya mau ketemu dokter Marko.”
“Selamat siang, pak. Sudah ada janji?”
“Sudah.”
“Maaf, dengan bapak siapa?”
“Diego.”
“Mohon ditunggu. Silakan duduk, Pak Diego.”
“Terima kasih.”

Resepsionis cantik itu menghubungi sebuah nomor. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mendengarkan lawan bicara di ujung saluran telepon. Begitu gagang telepon ditaruh, dia menghampiri Diego.
“Mari dengan saya, pak. Dokter Marko sudah menunggu.”
“Terima kasih.”

Perempuan cantik wangi berjalan sedikit di depan Diego menuju ruangan di ujung lorong. Lantai keramik putih, dinding putih, dan lampu TL yang juga putih menjadikan lorong itu terang benderang seperti jalan menuju surga sebagaimana digambarkan dalam sebuah film Hollywood. Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan dengan papan nama Dr. Jeremiah Markonah, Msc, SpPD-KR menempel di pintu. Oleh si resepsionis, pintu itu diketuk.
“Ya, silakan masuk.” Terdengar suara lembut dari dalam.
“Silakan, Pak Diego.” Setelah membukakan pintu untuk Diego, resepsionis itu kembali ke meja kerjanya.

Diego masuk ke sebuah ruangan yang luas dan bersih. Di sudut ruangan terdapat meja besar berwarna putih yang di atas terdapat banyak pernak-pernik. Yang paling menonjol adalah anatomi manusia setengah badan.
“Silakan duduk, pak.”
“Terima kasih.” Diego menghampiri kursi yang ada di depan meja. Di seberang meja, perempuan setengah umur berkulit sawo matang duduk dengan tenang menunggu Diego meletakkan pantatnya dengan sempurna. Diego sebelumnya pernah bertemu dokter Marko saat menyerahkan sampel darah dari mulut Ica.

“Langsung saja, Pak Diego. Dari hasil tes laboratorium dan ini kami lakukan dua kali untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh benar-benar akurat, sampel cairan yang keluar dari mulut istri bapak positif mengandung arsenikum. Inilah penyebab utama dari kematian istri bapak. Prosesnya memang tidak mendandak. Dari tes yang kami lakukan, penumpukan racun ini berlangsung sekitar dua bulan. Arsenikum yang dimasukkan ke dalam makanan atau minuman kemudian dikonsumsi oleh istri bapak memang tidak sekaligus tetapi sedikit demi sedikit. Keracunan yang terjadi sangat lambat prosesnya. Bila dilihat sepintas, kematian tersebut memang seperti sebuah penyakit yang bisa dijelaskan secara medis. Namun tes yang kami ulang itu mendukung hipotesa kami sehingga dengan yakin kami bisa menyimpulkan seperti itu.”

Diego terhenyak dengan uraian dari dokter Marko. Kekhawatirannya terbukti sudah. Dia tidak ingin bertanya lebih jauh. Apa yang disampaikan oleh dokter petugas laboratorium sudah cukup baginya. Diego berpamitan. Hasil tes laboratorium penyebab kematian Ica ada di tangannya. Lasmi yang selama ini tinggal bersama dia dan Ica ternyata menjadi harimau betina yang memangsa tuannya. Hanya karena lukisan, Lasmi tega menghabisi nyawa Ica. Diego tahu pasti itu penyebab Lasmi bertindak kejam karena dia pernah membaca status di linimasa Twitternya menyebut lukisan DAB dengan seseorang. Mengapa hanya Ica? Akankah nyawa saya juga akan diambilnya? Timbul pertanyaan dalam benak Diego.

***

Lasmi baru pulang dari lari pagi. Dia melakukan olahraga itu setiap hari setelah Diego berangkat kerja. Rute favoritnya adalah jalan beraspal di tengah sawah yang tidak terlalu banyak mobil atau motor, hanya sepeda para buruh tani yang kadang-kadang lewat. Di telinganya selalu menempel earphone yang disambungkan ke iPod. Gadget pemutar musik yang tipis itu dia masukkan ke dalam kantong kulit yang menempel di ikat pinggang. Sambil menikmati alunan musik, Lasmi berlari menyusuri tepian jalan. Diego tahu kebiasaan adiknya ini.

Perihal Diego telah pergi ke laboratorium untuk memeriksakan cairan dari mulut Ica, Lasmi tidak tahu. Kemarin ketika Diego pulang dari laboratorium, dia tahunya kakak satu-satunya itu baru kembali dari tempat kerja seperti biasanya. Rumah batik yang berada di dekat Stasiun Tugu baru setahun dibuka Diego dan menjadi kantornya sehari-hari.

Pagi ini ketika dia pulang dari kegiatan rutinnya, Lasmi menemukan rumahnya kosong. Hummer kuning milik Diego yang biasa terparkir di halaman rumah tak terlihat.  Ada yang aneh.
“Mas Gooooo… Mas Gooooo…” Lasmi memanggil nama kakaknya saat dia memasuki rumah. Tidak ada suara yang menjawab panggilannya. Matanya melotot ketika melihat lukisan sepasang pecinta di ruang tamu tidak ada. Yang tertinggal hanya pigura yang membingkai. Lasmi buru-buru menuju ruang keluarga. Di tempat itu, lukisan yang menempel di dinding juga tinggal pigura kosong. Apa yang terjadi? Ke mana mas Diego? Dilihatnya amplop biru tergeletak di atas meja makan. Perlahan dia mendekati. Diamatinya tulisan yang ada di sudut kiri atas amplop yang kini sudah dia pegang. Di amplop itu tertulis “Laboratorium RS Prokere Sukamiskin Internasional”. Di bawahnya, dengan huruf lebih kecil, terdapat alamat lengkapnya. Di tengah amplop tertulis, “HASIL TES”.

Lasmi mengeluarkan kertas yang ada di dalam amplop. Selembar kertas biru muda dilipat tiga. Ketika kertas berlipat itu dia buka, di dalamnya terdapat sepotong kertas kecil seukuran kartu nama. Di atas kertas kecil itu terdapat tulisan Diego, hanya satu kata: “Untukmu”. Lasmi selanjutnya membaca tulisan yang ada di kertas biru yang dilipat tiga. Lasmi tidak bisa berkata apa-apa. Laporan hasil tes laboratorium itu membuat mukanya memucat seputih kertas. Tanpa dia sadari, kertas beserta amplopnya telah jatuh di sebelah kakinya.

***

Haji Zoer begitu gembira ketika rumahnya yang berada di Kampung Cipeler yang masuk wilayah Desa Sukaraja Kabupaten Bogor ada yang mengontrak. Harga yang dia sodorkan langsung diterima tanpa ditawar oleh Idang Ginting yang mengaku baru pertama kali masuk Bogor. Apa yang dikerjakan oleh pengontrak rumahnya tidak penting bagi Haji Zoer. Yang terpenting adalah rumahnya ada yang mengontrak. Setelah berjalan seminggu, Idang Ginting menemui Ketua RT kampung tempat tinggalnya itu untuk mengajukan permohonan membuat Kartu Tanda Penduduk. Dengan memberi salam tempel ke Ketua RT itu, dia berhasil memperoleh KTP. Berbekal kartu identitas itu, Idang Ginting mulai mengurus ijin usaha jasa transportasi yang dia beri nama Cipaginting Tour & Transportation.

Dua tahun sudah Idang Ginting tinggal di Kampung Cipeler. Dalam kurun waktu itu, usahanya telah maju pesat. Cipaginting telah memiliki kantor pusat yang terletak di Botani Square dan empat kantor cabang yang tersebar di Bogor Utara, Bogor Selatan, Bogor Timur, dan Bogor Barat. Saat ini, Cipaginting telah dipegang oleh seorang Managing Director sebagai pengendali roda manajemen. Idang Ginting sendiri sudah tidak lagi berperan aktif dalam bisnis tersebut. Bulan depan dia malah akan meninggalkan bisnisnya ini dan mempercayakan sepenuhnya pengelolaan Cipaginting Tour & Transportation ke Managing Director yang menjadi orang kepercayaannya. Dia akan menuju Pulau Dewata. Bulan depan, soft opening dari Uluwatu’s Jazz Café akan diadakan. Kafe yang dari terasnya bisa memandang Pura Luhur Uluwatu dan birunya Samudera India tersebut telah dibangun oleh Idang Ginting sejak enam bulan yang lalu. Di tempat itulah dia akan tinggal dan meninggalkan kehidupan masa lalunya. Nama Diego telah dia kubur dalam-dalam. Pengunjung kafe tahunya dia bernama Idang Ginting, sesuai nama KTP, yang menjadi pemilik Uluwatu’s Jazz Café.

Sumber gambar: Uluwatu

18 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here