>Jujur saja, saya mpet (lima anem) melihat tingkah selebriti kampungan yang begitu arogan di tayangan infotainment salah satu media elektronik beberapa waktu yang lalu. Sebagai tindakan preventif agar tidak menyebabkan munculnya bisul campur jerawat yang ujung-ujungnya merugikan diri saya sendiri, saya buatlah tulisan ini.

Sebenarnya tidak ada gunanya bercape-cape menulis hanya untuk seorang penghibur kelas teri yang tidak berkualitas seperti dia. Namun saya melihatnya dari sudut pandang keuntungan saya sendiri yang bila tidak saya keluarkan uneg-uneg ini bisa jadi penyakit yang menggerogoti tuannya sendiri. Selain itu, saya pikir tulisan ini juga bisa menjadi sarana buat anda untuk melepaskan apa yang ada di dalam diri anda seperti yang sedang saya rasakan saat ini. Dengan begitu, bila anda setuju dan cocok dengan apa yang saya tulis di sini, anda tinggal bilang, aaaammiiinnn…. seperti kalau anda sedang jadi makmum dalam sholat berjamaah. Jika perlu, teriak saja sekeras-kerasnya.

Anda mungkin saat ini masih menebak-nebak, siapa yang saya maksudkan dengan selebriti itu. Bila seperti itu anda berarti seperti yang saya pernah istilahkan dalam blog saya beberapa waktu yang lalu, anda ini dalam kondisi narketing (kalau marketing kan pemasaran). Ow… ow… syapa diya? Saya sengaja tidak menyebutkan namanya di sini. Kan katanya tidak boleh menyebutkan merek? Bagi pecinta Harry Potter, dia itu seperti Voldemort yang tidak pantas disebut namanya (bukan Kau-Tahu-Siapa). Saya hanya akan memberi ciri-ciri yang bagaimanapun juga tidak menjamin anda otomatis akan bisa menebak dengan benar. Biar tenang membacanya, anda setuju sajalah dengan cara saya yang main tebak-tebakan ini.

Musik dangdut itu milik siapa saja. Artinya orang gedongan pun boleh saja mengklaim musik itu miliknya. Tidak melulu harus orang kere, bromocorah rendahan yang suka ngibing di lokalisasi, atau pelacur lima ribuan saja yang berhak atas musik dangdut. Bahkan musik yang konon berasal dari negeri sungai Gangga ini sudah diaku menjadi musiknya rakyat Indonesia. Sampai-sampai grup musik parodi dari Bandung perlu mencipta lagu yang diberi judul deklaratif meskipun dalam bahasa Inggris: Dangdut is the music of my country. Tidak mau kalah juga, televisi-televisi kita menciptakan program kontes-kontesan, kompetisi-kompetisian, dan idolidolan yang berbau dangdut. Jadi tidak salah bila tiba-tiba dalam kampanye pilkada atau pemilu nanti, misalnya, muncul slogan yang kedengaran nasionalis dan bernuansa kerakyatan. Slogan itu misalnya seperti ini, Mari memasyarakatkan dangdut dan mendangdutkan masyarakat, atau Dangdut yes, korupsi no!, dan mungkin saja seperti ini, Dangdut? Ya iya lah, masa ya jreng.

Dalam praktek, dunia dangdut pun dapat menjadikan penyanyinya seperti penyanyi kampungan mujur yang membuat saya mpet ini menjadi tajir. Dan anda juga pasti tahu penyanyi dangdut dari desa di Jawa Timur yang sempat mau dikontrak Pertamina karena goyangannya akan digunakan untuk mengebor minyak di lepas pantai Kalimantan. Sekarang kita lihat, dia jadi milyarder. Dulu ratu ngebor ini juga sempat bikin heboh bangsa agamis ini. Apalagi fotonya pernah terpampang di sampul majalah Time. Namun pernyataannya di media tidak searogan penyanyi yang satu ini. Dan juga, penyanyi Jawa Timur ini juga tidak sedemonstratif dalam memamerkan sekwilda (sekitar wilayah dada) dan bupati (membuka paha tinggi-tinggi). Bisa lihat kan sekarang? Sama-sama penyanyi dangdut, sama-sama penyanyi kampung, tapi di antara yang vulgar itu penyanyi goyang ngebor ini lebih santun. Jadi, the best of the worst lah.

Yang lebih menyakitkan lagi bagi sebagian orang, pernyataan-pernyataannya yang sudah pasti ditonton jutaan mata di Indonesia itu memberi kesan pemerintah ini tidak ada apa-apanya. Dengan adanya barisan orang di belakangnya yang saya yakin para pengacara bayaran karena salah satunya adalah pengacara perempuan yang suka disewa selebriti, seolah-olah dia bisa dengan seenak udelnya mengeluarkan ucapan-ucapan yang suka-suka dia. Saya sakit hati. Teman-teman yang saya kenal juga sakit hati. Orang lainpun yang tidak saya kenal yang kebetulan nonton tayangan itu bisa jadi juga sakit hati. Meskipun sudah pasti dia akan mengucapkan, “Siapa sih lu? Emang gua pikirin?” bila diminta menanggapi barisan sakit hati yang tidak dia kenal ini. Namun bila orang-orang yang merasa didzolimi ini mendoakan dia, alangkah dahsyatnya akibat yang akan dia terima. Anda tahu? Betapa mustajabnya doa orang-orang yang teraniaya.

Media masa seperti televisi memang merupakan sarana efektif bagi seseorang untuk menjadi terkenal. Tetapi jangan salah, media juga menjadi alat ampuh untuk mendiskreditkan. Jika pedangdut yang janda dan bersuara agak serak ini tidak hati-hati, media di Indonesia yang jumlahnya ratusan ini bisa menjadi senjata yang akan memakan dia sendiri. Bila itu yang terjadi, tinggal penyesalan dan linangan air mata yang tidak akan ada gunanya. Sekarang dia bisa membeli orang juga media karena memiliki banyak uang. Suatu saat uangnya tidak akan ada gunanya dan tidak dapat membeli apa-apa. Sekarang dia masih bisa menggoyang-goyangkan bujurna dan membungkuk-bungkukkan badannya agar bajunya yang berleher ‘v’ turun semakin rendah sehingga belahan di dalamnya yang mau tumpah itu dapat dipamerkan, karena dia masih muda dan berisi. Libido, ya libido, yang dia miliki rupanya sedang meletup-letup tak terkendali. Akibatnya, sadar atau tidak, apalagi dia janda, dengan berbagai upaya dia mencoba melampiaskannya dengan begitu brutal sehingga yang terlihat di media adalah hiburan yang penuh eksploitasi seksual. Sampai-sampai teman seprofesinya yang sudah senior menyayangkan pelabelan yang diberikan publik kepada penyanyi dangdut tidak bedanya seperti pelacur gara-gara tingkah laku biduan yang dicekal oleh walikota Tangerang ini. Penyanyi dangdut muda lainnya bahkan menyatakan bahwa dia tidak pernah sekalipun dalam aksi panggungnya melakukan gerakan-gerakan seperti dilakukan oleh penyanyi arogan ini.

Inilah yang dinamakan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers yang kebablasan. Seniman-seniman, seperti penyanyi dangdut norak yang saya ceritakan di atas, mengekspresikan rasa seninya tanpa mempedulikan norma dan sopan santun di masyarakat. Sementara itu media lebih memilih menyajikan program acara yang mendatangkan banyak iklan dan keuntungan dibandingkan menyelamatkan generasi muda bangsanya sendiri. Parameter seleksi program acara yang dijalankan hanya berdasarkan segi komersialnya saja. Tidak heran bila yang terjadi sekarang ini, media menjadi corongnya kemaksiatan dan kemungkaran yang pengaruhnya maha destruktif. Yang ada bukannya amar ma’ruf nahi munkar tapi amar munkar nahi ma’ruf.

SHARE
Previous article>Pejuang Kemanusiaan
Next articleSetan

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here