lebaran 2013Selamat berlebaran, tak peduli apakah Anda merayakannya hari ini, kemarin, esok, atau lusa. Sudah tak penting lagi kapan hari kemenangan itu dirayakan. Yang utama, Anda, saya, kita semua merayakan dan menikmati indahnya hari yang fitri ini, baik mudik atau tidak. Makan minum enak, berkumpul bersama keluarga, kembali bertemu dengan kerabat dan handai tolan masa kecil, serta menikmati udara sejuk kampung halaman.

Untuk kesekian kali, di setiap menjelang lebaran selalu muncul keriuhan perihal penetapan hari. Seingat saya, ini terjadi semenjak jabatan presiden dipegang oleh SBY. Dulu, kebingungan tidak pernah terjadi. Rakyat dengan tenang memulai dan mengakhiri puasa Ramadan yang keduanya ditetapkan pemerintah. Sebagai rakyat, pemerintahlah yang dijadikan acuan. Apa pun yang diputuskan pemerintah, rakyat akan mengikuti. Sudah galipnya seperti itu. Sekarang? Pemerintah yang dijalankan oleh SBY bukannya menenangkan tetapi justru selalu membuat bingung dan resah. Setiap menjelang awal puasa Ramadan atau penentuan lebaran, rakyat dihadapkan pada sidang yang lebih memamerkan ego masing-masing kelompok. Saya sebagai rakyat tidak butuh menonton rapat yang tidak penting itu. Rapatlah secara tertutup bila memang harus dilakukan untuk memutuskan. Bila sudah mendapatkan hasil, umumkan. Begitu sederhana. Saya yakin, keputusan seperti apa pun yang diumumkan, rakyat akan ikut. Ya, mungkin saja ada kelompok tertentu yang tidak sepakat. Namun rakyat banyaklah yang lebih diutamakan. Jika ada ketidaksetujuan dengan keputusan tersebut dan ingin berbeda, silakan jalani sendiri.

Setiap Ramadan, wibawa pemerintah selalu diuji. Bila bicara wibawa pemerintah, tentu saja akan melihat siapa yang menjalankan. Jika presiden yang menjadi pemegang kemudi pemerintahan tidak dianggap, bisa diperkirakan seperti apa hasilnya. Mungkin Anda tidak setuju dengan tulisan ini. Tidak apa-apa. Bagi saya, SBY itu presiden yang pernah dimiliki Indonesia yang paling sedikit menunjukkan kinerja bagus bagi rakyat. Yang sedikit itu pun, saya susah mengidentifikasi yang mana. Semenjak diangkat pertama kali sebagai presiden pada 20 Oktober 2004 dilanjutkan yang kedua pada 20 Oktober 2009 hingga sekarang, saya sulit sekali menemukan hasil kerjanya yang benar-benar menyenangkan hati rakyat pada umumnya. Pemberantasan korupsi misalnya, sebagaimana yang dia janjikan setelah pengangkatannya sebagai presiden, apa yang bisa dia tuntaskan dari borok ini? Yang terjadi justru tindakan yang menyakitkan hati rakyat misalnya pemberian remisi lebaran dan Hari Kemerdekaan 17 Agustus kepada 150 koruptor yang mendekam di penjara Sukamiskin Bandung. Terlalu banyak kasus korupsi, khususnya yang tergolong mega korupsi, yang sampai sekarang tak tuntas. Belum lagi kasus lain semacam lumpur Lapindo yang menenggelamkan ribuan rumah penduduk, penanganan bencana yang tidak maksimal, konflik antar pemeluk agama, dan lain-lain.

Kembali ke masalah lebaran. Harga segala barang khususnya sembako yang selalu membumbung setiap menjelang lebaran ternyata belum cukup dalam menyengsarakan rakyat. Kesengsaraan itu rupanya mesti ditambah dengan kebingungan akibat ketidaktegasan pemerintah dalam menentukan hari lebaran setiap tahunnya. Yang dijadikan pegangan rakyat itu keputusan pemerintah, bukan kelompok tertentu. Bila ada kelompok yang tidak sepakat dengan pemerintahnya di mana mereka tinggal, ya alangkah baiknya mereka keluar dari Indonesia. Jika tahu diri tentunya. Itu menurut saya yang rakyat jelata ini.

Seorang teman, Manov, menulis status di dinding FB-nya perihal penentuan Ramadhan dan lebaran. Silakan dibaca status tersebut di bawah ini. Betulkah demikian?

Perputaran bulan dan matahari itu pasti. Tak pernah tengok kanan tengok kiri. Apalagi mampir di warung kopi. Ilmu falak yang kini sudah didukung dengan canggihnya teknologi, mestinya sudah bisa menentukan kapan jatuhnya Ramadhan dan Idul Fitri dalam rentang waktu sepuluh tahun ke depan. Bahkan lebih. Tak mesti ada sidang isbat setiap setahun sekali. Kecuali kalau memang Kementerian Agama sudah tak punya proyek lagi.

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

  1. Setuju buanget aku.Kalo ndak sidang ya ndak bayaran mbah mereka, anggarannya kan banyak. Sidang isbat itu proyek kalo ndak ada proyek ya ndak dapat ceperanlah mereka.

Leave a Reply to Njowotenan Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here