LDR (long distance relationship) sangat akrab bagi pengguna Twitter. Dalam manajamen, hubungan semacam ini juga ada dengan sebutan berbeda. Tentu saja sebutan yang digunakan tidak menggalau sebagaimana biasa dilakukan penghuni Twitter.

LDR atau hubungan jarak jauh dalam bidang manajemen sudah pasti terjadi. Bentuknya bisa macam-macam begitu juga pelakunya: antara kantor pusat dengan kantor cabang, pemasok dengan pabrik, distributor dengan agen, dan lain-lain. Hubungan semacam ini tentu saja tidak menjadi masalah apalagi sekarang didukung dengan sarana prasarana yang sudah sangat memadai. Itu teori! Faktanya? Secanggih apapun perangkat yang digunakan, jika manusianya tak siap atau tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan LDR, sama juga bohong. Komitmen, misalnya. Komitmen adalah salah satu faktor yang harus dimiliki dan ini kan adanya di manusia, bukan peralatan yang digunakan? Jika pelaku LDR dalam manajemen ini tidak memiliki komitmen lebih-lebih kemampuannya pas-pasan, sampai lebaran monyet juga LDR yang dijalankan tidak akan pernah bisa berjalan dengan mulus.

Menjalankan manajemen dari jarak jauh secara teori jelas memungkinkan. Pemimpin tidak harus hadir di tengah-tengah anak buahnya. Instruksi bisa dikirimkan melalui beragam media. Mau pakai apa, tinggal sebut dan pilih: telepon, faksimile, surel, bahkan bila perlu memanfaatkan media sosial semacam Facebook, Twitter, dan blog. Di lapangan, anak buah tinggal melaksanakan apa yang diperintahkan atau yang menjadi kewajibannya. Dalam struktur organisasi, toh sudah jelas siapa melapor siapa. Dengan demikian, tanggung jawab tertinggi di lapangan sudah ketahuan siapa orangnya. Pemimpin yang menjalankan LDR dalam manajemen seperti ini tentunya tinggal terima laporan hasil kerja dari bawahan yang tak ditemuinya setiap hari itu. Tet tooot… ternyata itu kondisi ideal dari sebuah LDR dalam manajemen yang ada dalam konsep tetapi bisa jadi berbeda dalam prakteknya. Ketika cara pengelolaan jarak jauh itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, pasti ada yang tidak beres. Salah satu titik yang perlu diperhatikan adalah pendelegasian. Jangan-jangan, memang dialah biang kerok segala kekacauan yang terjadi.

Pendelegasian yang menjadi bagian dari LDR dalam manajemen memiliki peran penting. Keberhasilan dari proses pendelegasian dan pelaksanaannya akan membuat pekerjaan di lapangan berjalan dengan baik. Tak peduli pemberi delegasi ada di negeri manapun, jika pelaksana delegasi atau pemimpin yang ditunjuk di lapangan bisa menjalankan tugasnya, LDR akan berasa manis. Celaka ketika yang terjadi adalah sebaliknya. Bila ternyata pelaksana delegasi tidak memiliki kemampuan memimpin, hasilnya bisa dipastikan berantakan. Jika ini terjadi, pemberi delegasi harus sadar akan kapasitas pengemban delegasi. Dengan demikian, solusi pemulihan bisa diambil. Lebih celaka lagi, pemberi delegasi dan penerima delegasi dua-duanya tidak kapabel. Ibarat kapal, organisasi terancam karam akibat menghantam karang. Jalannya meliuk-liuk karena nakodanya tidak terampil. Berputar-putar tak tentu arah, tidak tahu harus berlayar ke mana, tak paham darmaga mana yang harus dituju. Nakoda semacam ini harus diganti.

LDR dalam manajemen ibarat menjalankan mainan menggunakan pengendali jarak jauh (remote control). Pemimpin yang tidak berada di tengah-tengah bawahan tak ubahnya seorang anak dengan pengendali jarak jauh di tangan. Nasib mainan tersebut sepenuhnya ada di tangannya. Utuh hancurnya tergantung kecakapan yang memainkan. Itu hanya tamsil. Organisasi tentu saja berbeda dari mainan berpengendali. Di dalam organisasi isinya manusia yang memiliki rasa dan karsa dalam berkarya. Interaksi secara fisik tetap diperlukan antara anak buah dan pimpinan. Jika seorang pemimpin berdalih mengelola organisasi cukup dari jauh sambil melaksanakan kegiatan lain, dia perlu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah yang dia lakukan berjalan dengan baik? Bila tidak ada pengemban delegasi terampil yang bisa dia andalkan, jangan harap orang-orang dalam organisasi tersebut bekerja sebagaimana robot. Ada kelompok orang yang lebih senang diawasi dan didukung dalam bekerja. Mereka tidak memiliki motivasi untuk mencapai tujuan organisasi dan tidak kreatif. Orang seperti ini oleh Douglas McGregor di buku The Human Side of Enterprise masuk dalam kelompok X. Mereka selalu ada dalam organisasi dan sepanjang pengalaman saya, jumlahnya selalu lebih banyak dari orang-orang kelompok Y. Dari fakta yang ada itu, sudah bisa diperkirakan apa yang bakal terjadi jika pemimpin tidak berada di tengah mereka dan tidak ada yang mewakilinya. Atau kalaupun ada wakilnya, kualitasnya memprihatinkan.

Mau menjalankan LDR dalam manajemen dan berhasil? Bermimpilah jika kondisinya seperti di atas.

Sumber gambar: di sini

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here