laskar nyinyirLaskar nyinyir, siapa mereka? Sebelum berpanjang lebar, saya ingin menyatakan terlebih dahulu bahwa tulisan ini bersifat subjektif. Artinya, yang akan Anda baca nanti adalah pendapat pribadi saya. Dengan demikian, bisa saja Anda tidak setuju dan tidak sependapat. Bila Anda berharap akan menemukan tulisan objektif, alamak, Anda mungkin akan kecewa. Namun jika ternyata Anda setuju, ya silakan saja. :mrgreen:

Nyinyir bisa terjadi di mana saja termasuk di media sosial. Namun yang terbanyak, nyinyir terjadi di Twitter. Ini sangat dimaklumi karena keterbatasan penggunaan karakter yang maksimal hanya 140. Beda jauh, sangat jauh, bila dibandingkan dengan blog. Akibat pembatasan itu, tuip (tweep/pengguna Twitter) harus berulang-ulang dan terus menulis untuk mengekspresikan gagasan dan apa yang dia rasakan. Dengan demikian, dampak yang muncul adalah orang kemudian menjadi nyinyir atau dianggap (dikatakan) seperti itu karena terus-menerus berkicau. Kenyinyiran adalah akibat yang sudah pasti muncul bagi semua pengguna Twitter aktif. Bila kejadian ini disikapi secara berlebihan, akhirnya kita seperti berteriak di tengah kebisingan sambil menggarami lautan. Cape sendiri dan tak ada gunanya.

Mari kita bayangkan berada dalam satu ruangan besar penuh manusia yang sedang saling berbincang maupun bicara sendiri. Volume suara yang dikeluarkan masing-masing orang ada yang tinggi ada yang rendah. Setiap orang bebas berbicara, apa pun. Bahan obrolan ada yang dimengerti ada yang tidak bagi orang lain. Begitu juga masalah suka atau tidak suka akan apa yang diperbincangkan. Sebagian disukai, sebagian lainnya dianggap obrolan sampah, atau ada juga yang diabaikan. Selama kita masih berada di dalam ruangan itu, mungkinkah kita menganggapnya tidak ada sehingga kita tak peduli dan seakan-akan tak mendengar suara-suara itu? Bila jawabannya ya, maka itu artinya hanya fisik kita yang berada di tempat itu tetapi perhatian kita entah ke mana. Pertanyaan kedua, maukah kita tetap berada di ruangan itu tetapi tidak ikut berbicara, hanya sebagai penonton keriuhan yang ada atau kadang malah mencari sumbernya? Jika kita menjawab ya, maka kita ini hanya memposisikan diri sebagai pemerhati atau malah menjadi penguntit. Pertanyaan  ketiga, akankah kita aktif terlibat dalam perbincangan karena tidak mau abai atau hanya sebagai penonton? Bila jawabannya ya berarti kita telah menjadi penghuni aktif, bukan hanya sekadar berbicang dengan orang lain tetapi juga ngomong sendiri bahkan meracau. Terakhir, apakah kita lebih memilih keluar ruangan? Jika menjawab ya, mungkin karena itu pilihan terbaik yang bisa kita ambil.

Selanjutnya, pengandaian di atas kita pindahkan ke dunia Twitter. Ruangan yang saya ciptakan tersebut sekarang menjelma menjadi galurwaktu (TL), maka akan muncul empat kelompok penghuni. Kelompok pertama adalah kita yang membuat akun Twitter tetapi tidak pernah atau jarang digunakan. Bahkan sampai lumpa kalau punya akun tersebut. Yang kedua, kelompok stalker yang hanya menonton dan menguntit, kadang mengicau ulang (RT), sekali-sekali berkicau. Kelompok ketiga adalah tuip aktif yang senang mengoceh. Segala diomongkan, nyamber sana yamber sini. Kadang berbincang dengan tuip lain, entah yang sudah bertemu secara fisik maupun belum. Ada kalanya berkicau sendiri, kemudian suka disebut kultwit, biar berkesan keren dan penting meski pun bagi yang lain belum tentu memiliki kesan seperti itu. Kelompok inilah yang paling cocok disebut laskar nyinyir. Yang terakhir atau kelompok keempat adalah mereka yang memutuskan menutup akun Twitternya atau meninggalkan dan melupakan akun yang dimiliki selamanya.

Menjawab pertanyaan di paragraf pertama, sudah jelas bahwa yang dinamakan laskar nyinyir adalah mereka yang aktif berkicau di galurwaktu, apa pun isinya. Seperti yang pernah saya utarakan di tulisan sebelumnya berjudul Mari Menjadi Nyinyir, tak masalah yang dikicaukan penting atau tidak, bermanfaat atau tidak, selama mereka aktif berkicau, merekalah para anggota laskar nyinyir. Jadi, ketika saya pernah mendapat julukan laskar nyinyir, saya tidak tersinggung apalagi marah, hanya senyum yang saya berikan. Dia tak sadar yang sedang dia labelkan pada orang lain sebenarnya julukan yang menempel di jidatnya sendiri juga.

Kecuali Anda pengguna Twitter yang masuk kelompok satu, dua, atau empat di atas, suka tak suka maka Anda adalah anggota laskar nyinyir sejati. Jika tak percaya, coba cek lema ‘nyinyir’ di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Atau untuk mempermudah Anda, silakan klik di sini (KBBI Daring), kemudian ketik ‘nyinyir’. Selamat bergabung dalam laskar nyinyir, saudaraku. 😎

Sumber gambar: di sini

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here