Setelah tulisan sebelumnya mengulas perihal lontong Cap Go Meh di Bogor, kali ini masih tentang sajian bersantan yang dikenal dengan nama laksa Bogor. Bila sedang wisata kuliner di Bogor, cicipilah laksa Bogor. Banyak pedagangnya yang tersebar di banyak tempat di Bogor.

Membincang kuliner Bogor itu tak ada habisnya. Apalagi bila bertemu dengan orang yang punya minat sama terkait kuliner. Entah itu sama-sama tukang makan, punya hobi serupa misalnya masak, senang berburu kuliner khas daerah tertentu, demen mencoba makanan baru, dan masih banyak lagi. Bila dua orang dengan minat sama bertemu, ibarat mur bertemu baut. Klop!

Saya sempat punya teman kerja, waktu masih kerja di Jakarta, yang punya ketertarikan serupa puluhan tahun silam. Kami sama-sama suka mencoba makanan baru. Ini masih saya ingat sampai sekarang karena begitu membekas di hati. Rasanya sampai kapan pun akan tetap teringat. Bahkan bisa jadi secara tidak saya sadari peristiwa puluhan tahun lalu itu menginspirasi saya membuat grup WhatsApp yang intinya sama yaitu kumpul di tempat makan untuk menikmati menu yang tersedia.

Yang saya lakukan bersama teman kerja yang kebetulan seruangan itu cukup simpel. Setiap bulan setelah gajian, kami bergantian mentraktir. Jadi kalau bulan ini jatah saya mentraktir, bulan depan gantian dia yang mentraktir saya. Bulan depannya lagi, balik lagi ke saya yang kebagian mentraktir. Begitu seterusnya.

Kesepakatan yang kami buat terkait tempat makan untuk mentraktir juga cukup mudah. Warung atau restoran yang dipilih adalah yang pernah didatangi si pentraktir tapi belum pernah dikunjungi yang ditraktir. Jadi kalau saya yang dapat giliran mentraktir, dia saya ajak ke tempat makan yang pernah saya datangi tetapi dia belum pernah. Begitu juga kalau dia yang memperoleh giliran mentraktir. Saya akan diajak ke tempat makan langganan dia yang saya belum pernah ke situ.

Dengan cara begitu, referensi tempat makan kami bertambah. Selain itu, variasi makanan yang kami santap juga makin beragam. Karena teman saya ini datang dari keluarga kaya raya, rumahnya saja hanya selisih beberapa rumah dari tempat tinggal mantan presiden B.J. Habibie, saya selalu diajak ke restoran mewah dengan harga makanannya yang bakal menguras kantong saya. Karena saya orang kampung yang merantau ke Jakarta dan dari keluarga sederhana, tempat makan yang saya pilih untuk mentraktirnya tentu saja hanya sekelas warung dan pedagang kaki lima.

Meskipun kelas tempat makan kami berbeda, kami jelas semakin kaya pengalaman kuliner. Kami sama-sama beruntung. Saya beruntung bisa makan enak di restoran mahal setiap dua bulan. Teman saya beruntung karena dapat menyantap nikmatnya menu sederhana di warung dan pedagang kaki lima di Jakarta yang dia sendiri tak akan pernah tahu dan makan di situ kalau tidak berteman dengan saya yang baik hati dan tidak sombong meskipun tidak rajin menabung ini.

Berburu Laksa Bogor

Ini bukan cerita tentang teman saya yang lagi berburu laksa Bogor. Tentang teman saya yang beruntung itu, saya sudahi saja. Kita kembali membincang laksa Bogor yang agak berbeda dengan laksa Betawi apalagi laksa Singapura.

Mencari laksa Bogor sangat mudah di kota yang punya Kebun Raya ini. Banyak pedagang laksa Bogor bertebaran di mana-mana. Mereka ada yang mangkal di atas trotoar dengan pikulannya atau menggunakan gerobak dorong, menjajakan di kios di pinggir jalan, bahkan ada pula yang menjual di mal.

Seporsi laksa Bogor isinya bisa beragam tergantung pedagangnya. Misalnya ada pedagang laksa Bogor yang menaruh suwiran daging ayam, ada juga yang tidak. Ada yang memberi telur ayam rebus entah setengah atau satu utuh, ada pula yang tidak. Namun bahan yang pasti ada dalam semangkuk atau sepiring laksa Bogor adalah ketupat/lontong, bihun, oncom, tauge, irisan tahu kuning, daun kemangi, lalu disiram kuah santan kuning. Setelah itu, ada pedagang yang menaburi serundeng di atasnya, ada juga yang taburannya pakai bawah merah goreng.

laksa bogor
Laksa Bogor

Rasa laksa Bogor asin gurih menyegarkan. Tidak hanya untuk sarapan, masakan berkuah ini juga cocok dinikmati siang hari bahkan malam hari. Apalagi waktu menikmati laksa Bogor pas hujan, pasti jadi tambah nikmat.

Harga seporsi laksa Bogor variatif tergantung lokasi. Laksa Bogor yang dijajakan mamang-mamang yang pakai pikulan biasanya cuma Rp 10.000 atau bahkan bisa kurang. Tapi mungkin saja ada yang membandrol laksanya lebih dari itu. Jika beli laksa Bogor di pusat jajanan di mal, sudah pasti harganya lebih mahal.

Pedagang Laksa Bogor yang Direkomendasikan

Saya lebih merekomendasikan untuk mencoba banyak pedagang laksa di Bogor karena kadang-kadang mereka memiliki ciri masing-masing. Dengan demikian Anda akan tahu dan bisa memutuskan laksa Bogor dari pedagang yang mana yang setelannya pas untuk lidah Anda. Bila ada rekomendasi dari teman atau info kuliner yang Anda baca, tak ada salahnya dicoba. Tapi jangan berharap pasti cocok dengan indra pengecap Anda.

Laksa Bogor dari pedagang mana pun yang ada di Bogor patut dicoba. Sajian yang termasuk kuliner khas Bogor ini memang wajib dicicipi ketika sedang berada di Bogor.

Sumber gambar: koleksi pribadi

1 KOMENTAR

  1. Utk saya laksa yg di recomend adalah di daerah palasari-cijeruk

    Tempatnya mmg kecil sprt warung doyong istilah saya…tp laksanya….eehhhmmm kunyitnya berasa di tambah telur rebus (kl mau) dan daun kemanginya yg bikin seger dan tambah nikmat makan serta potongan oncomnya…pokoknya mantap banget…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here