Mengapa harus marah bila mendapat kritikan? Mengapa merasa teraniaya jika disamakan dengan kerbau? Rupanya presiden kita ini tidak terima bila diibaratkan kerbau yang berbadan besar, berjalan lamban, berotak kerbau (yang ini sudah pasti), nurut ke mana-mana bila dicolok hidungnya.

Mengapa mereka melakukan itu tentu ada sebabnya. Tidak mungkin mereka dengan tiba-tiba dan tanpa sebab menyamakan presidennya dengan binatang yang menjadi simbol kebodohan. Mereka bukan orang tolol dan goblok. Yang mereka lakukan pasti merupakan perwujudan kekecewaan atas sifat dan sikap dari pemerintah. Karena pemerintahan ini ada di bawah kendali presiden, tentunya sifat dan sikap presiden itulah yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk seekor kerbau.

Nampaknya memang semena-mena dan kasar melakukan demo dengan membawa kerbau. Tetapi coba lebih dicermati lagi. Apa yang bisa diartikan dari binatang kerbau yang berkaitan dengan pemerintahan sekarang? Ya, seperti yang sudah saya sebutkan, para demonstran itu barangkali ingin menyampaikan kepada publik bahwa presiden atau pemerintah sekarang ini badannya besar, lamban dalam bertindak, bebal dalam menyikapi masalah di masyarakat, tidak punya sikap dan pendirian, dan hanya peduli pada diri sendiri.

Mari kita lihat satu per satu. Secara fisik siapa sih yang tidak melihat presiden sekarang ini orangnya gagah dan berbadan besar? Begitupun Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai ¼ milyar, negara ini merupakan salah satu dari lima negara terbesar dalam hal jumlah penduduk. Namun gesitkah? Bila fisik yang diomongkan, bisa jadi presiden kita memang cepat dalam bergerak. Apalagi dia seorang militer. Namun gesitkah pemerintah dalam menanggapi permasalahan yang ada di masyarakat, masalah infrastruktur jalan yang bolong-bolong misalnya? Tidak. Jika rakyat diminta sabar, sampai kapan harus sabar? Sampai jatuh korban lagi? Dan lagi? Dan lagi? Dan lagi? Seperti Sophan Sophian yang terbanting dari moge karena roda depannya masuk lubang sedalam 50cm berdiameter tiga meter yang menganga di tengah jalan. Masih ingatkah? Meskipun kabar yang beredar, kematian suami Widyawati tersebut disebabkan karena kelindas motor temannya. Namun jika di jalan itu tidak ada lubang, pasti akan lain ceritanya. Gara-gara jalan yang rusak pula, minggu kemarin saya berdua dengan soulmate nyungsep di jalan di tengah hujan gerimis. Siapa yang salah?

Sebenarnya kita punya kesempatan mendapatkan pelajaran bagus saat dijajah Jepang dulu. Rasa malu ketika melakukan kesalahan yang dimiliki orang Jepang sayangnya tidak menular dan meresap ke perilaku bangsa kita. Saya tidak menuduh semua saudara kita tidak memiliki rasa malu. Tetapi bila yang tidak punya malu meskipun memiliki kemaluan adalah pejabat yang mengurus negara, apa jadinya negara beserta rakyatnya ini? Alangkah malangnya. Meskipun kekuasaan yang mereka pegang adalah milik rakyat yang diamanahkan ke tangan mereka, tidak gampang bagi rakyat untuk mengambilnya kembali. Mereka akan mengerahkan kekuatan secara penuh tanpa rasa malu untuk mengangkangi kursi jabatan yang begitu empuk itu. Saya yakin bila hal ini terjadi di Jepang, seorang pemimpin akan mundur dan menyerahkan kembali kepada pemiliknya (rakyat) bila diminta. Tapi ini Indonesia bung, Indonesia.

Apa yang salah dengan Indonesia? Tidak ada yang salah dengan negeri yang ijo royo-royo (subur menghijau) ini, yang gemah ripah loh jinawi (makmur). Yang salah adalah orangnya. Inilah sebuah negeri dengan pemimpin  yang lebih suka mempertahankan jabatan dengan menebalkan muka daripada mundur secara elegan.

Pembelaan diri adalah hak semua orang, termasuk seorang presiden. Namun bukan berarti kemudian melakukan pembenaran sesuka-sukanya. Pembelaan yang dilakukan seharusnya obyektif. Semua pihak sebaiknya didengarkan pandangan dan masukannya. Bukan hanya memperhatikan suara yang keluar dari pihak-pihak yang berada di kubunya atau menguntungkan dirinya. Parahnya lagi bila sengaja membudegkan telinga, membutakan mata, mematikan hati nuraninya.

Ayolah belajar untuk jadi legowo, menerima dan rela bila sesuatu yang memang bukan haknya diminta kembali oleh pemiliknya. Jangan terus berargumen untuk mencari pembenaran. Kursi itu memang anda yang menduduki. Tapi anda pasti tahu siapa pemilik sebenarnya.

SHARE
Previous articleKonyol
Next articleSaat Dia Datang

3 COMMENTS

  1. wiiiidddiiiihhhhh mantab juga nih tulisannya.. dah cocok nih kayaknya jadi wakil rakyat…. hehehe… makasih ya mas dah mampir ke blog beranibaca…. ayo berani berani berani nulis kayak gini kayak mas Wong Kam Fung… hehehe

Leave a Reply to wongkamfung Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here