kuliner khas bogor
Gerobak Ketupat Doclang Abah Jujun

Sebelumnya Abah Jujun berkeliling sampai SMP 3 di Jln. Malabar, wilayah Bantarjati, dan tempat lain yang jaraknya cukup jauh sambil memikul dagangannya. Dia rajin menjajakan doclang yang merupakan kuliner khas Bogor. Itu dimulai kisaran tahun 1970-an saat dia mengawali usahanya.

Bukan pekerjaan ringan ketika setiap hari harus bangun tidur sebelum beduk subuh berbunyi. Menyiapkan segala keperluan untuk berjualan selalu dilakoni agar pukul lima pagi sudah bisa berangkat menjajakan dagangannya. Tak ada kata lelah bagi Abah Jujun meski setiap harinya berkeliling. Pukul dua siang dia biasanya sudah sampai rumah kembali. Beristirahat sejenak, lalu beres-beres dan menyiapkan dagangan untuk esok. Begitu yang dia lakukan setiap hari untuk menghidupi keluarganya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mangkal, tidak lagi berkeliling menjajakan dagangannya. Itu terjadi sekitar 15 tahun yang lalu.

Awalnya Abah Jujun mendirikan bedeng bambu di sebelah jembatan yang melintas sungai kecil, di pinggir Jln. Tumenggung Wiradiredja. Para pelanggan yang tinggal di wilayah yang dulu dia layani sudah tidak lagi bisa menikmati doclangnya. Abah Jujun kembali merintis usahanya di tempat baru. Pelanggan lama memang sudah jauh tapi warungnya sekarang dekat dengan tempat tinggalnya. Karena dia sangat ramah dan tidak pelit, pelan-pelan pembeli yang kemudian menjadi pelanggan tetap terkumpul kembali. Di antara pelanggannya itu ada pula yang mengajak orang baru lalu jadi pelanggannya juga. Bisnis kuliner Bogor Abah Jujun layaknya MLM. Selain orang-orang baru, pelanggan lama bila sedang lewat di warungnya bisa dipastikan mampir karena dia sudah tahu citarasa doclang racikannya.

Banyak perumahan dibangun di wilayah Bogor termasuk di daerah Cimahpar. Di belakang tempat usaha Abah Jujun yang tadinya kebun berubah menjadi Perumahan Haji Indonesia. Persis di belakang warungnya adalah halaman parkir dari kompleks ruko (rumah toko) yang juga dibangun pengembang perumahan itu.

Setelah bertahun-tahun berdagang di pinggir jalan, sekitar empat atau lima tahun lalu warung Abah Jujun pindah. Tidak jauh, hanya bergeser lima meter ke belakang di halaman parkir ruko yang dibangun menggunakan paving block. Bentuk tempat jualannya bukan lagi berupa bedeng. Sebagai penggantinya, empat tiang bambu didirikan kemudian diberi atap. Sangat sederhana. Sekadar pelindung agar tak kehujanan dan kepanasan. Warungnya sekarang persis di tepi sungai. Para pelanggannya bisa mendengar irama gemericik air sambil menikmati kuliner khas Bogor. Lereng sungai cukup tinggi namun aliran sungai terlihat jelas karena tak ada pagar penghalang. Begitu asri dan teduh suasananya. Pembeli bisa betah duduk berlama-lama. Namun keadaan yang menyenangkan itu berbalik menjadi tragedi bagi Abah Jujun.

Sekitar dua bulan setelah pindah ke lokasi baru, sebuah petaka menimpa Abah Jujun. Tak ada firasat apa-apa sebelumnya. Abah Jujun seperti biasa melayani para pembeli dengan ramah. Dia selalu mengajak berkelakar kepada setiap pelanggan, bahkan kepada pembeli yang baru pertama kali makan di situ. Selalu ada bahan seloroh yang dia temukan.

Pagi itu, seperti hari-hari lain, Abah Jujun dan istrinya setia melayani pelanggan doclangnya. Mereka berdua adalah tim yang kompak. Istrinya yang meracik doclang, Abah Jujun yang menuang bumbu kacang dan kecap di atas racikan doclang. Tak lupa juga dia tuang sambal di atas sendok sebelum disajikan. Seporsi doclang yang begitu nikmat untuk sarapan dia bawa ke meja pelanggan yang sudah menunggu. Sambil tersenyum seperti biasa, dia letakkan sepiring kuliner khas Bogor itu di atas meja di depan pemesannya. Abah Jujun menyilakan makan sambil berjalan mundur. Dia tak sadar jalannya mengarah ke kali. Dia tak ingat pinggiran sungai itu tidak dipagari. Lerengnya tinggi dan terjal.

Nasib Penjual Kuliner Khas Bogor

Dengan tubuh gempalnya, Abah Jujun terlihat sehat dan tak gampang sakit. Pengalaman berkeliling sambil memikul dagangan di saat panas dan hujan selama bertahun-tahun menjadikannya tangguh. Namun ketangguhannya teruji di pagi itu. Karena lupa atau entah apa, jalan mundurnya mengakibatkan dia tergelincir dan terjun ke sungai. Suasana menjadi gempar di pagi itu. Lereng sungai yang terjal serta tegak lurus dan tingginya mencapai empat meter tak gampang dituruni. Abah Jujun terkapar kesakitan di dasar sungai berbatu berair dangkal. Pertolongan segera dilakukan oleh orang-orang di sekitar situ. Abah Jujun langsung dilarikan ke rumah sakit.

Akibat musibah itu, Abah Jujun tak bisa jalan selama satu setengah bulan. Luka di kakinya mendapat 18 jahitan. Dia tak bisa ke warung. Hatinya kangen bertemu para pelanggan doclangnya. Dia rindu canda tawa bersama mereka. Apa daya kondisinya belum memungkinkan melakukan itu. Dia harus bersabar sampai kondisinya benar-benar pulih. Untuk sementara istrinya yang menjaga warung ditemani anak dan menantunya.

Abah Jujun jalannya tidak lagi seperti dulu. Tegap dan gagah. Sekarang geraknya agak terpincang-pincang. Yang tidak berubah adalah keramahannya. Dia tetap penuh canda saat melayani konsumen doclangnya. Abah Jujun tetap semangat menjalani garis takdirnya. Dia gembira karena bisa kembali bertemu dan menyajikan yang terbaik bagi orang-orang yang mencintai doclangnya.

kuliner khas bogor
Doclang

Kuliner Khas Bogor

Doclang Abah Jujun memang istimewa. Yang saya suka adalah bumbu kacangnya. Bukan hanya karena kelezatannya. Butiran biji kedelainya yang masih cukup besar yang jadi campuran bumbu kacang masih terasa di lidah. Ibarat bertemu berlian di antara lumpur kali. Sebuah sensasi yang menyenangkan. Sayangnya terakhir sarapan di situ seminggu yang lalu, butiran-butiran kedelai itu tidak sebesar sebelum-sebelumnya.

Setiap sarapan di situ, di dalam racikan yang isinya ketupat dan tahu, saya selalu minta ditambahkan potongan bakwan sebelum diguyur bumbu kacang dan kecap. Kalau pas ada telur ayam rebus, saya minta dimasukkan juga. Kerupuk tidak ditaruh oleh Abah Jujun di atasnya. Sengaja Abah Jujun menaruh kerupuk di dalam toples plastik besar di atas meja agar pelanggannya bisa mengambil sendiri sesukanya, sebanyak-banyaknya. Kalaupun setoples dihabiskan, bila pembelinya memang terlalu gembul dan tak punya malu, juga tak masalah bagi Abah Jujun. Ini juga salah satu sikap keramahannya. Dia tidak pelit. Bukan hanya kerupuk, bumbu dan sambal ekstra suka dia tawarkan ke pembeli saat menyantap doclang.

Seporsi kuliner khas Bogor ini hanya Rp 10.000. Sebuah harga yang wajar. Malah buat saya harga segitu terlalu murah untuk sepiring doclang lezat berbumbu keramahtamahan Abah Jujun.

Warung Ketupat Doclang Abah Jujun hanya melayani sarapan. Datanglah di antara pukul 06.00-11.00 WIB bila ingin menikmati. Lokasinya di sisi kali di pelataran parkir ruko Perumahan Haji Indonesia, Jln. Tumenggung Wiradiredja, Cimahpar, Bogor. Jika menggunakan angkot dari seputaran Kebun Raya, naiklah angkot 05 warna hijau jurusan Cimahpar-Ramayana. Bilang ke sopir angkot supaya diturunkan di depan Perumahan Haji Indonesia.

Selamat menikmati sarapan kuliner khas Bogor doclang lezat Abah Jujun. Namun dia sudah tidak lagi bisa menemani. Abah Jujun telah meninggal setengah bulan setelah lebaran kemarin karena sakit. Usahanya sekarang dijalankan anak dan menantunya. Istri Abah Jujun hanya kadang-kadang terlihat di warung itu.

Sumber gambar: koleksi pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here