Agak mirip dengan judul tulisan sebelumnya, yang satu kompos satunya lagi kucing. Tentu saja tidak ada kaitannya sama sekali. Kompos bukan makanan kucing, kucing tidak cocok dibuat kompos. Bisa memang, tapi aneh dan kejam bila binatang lucu itu dibuat kompos.

Saya sengaja memberi judul blog ini seperti itu. Hal ini terkait dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini di desa saya. Ada pemilihan kepala desa yang sedang berlangsung. Calonnya berjumlah lima orang. Dari semua calon ini, tidak ada yang layak untuk dipilih. Masalahnya bukan apa-apa. Bila kita memilih seseorang untuk dijadikan pemimpin, kan tidak bisa begitu saja seperti kita memilih sandal di pasar. Kita harus yakin benar bagaimana performance dan terutama sikap mentalnya, positif tidak.

Yang terjadi adalah, dan saya rasa ini bukan masalah saya saja tetapi juga mayoritas warga yang menjadi tetangga-tetangga di lingkungan saya, mereka yang mencalonkan diri untuk dipilih sebagai kepala desa adalah layaknya kucing dalam karung. Tidak jelas belang-bontengnya. Dari lima calon, yang dua adalah incumbent (kepala desa yang sekarang menjabat) dan mantan kepala desa sebelumnya. Saya memang kenal dengan mereka. Artinya, saya tahu bahwa mereka adalah kepala desa yang sekarang dan mantan kepala desa. Namun dari track record yang mereka miliki, keduanya memiliki catatan yang kurang bagus. Dengan raport yang banyak merahnya ini, tentu saja warga tidak akan memilih mereka lagi. Bagaimanapun juga, itu hak mereka bila tetap nekat mencalonkan diri lagi.

Tiga calon lainnya, persis seperti judul tulisan ini. Saya menghadapi kucing dalam karung. Sama sekali blank tentang hal-ikhwal mereka. Hanya kabar-kabur yang saya peroleh dan dengar. Sudah tentu hal ini bukan landasan yang bagus untuk menentukan pilihan. Mereka bertiga, juga dua calon lainnya, hanya menempelkan gambar-bambar mereka di tiang-tiang listrik dan tembok rumah orang untuk kampanye. Dua calon di antaranya juga menyertakan visi misi di bawah gambar diri yang mereka tempelkan. Tiga calon yang merupakan pendatang baru, hanya dikenal oleh tetangga rumahnya dan buat saya yang bukan tetangga mereka, tahu mereka hanya dari gambar yang ditempel. Sekalipun, saya belum pernah ketemu.

Sebuah keputusan sulit. Bagaimanapun juga saya mendatangi undangan pencoblosan itu. Awalnya saya memang berencana mau berperan serta mensukseskan hajatan desa tersebut. Acaranya diadakan hari Minggu (23/3) di lapangan parkir pinggir jalan depan pertokoan di komplek tempat saya tinggal. Kebetulan hari itu saya juga mau ke Bogor. Jadi sekalian, sebelum ke Bogor menyempatkan diri dulu mencoblos. Saat sampai di lokasi, lapangan parkir sudah penuh manusia. Antrian begitu panjangnya, baik antrian untuk laki-laki maupun perempuan. Panitia sengaja membagi antrian menjadi dua berdasarkan jenis kelamin. Bagus. Masalah yang muncul buat saya adalah, saya sudah punya janji dengan orang di Bogor sementara antrian begitu padatnya. Dan tidak mungkin saya bisa menepati janji bila menunggu sampai giliran saya mencoblos tiba.

Akhirnya saya putuskan saya tidak menggunakan hak saya. Pertimbangan saya adalah dari lima calon, yang dua memiliki track record negatif sedangkan tiga sisanya merupakan kucing dalam karung. Saya tidak mau memilih kucing. Mending kalau yang saya ambil kucing anggora yang lembut atau kucing persia yang anggun. Lha yang saya comot ternyata kucing garong, gimana coba? Kucing yang suka main sikat main embat apa sing liwat. Susah kan jadinya?

Di republik ini, jadi pemimpin memang tidak gampang. Tetapi, yang lebih susah lagi jadi rakyatnya. Pemimpin-pemimpin kita yang notabene dipercayai memegang amanah malah banyak yang mengkhiantai yang memberi amanah. Berapa banyak kasus korupsi yang terjadi? Tidak kehitung. Bila kpk mengungkap kasus-kasus korupsi yang ada, itu mah hanya seujung kuku. Korupsi-korupsi yang disidangkan itu kan hanya puncaknya gunung es yang terlihat di permukaan. Yang tidak kelihatan, bisa menenggelamkan kapal yang ditumpangi rakyat jelata bangsa ini. Bila anda melihat film Titanic, cerita tentang sebuah kapal yang dipromosikan tidak mungkin tenggelam itu karam bukan karena puncak es yang terlihat oleh nakoda, tetapi punggung gunung es dalam laut yang membobolkan lambung kapal mewah itu. Seperti itu juga bangsa ini. Lambung bangsa ini akan jebol juga oleh gunung es korupsi bila tindakan egois itu tidak segera diatasi. Kadang-kadang, sebagai rakyat yang tidak tahu apa-apa, sering muncul pertanyaan kenapa mereka yang korupsi itu tidak dimatikan saja.

Bila sudah berurusan dengan pemimpin, kita ini seperti masuk barisan laskar bingung. Kita bingung melihat pemimpin yang tidak amanah. Kita terheran-heran menyaksikan mereka yang lebih memprioritaskan kepentingan diri dan keluarganya daripada orang-orang yang dipimpinnya. Seringkali kita terkejut mengetahui orang-orang yang seharusnya menjadi panutan malah melakukan perbuatan yang melanggar hukum maupun norma susila. Kita terbengong-bengong menemukan pemimpin yang suka jalan-jalan ke luar kota atau negeri dengan alasan dinas yang sebenarnya tidak penting dan mengada-ada. Kita bingung menemukan diri sendiri terdampar di negeri yang rakyatnya hanya baru bisa mimpi.

Pemilihan kepala desa di lingkungan tinggal saya akhirnya kelar. Calon yang memiliki tim sukses lebih baik dan terorganisir pada akhirnya yang memenangkan pemilihan. Meskipun pemenang ini menyebarkan buku visi dan misi yang bisa dipelajari, bagi saya dia tetap kucing dalam karung. Dengan adanya isu money politic atau suka disebut dengan serangan fajar yang berhembus di seputar kemenangannya, bayangan kepemimpinan yang tidak amanah menggantung di depan mata. Komplek tempat saya tinggal memang tidak masuk sasaran pembagian amplop berisi Rp.20.000 karena mereka tahu taktik itu tidak akan efektif. Mereka membagi-bagikannya di perkampungan-perkampungan yang penduduknya secara ekonomi lebih rendah.

13 April nanti Jawa Barat juga akan memperdagangkan kucing dalam karung. Calon-calon gubernur dan wakilnya bagi sebagian besar masyarakat pemilih tetap sebagai kucing dalam karung. Beberapa di antara calon itu memang populer, tetapi visi dan misi sebenarnya yang diusung tetap menjadi tanda tanya. Popularitas tidak otomatis menjadikan mereka bukan kucing dalam karung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here