kopi tidak baik untuk mataKopi tidak baik untuk mata? Saat ini mata saya sudah tidak seperti dulu lagi. Perlu kacamata plus 2.5 untuk bisa melihat apa pun yang berjarak dekat dengan jelas dan membaca dengan baik. Akibatnya, ke mana-mana saya membawa kacamata. Alat bantu baca itu harus selalu tersedia lebih dikarenakan saya hampir ke mana pun pasti menenteng-nenteng buku. Membaca adalah salah satu kegemaran saya. Minum kopi juga.

Bagi saya, aktifitas membaca lebih asyik lagi bila ditemani secangkir kopi dan temannya kopi yaitu, misalnya, pisang goreng. Meskipun demikian, kopi dan temannya itu kadang-kadang memperlambat dalam membaca. Seringnya nyeruput kopi atau menggigit kudapan adakalanya memaksa berhenti membaca. Bila mau, bisa saja mata tetap melotot ke kalimat-kalimat di buku yang ada di tangan sambil tangan satunya meraih cangkir kopi. Tapi tidak jarang juga, karena serunya yang sedang dibaca, sampai lupa kalau ada kopi dan cemilan. Membaca sambil ngopi buat saya merupakan dua kegiatan menyenangkan yang asyik dilakukan dalam waktu yang sama. Sebuah paket menarik. Karena itulah, beberapa waktu lalu, saya bersama beberapa teman kemudian merancang sebuah acara yang menggabungkan dua aktifitas itu: membaca dan menyeruput kopi. Lahirlah kegiatan bernama #NgopiBuku yang konsepnya adalah membincang buku bersama penulisnya sambil menikmati kopi tentunya. Acara ini pertama kali diselenggarakan pada Sabtu, 21 November 2015 dengan mengundang penulis cantik spesialis biografi, Ayu Arman. Setelah itu mengundang Kurnia Effendi untuk membincang buku terbarunya berjudul Teman Perjalanan yang merupakan antologi cerpen.

ngopi bukuRencananya, acara #NgopiBuku diadakan setiap bulan. Namun karena kesibukan masing-masing dari kami, rencana itu tidak berjalan sebagaimana yang diinginkan. Bagaimanapun, meski tak bisa menepati jadwal setiap bulannya, #NgopiBuku masih berlangsung sampai sekarang. #NgopiBuku yang telah diselenggarakan empat bulan terakhir:

  • 22 Oktober 2016 – TAN (Hendri Teja)
  • 12 November 2016 – MetamorHORAS (Saut Poltak Tambunan)
  • 24 Desember 2016 – Chairil (Hasan Aspahani)
  • 21 Januari 2017 – Kalimata (Ni Made Purnama Sari)

Bila Anda berminat datang ke acara ini, atau jika Anda punya buku dan bukunya itu ingin dibincang di #NgopiBuku, silakan menghubungi pengelolanya via Twitter atau Instagram yang nama akunnya sama yaitu @ngopibuku.

ngopi buku novel tan
Saat membincang novel TAN bersama penulisnya, Hendri Teja. (foto: @mataharitimoer)

Kecintaan saya terhadap kopi belumlah lama. Hitungannya belum puluhan tahun. Dulu waktu sekolah atau kuliah saya memang sudah mencicipi kopi. Hanya minum kopi sekali-sekali dan tak punya niat untuk tahu lebih banyak tentang kopi. Sekarang, saya lebih sering minum kopi, meskipun tidak setiap hari. Dan saya tidak sekadar minum. Selain menikmati sedapnya kopi, saya juga mulai belajar mengenali segala hal tentang kopi: kandungan (body, sweetness, acidity), jenis dan cara menyangrai (roasting), varietas, daerah asal, macam-macam cara menyeduh dan alat seduhnya, beragam nama minuman berbahan kopi, termasuk juga mitos-mitos yang mengelilinginya. Menarik. Sangat menarik. Karena begitu menariknya, sampai-sampai saya pernah melakukan perjalanan solo yang saya namai #Jalurkopi (Twitter/IG: @jalurkopi). Dua kali saya membuat #Jalurkopi.

#Jalurkopi ini sarat pengalaman dan kenangan. Acara berburu kopi ke mana-mana ini membuat saya tahu lebih banyak tentang kopi dan mengalami hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Karena #Jalurkopi, saya jadi tahu bahwa di Madiun ternyata ada minuman kopi yang bukan berasal dari biji kopi tetapi dibuat dari daun kopi yang dikeringkan. Saat saya ke Madiun waktu itu sayangnya tak sempat mencicipi. Gara-gara berburu kopi juga, saya sempat ditawari jasa sambung raga, maksudnya kupu-kupu malam. Terpaksa tawaran itu saya tolak karena saya penggemar bebek goreng, bukan kupu-kupu malam. Pernah pula, di Yogyakarta, pukul tiga dini hari jalan kaki kayak gelandangan menyusuri area UGM mencari tempat buat tidur. Karena tak menemukan penginapan yang buka, akhirnya naik taksi ke stasiun Tugu lalu tidur di sana. Banyak hal yang bisa saya tuliskan di sini terkait perburuan kopi bila mau.

Pro-kontra tentang kopi terkait kesehatan sering saya temui. Bagi saya, mau pro, mau kontra, tak ada pengaruhnya. Bila lagi ingin minum kopi, ya saya akan menyeduh sendiri atau nongkrong di kafe atau warung kopi. Mau pro atau kontra, itu pilihan tergantung di mana kita memosisikan diri. Tinggal di mana kita berdiri, kita akan menjadi pihak yang pro atau kontra. Bila kita berdiri dalam barisan peminum kopi, otomatis berita miring tentang kopi tak ada efeknya. Ngopi tetap jalan terus, seberbusa-busa bagaimanapun orang bicara kejelekan kopi. Jika berdirinya di antara mereka yang anti kopi, ya sudah pasti bakal mengamini bahwa kopi itu tidak baik buat kesehatan. Meski saya tak peduli dengan isu kesehatan terkait minum kopi, dan ngopi bila pas lagi pengin ngopi, saya terpaksa setuju bila kopi itu tidak baik untuk mata sebagaimana judul tulisan ini. Keterpaksaan saya ini didasari kejadian pagi ini.

Bahwa kopi tidak baik untuk mata, saya seratus persen setuju. Pagi ini, saya membuktikannya. Pagi ini, terpaksa saya setuju dengan judul di atas. Seperti biasa, sebelum beraktifitas pagi, saya ngopi dulu. Ritual sebelum minum kopi sebagaimana biasa diawali dengan menyiapkan sebuah mug. Dua sendok makan bubuk kopi saya tuang ke dalam mug sambil menunggu air mendidih. Saya agak teledor saat menuang sehingga sebagian bubuk kopi tidak masuk ke dalam mug tapi nyangkut di bibirnya. Saya coba bersihkan bubuk kopi itu. Bukan dengan menyekanya pakai tangan, tetapi saya tiup. Karena saya tak sadar kalau mulut saya monyong ke arah dalam mug saat meniup, akibatnya bubuk kopi yang ada di dalam mug bergulung seperti badai padang pasir dan sebagian menyembur keluar mug lalu masuk ke mata. Gara-gara bubuk kopi di bibir mug inilah yang membuat saya yakin seyakin-yakinnya bahwa kopi tidak baik untuk mata. Mata saya jadi kelilipan kopi. Trembelane! Untuk sesaat, saya kelabakan. Sontak mata saya kejap-kejapkan biar butiran kopi menepi atau ke pinggiran mata bagian bawah. Untungnya hanya beberapa butir bubuk kopi yang masuk mata. Meskipun hanya beberapa, tetap mengganjal juga. Kalau sudah begini, adanya hanya menyesal mengapa tadi saya tiup. Ternyata, memang, kopi tidak baik untuk mata. Ya, kopi tidak baik untuk urusan yang satu ini.

Sumber gambar: koleksi pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here