Hari ini langit Bogor cerah. Mendung tidak muncul seperti biasa terlihat belakangan ini. Matahari nampaknya akan memancarkan pesonanya seharian ke bumi. Suara kicau burung terdengar bersahut-sahutan di rerimbunan pohon manggis, menteng, rambutan, gandaria, dan jengkol. Saya merasa hari ini pasti menyenangkan. Ternyata perasaan saya itu salah.

Pagi tadi saya mengecek jas hujan yang tergantung di samping rumah apakah sudah kering atau belum. Semalam jas itu saya gunakan. Sejak beberapa hari hingga kemarin, setiap siang bahkan sampai malam Bogor diguyur hujan. Itulah sebabnya setiap hari saya harus menggantung jas hujan untuk diangin-anginkan setelah digunakan. Meskipun tidak kering betul dan masih lembab, setidaknya tidak basah. Dengan demikian, saya bisa melipat dan memasukkannya ke dalam bagasi motor.

Jam 7 pagi istri dan anak saya yang kecil, Reyhan, berpamitan. Reyhan sudah memakai seragam sekolah. Dia akan berangkat sekolah nanti siang. Karena di rumah tidak ada orang, dia mau ikut ke kantor ibunya dulu sebelum saya antar ke sekolah nanti. Saya yang pagi itu memakai celana pendek dan berkaos membalas pamitan itu sambil menonton tv, nyantai. Saya sendirian di rumah sekarang. Anak saya yang gede, Izal, sudah berangkat sekolah tadi pagi jam 6.

Lihat jam sudah hampir 7.30 saya segera masuk kamar untuk ambil baju ganti. Ketika pintu saya dorong, lhah? Kok dikunci?  Bagaimana ini? Istri saya ternyata mengunci pintu kamar. Padahal saya tidak memegang kunci. Kunci yang saya bawa ada dalam kantong jaket di kamar itu, juga baju dan celana kerja. Di luar hanya ada cucian yang masih basah. Masak saya ke kantor hanya pakai celana pendek dan kaos oblong yang sobek lehernya? Saya harus ngajar. Masak saya di dalam kelas di hadapan mahasiswa saya dengan berkolor dan kaos yang saya pakai tidur tadi malam? Konyol benar.

Saya memutar otak. Untungnya kunci motor ada di tempat gantungan biasa yang ada di dapur. Saya segera mandi. Jas hujan yang ada di jemuran di samping rumah segera saya samber. Saya pakai untuk menutupi celana pendek dan kaos bolong saya. Saya ke kantor untuk menaruh tas dan memberi tugas kepada mahasiswa dengan beralasan saya ada keperluan. Saya terlihat aneh. Tidak hujan tidak gerimis tetapi saya memakai jas hujan. Ketika ada yang tanya mengapa saya pakai jas hujan, saya jawab, “Persiapan nanti kalau hujan.” Kebetulan langit memang agak mendung.

Selanjutnya saya meluncur ke kantor istri. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor saya. Bisa dicapai sekitar 10 menitan dengan motor. Sesampai di ruang kerja istri, Reyhan sedang main game. “Kok ayah sudah ke sini?” Dia heran dengan kedatangan saya. Istri saya juga heran. Lebih heran lagi ketika saya katakan saya datang untuk meminjam kunci kamar. “Kan tidak dikunci?” Alamak! Ternyata pintu kamar tidak dikunci. Pintu kamar tidur saya memang agak seret. Perlu tenaga ekstra untuk membukanya. Tadi berarti saya kurang keras mendorongnya sehingga saya pikir dikunci sama istri saya.

Terus ngapain saya capek-capek nyusul ke kantornya untuk ambil kunci yang tidak saya perlukan? Saya benar-benar merasa konyol hari ini. Meskipun bukan bagian dari kelompok orang-orang konyol seperti yang pernah saya tulis dalam kampungantenan.blogspot.com tapi apa yang saya lakukan hari ini betul-betul menyebalkan.

SHARE
Previous articleSelamat Datang
Next articleKursi Itu Milik Rakyat

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here