lumpur Lapindo bukan bencana alam

Begitu sebuah karya tuntas dituliskan, matilah penulisnya. Itulah ungkapan kondang dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, jika tak siap mati, jangan pernah jadi penulis.

Seram sekali resiko yang ditanggung oleh seorang penulis. Dia akan mati begitu selesai menunaikan tugas. Bisa-bisa orang berkesimpulan bila tak ingin mati berarti harus terus menulis dan jangan pernah menyelesaikan sebuah tulisan. Benarkah memang seperti itu? Tentu saja ungkapan itu hanya sebatas ungkapan. Faktanya, tidak ada penulis yang mati gara-gara menulis. Jika ada penulis yang kehilangan nyawa sesaat setelah menyelesaikan suatu tulisan, penyebabnya pasti bukan karena merampungkan tulisannya itu. Bisa jadi dia mati karena serangan jantung, tersedak saat makan bakso setan sampai tak bisa bernafas, atau mungkin tertabrak mobil yang sopirnya mabuk narkoba. Jadi, tak perlu takut mati bila ingin jadi penulis. Bukan hanya penulis, siapapun pasti akan mati. Dan penyebabnya kita tidak akan pernah tahu. Begitu kan?

Ungkapan di atas tentu saja tidak bermakna denotatif. Hal itu sebenarnya untuk menggambarkan bahwa sebutan penulis hanyalah akan disandang ketika kita masih menuliskannya. Begitu tulisan itu selesai maka kita statusnya sama dengan yang lain yaitu sebagai pembaca. Jikapun masih disebut penulis, hakikatnya ada embel-embel ‘mantan’ di depan sebutan tersebut. Legowo atau tidak, itulah kenyataan yang harus diterima oleh siapapun yang menjadi pembaca karya tulis sekaligus mantan penulisnya.

Tentu saja ada perbedaan mendasar antara pembaca biasa dan pembaca yang mantan penulis. Bila kita adalah pembaca yang mantan penulis, kita pasti tidak akan pernah menghujat karya sendiri yang sedang kita baca itu. Justru sebaliknya, kita akan menyanjung-nyanjung, menggadang-gadang, karya tersebut. Bahkan bila pembaca yang mantan penulis itu adalah orang yang tidak bisa menerima pendapat orang lain, kritik apapun termasuk yang konstruktif akan dilihat dan dicurigai sebagai bentuk kecemburuan atau iri atas hasil karyanya. Begitu naif memang, tetapi itu wajar dan manusiawi. Karena ada ikatan emosi, obyektifitas jadi tereduksi.

Beda dengan pembaca yang bukan mantan penulis. Karena ketiadaan ikatan emosi dengan karya yang sedang dibacanya, dia akan lebih bebas dalam menyuarakan ekspresinya. Pembaca jenis ini mungkin saja akan menyanjung setinggi langit atau, sebaliknya, menggugat dan mengkritik habis-habisan. Bila perlu, sangat mungkin pula dia melakukan kampanye hitam (black campaign). Apapun yang dia suarakan, tingkat obyektifitasnya bisa dipastikan lebih besar dibanding pembaca yang mantan penulis karya tersebut. Bagi penulisnya yang telah menjadi pembaca, seandainya bertemu pembaca semacam ini, sudah seharusnya dia menyiapkan diri untuk dua kemungkinan yang akan diperoleh dari mereka. Bila disanjung, jangan besar kepala. Jika digugat, sabar dan jadikan pelajaran. Cari penyebabnya mengapa pembaca tersebut bersikap seperti itu.

Terkait novel Anak Sejuta Bintang yang sudah dua kali saya tulis dan ini adalah artikel ketiga, saya termasuk pembaca yang menggugat karya tersebut. Meskipun bukan saya yang membaca tetapi teman-teman saya, itu sudah cukup untuk mengambil sikap atas hadirnya novel pencitraan ini. Tidak ada kebencian apapun terhadap penulisnya. Saya tidak kenal secara pribadi dengan Akmal Nasery Basral yang menjadi penulisnya. Ketemu muka sekalipun, tidak. Jadi, tidak selayaknya saya memusuhi dia. Namun ketika novel ini muncul, saya tak mau tinggal diam. Saya hanya prihatin dengan dituliskannya novel nirsastra ini. Saya katakan nirsastra karena wilayahnya sudah dikotori oleh ambisi politik Aburizal Bakrie yang merupakan jelmaan dari Ical kecil yang menjadi tokoh utama novel tersebut. Dengan demikian, bagi saya, keindahan novel itu sebagai karya sastra sudah tidak ada lagi. Saya telah menuliskan hal ini panjang lebar di tulisan sebelumnya, Alasan Tidak Membeli & Membaca “Anak Sejuta Bintang”.

Banyak ‘kebohongan’ tentang pendidikan anak yang terdapat dalam Anak Sejuta Bintang. Penemuan itu bertolak belakang dengan kampanye yang digembor-gemborkan para buzzer yang menjadi tim penggembira novel tersebut. Seorang ibu rumah tangga yang sekaligus seorang linguis telah menunjukkan hal-hal yang tidak benar bahwa Anak Sejuta Bintang bisa menjadi acuan dalam mendidik anak. Tulisan berjudul Bahasa dan Kuasa dalam Novel Anak Sejuta Bintang yang dibuat si ibu ini bukan tanpa dasar. Referensi ilmiah dari pakar di bidangnya dia pergunakan sebagai landasan tulisan tersebut.

Anak Sejuta Bintang selain jelas-jelas sebuah novel pencitraan, juga berisi hal-hal tidak mendidik. Kisah masa kecil Ical yang digunakan untuk menyamarkan pencitraannya sekarang, justru menimbulkan ambiguitas dalam mendidik anak bila tidak pandai-pandai menyikapinya. Tulisan seorang ibu di atas menunjukkan ketidakcocokan pola asuh anak yang ingin disampaikan novel tersebut dengan kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya. Ini bisa menjadi hal yang membahayakan generasi penerus negeri ini. Bila ini dianggap masalah sepele, alangkah celakanya.

Membaca obrolan penulis ASB di linimasa bahwa dia menerima pesanan dari Expose/Mizan untuk menuliskan novel ini, hal itu jelas menunjukkan bahwa penerbit tersebut orientasinya hanya keuntungan. Sebuah usaha termasuk penerbitan pasti berorientasi laba. Namun bila kemudian melakukan apa saja yang penting untung, termasuk menerima pekerjaan Ical yang jelas-jelas bukan orang baik khususnya jika kita mengingat bencana lumpur Lapindo, Mizan adalah penerbitan yang tidak pro rakyat. Tindakan Mizan menerima pekerjaan dan menerbitkan Anak Sejuta Bintang, selain Akmal Nasery Basral dan Khrisna Pabichara yang telah menulis dan menyuntingnya, jelas telah melukai nurani rakyat yang simpati terhadap korban lumpur Lapindo. Selain itu, saya tidak yakin tiga pihak ini memiliki empati terhadap para korban lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo.

Sebuah buku jelas tidak baik jika isinya tidak mendidik. Anak Sejuta Bintang bukanlah buku yang baik. Bahkan menurut saya, novel ini bisa membahayakan karena bisa menimbulkan salah persepsi dalam mendidik anak. Dan, ada satu kata yang pernah ditulis salah satu buzzer yang dibayar Mizan yang patut direnungkan khususnya bagi pengambil keputusan di pemerintahan untuk novel ini: dibredel. Bila hal itu benar-benar terjadi, banyak orang terutama para korban lumpur Lapindo dan keluarganya pasti akan bersuka cita. Saya yakin, mayoritas dari publik juga akan berterima kasih kepada pemerintah bila novel itu dibredel. Bukan karena penulisnya atau karena diterbitkan oleh Mizan jika langkah itu diambil, tetapi karena ada hal-hal yang justru berlawanan dengan dunia pendidikan terdapat dalam novel yang sudah dipolitisir tersebut.

Mungkinkah novel Anak Sejuta Bintang dibredel? Di negeri penuh tipu-tipu ini, pertanyaan itu hanya akan mendapat jawaban ketidakniscayaan. Ketika uang berkuasa, keserakahan menjadi raja, apapun sangat mungkin terjadi, termasuk ketidakmungkinan menarik Anak Sejuta Bintang dari peredaran. Namun sebagai pembaca, boleh kan menggugat seperti itu?

Sumber gambar: lumpur Lapindo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here