keluarga #ngopikereDari namanya, #NgopiKere, jelas ada unsur kopi di dalamnya. Kere? Nah, mari kita bincangkan. Mungkin dugaan Anda tak jitu perihal nama #NgopiKere tersebut. Tulisan ini semoga bisa menjelaskan.

#NgopiKere akan diadakan dari 10-12 Mei 2013. Dimulai dari jam Anda kapan bisa datang, selesai pada saat Anda memang ingin pulang. Aneh? Ya, kedengarannya. Sebenarnya tidak. Nanti saya akan dedah mengapa seperti itu. Untuk lokasi acara, tempat yang dipilih ada di lereng Bukit Menoreh tepatnya di Gunung Kelir, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Jika berniat datang, disarankan membawa jaket karena udaranya yang lumayan dingin. Apalagi bila Anda bermaksud menginap. Agenda selama tiga hari dalam acara itu sangat menarik. Namun bisa jadi Anda melihatnya tak wajar dan aneh pula. Jika Anda berkesempatan hadir, dalam #NgopiKere nanti Anda bisa:

  • ngopi sekembungnya
  • nyate klathak sendiri
  • bakar ayam sendiri
  • menghangatkan badan di depan api unggun
  • ngobrol bebas sesuka-sukanya
  • nonton Jogjakarta di tengah malam dari Puncak Menoreh
  • mengenal wisata lokal
  • menikmati budaya setempat dan D’jathilan (digital jathilan)
  • main gaple
  • karaoke
  • mandi bandwidth (mengunggah dan mengunduh sepuasnya, bawa hardisk bila perlu untuk menyimpan hasil unduhan)

Peserta #NgopiKere adalah teman-teman online dan offline dari mana pun, dan bisa siapa saja. Tak ada batasan, tiada perbedaan. Semua sama. Setara. Sederajat. Begitu sampai di tempat acara, otomatis berada dalam posisi dan tingkatan yang sama dengan seluruh manusia yang hadir di situ. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tak ada yang namanya narasumber, selebriti, panitia, atau peserta istimewa. Semua yang hadir adalah narasumber dan selebriti bagi peserta lain. Jika ada sebagian teman yang bercapai-capai menyiapkan tetek-bengek untuk acara #NgopiKere, mereka tak ada bedanya dengan yang tidak ikut sibuk melakukan persiapan. Jika mau disebut panitia, itu hanya sebatas sebutan. Tak ada privilese yang mereka miliki dalam acara. Bagaimanapun juga, tetap harus ada orang yang mempersiapkan segala sesuatunya dalam sebuah acara yang akan digelar, apa pun. Meski diberi nama #NgopiKere, pada dasarnya acara ini hanya ngumpul-ngumpul biasa bersama orang-orang yang seide dan memiliki klangenan sama. Jika Anda pencari saudara di dunia online maupun offline dan berminat hadir, silakan. Langsung saja datang ke lokasi.

Bila Anda berharap akan menemukan acara yang ‘normal’ seperti pada umumnya, Anda akan kecewa. Jika #NgopiKere dianggap tidak normal karena pesertanya boleh datang dan pulang kapan saja, atau kalau nginep juga tak masalah, ya, jelas, acara ini tak normal. Seandainya #NgopiKere dikatakan tidak normal karena format acaranya tak jelas, itu juga tak salah. #NgopiKere memang bukan seminar, sarasehan, simposium, pelatihan, workshop, IGD (Intensive Group Discussion), FGD (Focus Group Discussion), atau apa pun sebutannya sehingga perlu ada pakar atau selebriti yang diundang untuk didudukkan sebagai narasumber. Mengapa acara ‘normal’ itu dibutuhkan jika #NgopiKere hanyalah sebuah bentuk pertemuan keluarga dan bukan acara resmi? #NgopiKere itu acara kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol tanpa beban dan tidak serius, jadi peserta tak perlu harus duduk anteng mendengarkan ocehan pakar atau selebriti yang dijadikan narasumber. Waktunya harus dibatasi dan diatur, kegiatannya harus on schedule dan on track, semua itu tak bakal ditemukan dalam acara kumpul keluarga yang dikasih nama #NgopiKere tersebut.

Pendanaan? Semesta ini punya cara dalam urusan dana, apalagi hanya untuk acara sekelas #NgopiKere. Yang pasti, pendanaan acara ini secara mandiri dan tak menggunakan uang rakyat. Kalaupun uang rakyat yang dipakai, ya rakyat itu juga yang menikmati. Sesuai semboyan asyik negeri ini: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Apa untungnya ikut #NgopiKere? Yang jelas tak ada keuntungan finansial. Keluar uang, pasti! Kebaikan yang didapat di #NgopiKere lebih dari sekadar rupiah. Berkumpul keluarga, itulah keuntungan yang akan dibawa pulang dari acara #NgopiKere. Berkahnya jauh melebihi nilai uang yang dikeluarkan. Bahkan tak terbandingkan. Sekadar mengingatkan, ketika kita mulai berhitung terhadap keluarga, lebih melihat untung rugi, saat itu pula kita menganggap keluarga sebagai komoditas. Jangankan keluarga, saat seorang kawan memanfaaatkan kawan lainnya untuk keuntungan pribadi saja sudah tak layak lagi untuk dijadikan teman. Jika berharap pulang dari #NgopiKere akan membawa goody bag atau bertemu dengan narasumber yang duduk di atas panggung sambil ngoceh ngalor-ngidul, sebaiknya Anda tak usah datang saja karena dijamin kecewa.

Karena namanya #NgopiKere, minuman utama tentunya kopi. Akan disediakan beragam kopi dari berbagai daerah: Aceh, Flores, Bali, Toraja, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bukittinggi, Padangpanjang, Empat Lawang (Palembang), Papua, dan Bogor untuk diseruput. Karena acara kere, Anda harus menyeduh kopi sendiri, bakar ayam sendiri, nyate klathak sendiri, semua serba sendiri. Kere (orang miskin) tidak dilayani. Dia melayani diri sendiri bahkan orang lain.

Berani ngere tapi dapat upah bertemu keluarga? Datang saja ke #NgopiKere. Gratis! 😉

Sumber gambar: @mataharitimoer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here