kelas neraka jahanamBerikut ini nama dan tingkatan neraka dimulai dari yang paling mengerikan: Neraka Jahannam, Neraka Jahiim, Neraka Hawiyah, Neraka Wail, Neraka Sa’iir, Neraka Ladhaa, Neraka Saqar, dan Neraka Hutomah. Jika neraka itu adalah sebuah ruang kelas, yang mana yang akan anda pilih untuk tinggal di dalamnya? Sudah pasti kalau ada pilihan untuk bisa tidak tinggal di dalam salah satu yang manapun dari neraka itu, tentu pilihan itu yang akan anda ambil. Celakanya, dalam dunia pendidikan, justru ada institusi pendidikan yang dengan sengaja menciptakan kelas-kelas neraka ini untuk anak didiknya.

Entah karena kebodohan, ketidaktahuan, atau justru kesengajaan, mereka membuat ruang kelas mengerikan seperti itu. Tentu saja mereka memiliki argumen pembenaran untuk melakukan tindakan tersebut. Ingin tahu contoh argumennya? Baiklah. Salah satunya adalah kemudahan dalam mengelola kelas atau manajemen kelas. Dengan alasan agar manajemen kelas menjadi efektif dan efisien, maka sadar atau tidak muridnyalah yang dijadikan tumbal.

Sebenarnya seperti apa atau apa sih yang dimaksud dengan kelas neraka? Saya akan sampaikan. Namun sebelumnya perlu anda ketahui, saya membuat artikel ini bukan untuk menyerang siapa-siapa. Dan juga, tulisan ini saya bikin karena empati. Jika empati menurut anda bukan sesuatu yang ilmiah yang bisa digunakan untuk melandasi tulisan ini, saya tidak akan meributkan. Boleh saja anda mengatakan tulisan ini tidak ilmiah. Saya sendiri juga tidak punya niat menjadikan artikel ini sebagai tulisan ilmiah. Hanya saja, jika anda kebetulan berada dalam posisi pengambil keputusan dan memahami apa yang akan saya uraikan setelah ini namun anda tetap menciptakan kelas neraka maka jangan kaget bila ada yang mengatakan anda bebal.

Barangkali anda menganggap saya lebay dengan memberi nama kelas neraka. Namun, sungguh, saya yakin akan merasa sangat tersiksa bila harus menjadi murid yang duduk dalam kelas seperti itu. Jika saya bisa memilih, saya pasti akan kabur dari kelas penuh penderitaan tersebut.

Bentuk konkrit dari kelas neraka yang saya maksudkan di sini adalah pengelompokan murid yang didasarkan pada hasil tes akademik semata dan sesaat. Mereka kemudian dimasukkan ke dalam kelas atau kelompok mulai dari yang paling bagus nilainya hingga yang paling jeblok. Bagi saya, ini suatu manajemen kelas yang aneh dan menggelikan. Lebih-lebih bila penentu pembelajar dimasukkan ke kelas atau kelompok tertentu adalah nilai tes yang hanya sekali dilakukan, jelas nilai yang tidak valid. Bagaimana jika saat tes si anak dalam kondisi tidak fit sehingga hasil yang didapat bukan kemampuan yang sebenarnya? Anda mungkin akan berargumen, ”Ah, itu kan prosentasenya kecil. Paling hanya satu dua orang dari sekian puluh atau ratus.” Bagaimana jika yang satu atau dua orang itu adalah anda? Apakah anda masih bilang ”Ah”?

Di tempat anak saya sekolah, memang ada kelas yang isinya anak-anak pintar dan cerdas. Namun tidak semua kelas kemudian diurutkan sesuai ranking. Kelas itu hanya ada satu dan namanya kelas unggulan. Penentu untuk bisa masuk ke kelas itu bukan sebuah tes yang diadakan hanya sekali. Nilai dalam rapor dari kelas satu sampai kelas empatlah yang digunakan. Mereka yang memiliki ranking 1 s/d 5 sejak dari kelas satu sampai kelas empat yang akan bisa masuk ke dalam kelas unggulan itu. Apakah anak-anak yang berhasil mencapai ranking 1 s/d 5 selama empat tahun itu hanyalah sebuah kebetulan? Anda ngigau bila mengatakan ya. Jelas nilai yang diperoleh selama empat tahun itu sangat valid. Nilai itu benar-benar menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Tidak salah jika nilai tersebut yang kemudian dijadikan landasan.

Penentuan kelas berdasarkan nilai sekali ambil jelas sebuah nerakanisasi. Secara psikologis mereka yang berada dalam kelas ’bodoh’ bisa dipastikan akan down, minder, malu, marah dan emosi negatif lain yang bisa jadi tidak diperhitungkan sebelumnya. Dari keempat karakter Florence Littauer dalam Personality Plus-nya, mungkin hanya koleris yang akan bisa bertahan. Tiga karakter lainnya akan semakin terpuruk. Sanguinis yang selengekan dan tidak serius akan tidak peduli. Melankolis yang ’nrimo’ akan semakin yakin bahwa hanya di situlah kemampuan dia. Phlegmatis yang tidak suka konflik dan tidak pede akan menganggap bahwa dirinya memang bodoh.

Mari kita berandai-andai sekarang. Bagaimana perasaan anda bila anda sendiri yang berada dalam kelas ’bodoh’ itu? Banggakah, senangkah, tersanjungkah? Tentu saja tidak! Yang terjadi pasti sebaliknya. Anda akan merasa bodoh, tidak berharga, tidak berguna, tidak pantas dibanggakan dan lain-lain. Jika anda menyangkal bahwa dengan berada dalam kelas neraka itu bisa termotivasi, faktanya, justru banyak dari mereka yang terpuruk. Kenyataannya, yang tahan banting semacam koleris bisa dihitung jari alias minoritas.

Berbicara kemampuan siswa, pada dasarnya tidak ada siswa bodoh. Yang ada adalah siswa yang low motivated atau sebaliknya high motivated. Mereka yang low motivated bukan berarti bodoh. Para siswa ini hanya kurang termotivasi sehingga nilainya rendah. Sebaliknya, siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar atau high motivated akan berhasil mendapatkan nilai maksimal. Dengan demikian, bila pengelompokan kelas berdasarkan ranking itu dilakukan dengan alasan memudahkan penanganan kelas, tetapi justru hasilnya malah menjadikan siswa makin tidak termotivasi, maka hal ini jelas bertolak belakang dengan esensi pendidikan. Memang ada sekolah yang bertujuan menjadikan lulusannya malas belajar dan tidak memiliki semangat untuk maju?

Keputusan menaruh siswa ke dalam kelas berdasarkan ranking jelas tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Mengapa tidak manusiawi? Karena siswa itu dianggap bukan manusia. Bolehlah mereka diperlakukan sebagai kambing asal mereka benar-benar binatang yang mengembek. Kenyataannya kan tidak? Dipandang dari manapun lebih-lebih kacamata psikologi pendidikan, tidak mungkin sebuah sistem pendidikan tidak memanusiakan anak didik. Henry Carl Witherington menyatakan dalam bukunya bahwa psikologi pendidikan sebagai “a systematic study of process and factors involved in the education of human being.” Jelas di bagian akhir dia menyebut pendidikan manusia, bukan kambing. Mau bilang apa sekarang? Sudah pasti manusia akan jatuh martabatnya bila menciptakan sistem pendidikan untuk manusia namun hasilnya malah cocok untuk kambing. Alamak!

Bila kelas yang dibuat diurutkan berdasarkan ranking kemampuan siswa, maka kelas yang bukan paling tinggi ibarat kelas neraka. Dengan demikian, kelas yang paling akhir adalah kelas neraka jahanam. Neraka bagi penghuninya (murid) neraka bagi pengajarnya. Sementara itu, kelas yang teratas seperti surga, terutama bagi gurunya karena sangat menyenangkan dan pasti ’connect’ mengajar anak-anak dengan otak encer.

Seperti itukah sistem pendidikan yang benar? Memposisikan siswa menjadi down, malu, tidak pede, dan akibat-akibat negatif lainnya? Anda pasti bisa menjawabnya.

Sekali lagi, tentu saja ini opini pribadi, yang berlandaskan empati dan pengamatan. Jika anda tidak senada, itu sah-sah saja.

Sumber gambar: di sini

24 COMMENTS

  1. […] Satu contoh lagi. Proses belajar mengajar dalam ruang kelas/kuliah juga dijamin tidak akan efektif bila guru/dosen tidak memanusiakan murid/mahasiswanya. Sebagai contoh misalnya menjadikan murid/mahasiswa seperti robot yang bisa diperlakukan sesuka-sukanya. Contoh sesuka-sukanya itu seperti apa? Barangkali akan lebih jelas apa yang saya maksudkan tersebut bila anda membaca dua tulisan yang pernah saya buat sebelumnya yang berjudul Mengajar Beruk dan Kelas Neraka Jahanam. […]

  2. malahan dulu di SMP saya ada kelas unggulan…. tapi ternyata kalah rankingnya ama kelas bawah, saat itu kelas unggulan dicaci maki bner ama kelas bawah sampe ke penyeleksinya..wong kelas bawah preman smua tapi otak boleh diadu…. pinter ga siiiih..

  3. sedang membayangkan saya berada didalam sebuah kelas dimana terdapat 2 kubu yaitu anak nakal dan anak baik2, kira2 kemana saya akan membawa pribadi saya? jika iman saya kuat, tentu saja pengaruh2 buruk dari anak2 nakal tidak akan dengan mudah saya serap, tapi bagaimana jika saya hilaf???
    hal ini tentu saja dikembalikan kepada individu masing2

  4. @utami utar: satujuh, murid dg multi kemampuan dikumpulkan akan menghasilkan kelas yg hidup. sekarang tinggal kemampuan guru yg mengelola atau mengajar kls tsb. 😉
    @julie: tentu saja ada hal positif dari kelas unggulan. namun bila se mata2 penentunya hasil tes kemampuan akademik instan apalagi cuma sekali spt yg sy tulis, kemungkinan bias sangat besar. pengukuran kemampuan akademik dalam setahun sy rasa cukup memadai dan valid spt yg dilakukan Julie waktu SMA. ketika pengelompokan itu dilakukan seharusnya bukan hanya dilihat dari sisi pengelola atau pengajar, siswa juga diperhatikan. menurut saya justru dari pihak kepentingan siswa itulah yg seharusnya dijadikan landasan awal sebuah sistem dibuat. 😉
    @asepsaiba: selalu ada sisi positif negatif dan itu menjadi tugas pembuat keputusan unt memperhitungkan dg seksama seblm mengeksekusi sbuah kebijakan 😉

  5. Selain pengelompokan macam ‘neraka’ itu, Pengurutan rangking untuk menunjukkan prestasi anak didik juga sepertinya kurang tepat. Anak yang mendapat rangking teratas akan merasa cepat puas, demikian sebaliknya yang paling buncit, akan merasa minder jika bergabung dengan ‘anak pintar’… Sebaiknya lebih pada pendekatan prestasi secara normatif saja, bukan berdasar nilai.. Lihat perkembangan si anak didik, prestasi di luar akademik, dll…
    CMIIW

  6. menurut saya tak selamanya pengelompokan itu bersifat negatif
    seperti yang dikatakan kang MT, memang tak semua kelas unggulan itu negatif
    saya sudah berada di kelas unggulan sejak SMP dan kemudian berlanjut pada kelas 2 SMA karena saat kelas 1 kami dikelompokkan secara acak, pada saat naik ke kelas 2 dibuatlah satu kelas unggulan yang berisi siswa2 paling pintar secara akademis.
    guru yang mengajar kami juga pilihan.
    namun memang, individu seseorang tak melulu berisi kemampuan akademis, ada pula yang namanya kemampuan bersosialisai dan manajemen emosi.
    kelas unggulan dimaksudkan untuk memacu siswa2 yang berada di dalamnya bersaing lebih lagi karena mereka berada bersama siswa2 terpilih. dan pula untuk memacu siswa2 yang berada di luar kelas untuk mengikuti dan menciptakan prestasi yang sama atau lebih.
    jadi jangan melihat sisi negatif misalnya akan membuat yang tak masuk ke dalam kelas ini menjadi minder dll
    selama berada dalam kelas unggulan saat saya SMP maupun SMA dulu, tak ada satu siswapun yang bertindak kriminal, kenakalan di antara kami masih dalam tahap wajar.
    tidak selamanya sesuatu yang diunggulkan itu juga berdasarkan materi seperti yang dituliskan oleh kang MT
    saya berada di kelas unggulan dengan seorang teman yang ayahnya kontraktor, yang ayahnya tukang tahu, yang ayahnya seorang ustadz bahkan yang ayahnya seorang pemulung
    kami disatukan oleh sebuah kebersamaan yang berisi persaingan akademis yang sehat

    artikel yang sangat menarik sobat 🙂

  7. seharusnya kelas itu dicampur aja, yg high motivated diajak utk memotivasi yg low motivated. pembagian kelas seperti yg akang paparkan sebenarnya hanya perwujudan sikap egois gurunya saja (IMHO) 🙁

  8. Alhamdulillah saya bisa sekolah, ga tahu dulu sekolah saya ada kelas neraka atau kelas surga, yg pnting sy bs belajar dan mndapat bekal ilmu, krn kwajiban pelajar adlh belajar, wlpn anaknya pejabat/pegawai lebih sering mdpt perhatian lebih (dijadikan juara) oleh gurunya drpd sy yg anaknya petani dan penjual baso. tp terbukti ketika ebtanas nilai sy paling tinggi.

    BRAVO pendidikan Indonesia, smg semakin maju dan terjangkau ke seluruh masyarakat. trmksh guru2 sy wlpn mgkn ada yg pilih kasih.

  9. @Asop: betul kang, tidak ada dusta eh sekat di antara kita ;D
    @sucie: itulah fakta yg mungkin saja kita temui 😉
    @MT: anak2 itu berarti unggul di akademik tapi jeblok di budi pekerti. setuju bahwa kemampuan akademik hanyalah salah satu aspek doang dan tidak bijaksana jika jadi satu2nya acuan, justru yang lebih penting kecerdasan emosi yang termasuk di dalamnya ada budi pekerti.

  10. di sebuah sekolah, ada kelas yang disebut kelas unggulan. mereka adalah orang2 yang menurut wkf berotak encer, yang memudahkan guru dalam mengajar. tetapi, justru di kelas unggulan itulah saya beberapa kali menemukan kasus2 yang tidak terjadi di kelas “biasa-biasa” saja. Ada yang menusuk temannya. Ada yang mencaci-maki temannya dengan kata-kata kotor. bahkan, ada yg ngedumel setelah habis ditegur oleh gurunya. katanya, “guru-guru itu hidupnya dari duit orang tua kita! darahnya bersumber dari gaji yang dibayar oleh orang tua kita!”

    seperti itulah salah satu gambaran kelas unggulan. Memang tidak semua kelas unggulan punya kasus spt yg saya uraikan di atas… tetapi, mengklasifikasikan murid hanya dari kemampuan akademik, bukanlah cara yang bijaksana.

    nice post, kang!

  11. berarti penilai macam itu bisa saja membolehkan diri mentoleransi kebodohan atau kesalahan orang yang diberi penilaian selama si penilai suka…. aduh kasian deh gw… hehehe

  12. @zico: makanya mi instan skg ditolak di Taiwan hehehe…
    @sucie: pencitraan memang penting tetapi jika hanya itu yg menjadi dasar utama penilaian, celakalah orang2 yg dari awalnya memang tidak disenangi si penilai. 😉

  13. bagus sekali artikelnya… saya pernah merasa diri saya orang yang sangat bodoh dan ga bener karena pernah dengan sengaja ada pihak yang memasukan saya dalam kategori ga handal padahal dasar penilaiannya hanya dari penampilan luar… hikmahnya adalah akhirnya saya bisa belajar untuk memperkuat mental saya. Hanya saja sebagai pengajar/pendidik tentu saja saya sangat menyayangkan ketika ada murid2 yang mau tidak mau harus mengalami hal tersebut.
    Potensi setiap anak itu cenderung variatf, tidak bisa hanya berdasarkan nilai akademis semata apalagi yang cuma sekali penilaian. Bisa saja anak yang nilai bahasa Inggrisnya rendah misalnya, ternyata justru mahir dalam bidang komputer atau bidang public speaking… ya kan… BRAVO PAK…..

  14. PertamaX, hore,.. menurut pandangan saya sebagai pembaca setia blog http://www.wongkamfung.boogoor.com 🙂 orang yang membuat program seperti itu secara tidak lansung sudah membuat mind-set negatif secara tersirat. saya pernah mengalami hal ini waktu masih SMP, namun saat itu itu masih belum bisa menyimpulkan bahwa sistem seperti itu bagus atau tidak. tapi sistem itu di bentuk tidak secara instan tapi dinilai secara 1 tahun, penilaian dari mulai kelas satu, baru di tahun berikutnya sistem ini di realisasikan…
    saya sependapat dengan Pa Adi, bahwa sesuatu penilaian secara instan, tidak sesuai dengan penentuan memasukan ‘murid’ masuk kelas neraka, karena prestasi seesaatnya nggak memuaskan saat itu. entah apa yang mampu membuat ‘sang pengadil-yang menentukan murid-2 masuk ke kelas neraka itu mencabut kembali sistem-nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here