Sudah baca serial terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi tulisan Andrea Hirata? Banyak pujian atas tulisan orang Belitong ini. Begitu ramainya serial Laskar Pelangi disebut-sebut akhirnya saya jadi terpancing untuk tahu lebih banyak. Namun setelah membaca Maryamah Karpov, saya jadi kecewa. Apa yang saya harapkan tidak saya temukan dalam buku terakhir itu.

Awal ketergodaan saya dengan karya Andrea adalah ketika dia masuk acara Kick Andy! Memang acara tv yang satu ini manjur untuk mempengaruhi penontonnya. Buktinya bukan hanya saya saja yang terprovokasi, teman sekantor juga ada. Laskar Pelangi yang tadinya saya abaikan saat lewat di sebelahnya setiap kali ke toko buku, kemudian saya hampiri, saya lihat-lihat, meskipun tidak dibeli. Dan rupanya Kick Andy! tidak salah menampilkan penulisnya. Buku ini memang menarik. Tidak heran bila kemudian menjadi best seller dan difilmkan.

Atas kebaikan hati seorang teman yang menjaga perpustakaan di Universitas Pakuan, saya dipinjami tiga dari empat buku tetraloginya Andrea yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Semua menarik. Isinya ringan tetapi menginspirasi. Peristiwa masa kecil sampai kehidupan dewasa dari si penulis disajikan secara menarik. Oleh karena itu buku keempatnya saya tunggu-tunggu kehadirannya. Saya, apalagi penggemar berat Andrea, yakin buku terakhir itu pasti sangat memikat.

Buku terakhir itu akhirnya terbit juga setelah sekian lama ditunggu-tunggu. Dalam hitungan jam, buku yang dipanjang di toko-toko buku langsung habis. Saya yang datang di hari kedua sudah pasti tidak kebagian. Saya tidak heran hal itu terjadi. Dengan melambungnya tiga buku sebelumnya maka buku keempat ini tinggal menikmati kepopuleran yang sudah diperoleh. Itulah keuntungan dari buku serial. Sayangnya, seperti yang saya sebutkan di awal, buku keempat yang sudah terbit itu mengecewakan saya.

Memang, bahasa yang digunakan masih enteng namun menarik. Seperti tiga buku pendahulunya, kalimat-kalimat yang dibuat enak dibaca. Yang menarik adalah, Andrea ini jago dalam membuat metafora. Bisa dibilang metafora yang dia ciptakan cukup cerdas meskipun kadang agak aneh juga. Justru metafora yang agak berbeda itu dapat membuat pembacanya lebih memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis. Salah satu contoh metafora misalnya wajah kecewa, sakit hati, dan sedih yang digambarkan seperti orang yang tidak diajak naik bahteranya Nabi Nuh. Selain mempermudah, metafora-metafora itu kadang-kadang juga membuat pembaca terpingkal-pingkal.

Bicara tentang metafora, anda mungkin akan ingat Mahbub Djunaidi. Dia merupakan penulis kesukaan saya. Metafora yang dia buat tidak beda jauh dengan apa yang diciptakan Andrea sekarang. Mahbub dikenal sebagai penulis dengan metafora yang sangat kuat. Kuat dalam memberikan gambaran, selain menarik, lucu, dan aneh. Pada waktu Mahbub dulu mengisi kolom yang ada di Kompas Minggu, saya tidak pernah melewatkan untuk membacanya. Anda kenal dengan Mahbub? Bila belum, coba anda cari dan baca tulisan-tulisannya. Jika sudah maka anda akan tahu gaya tulisan Andrea sama dengan gayanya Mahbub. Bisa jadi Andrea merupakan penggemarnya.

Hal lain yang saya suka dari Maryamah Karpov adalah penamaan tokoh-tokohnya. Nama panggilan yang sekaligus dijadikan nama olok-olok dibuat berdasarkan kebiasaan, ciri fisik, jabatan dan lain-lain yang dimiliki si pemilik nama. Meskipun sebagai olok-olok, nama-nama itu dapat diterima karena sudah menjadi hal yang lumrah. Saya suka dengan penamaan tokoh-tokoh itu karena saya merasa itu dunia saya. Kelompok sepermainan saya dulu juga saling memanggil dengan nama yang bukan nama asli. Kami tidak marah mendapat panggilan itu. Justru malah senang karena merasa menjadi unik. Nama yang dibuat itu bisa diciptakan siapa saja yang kemudian disepakati meskipun tidak keluar ucapan sepakat. Saya yakin anda juga melakukan hal itu, mungkin dulu, atau mungkin malah sekarang. Dan sama seperti saya, anda pasti memanggil atau menciptakan nama panggilan itu karena didasari persahabatan dan keakraban.

Mudah-mudahan anda sekarang tidak jadi makin penasaran dan geregetan dengan saya karena saya belum menyebut-nyebut apa yang menyebabkan saya kecewa. Kecewa bagaimana sih? Sudah sejauh ini, kok saya tidak menyinggung-nyinggung kekecewaan saya terhadap Maryamah Karpov? Anda yang pecinta berat Andrea Hirata jangan-jangan malah sudah mulai muncul dendam kepada saya. Maafkan saya bila demikian.

Baiklah, saya sampaikan saja apa yang membuat saya menjadi kecewa berat dengan sekuel terakhir dari Laskar Pelangi. Buat anda mungkin kekecewaan saya ini mengada-ada. Tetapi, suer, saya memang benar-benar kecewa begitu kalimat terakhir dari Maryamah Karpov selesai saya baca. “Lho, udah, gitu aja?” Itu kalimat yang langsung muncul di kepala saya. Anda pasti tahu, judul sebuah buku (novel) merupakan wakil dari isi yang ada di dalamnya. Terus informasi apa yang dapat diperoleh tentang Maryamah Karpov dari buku yang merupakan paling tebal dari seri-seri pendahulunya? Tidak ada! Tokoh Maryamah Karpov hanya disinggung sekali dalam buku tebal itu. Itupun hanya penyebutan nama doang. Anda yang belum baca dan ingin tahu banyak tentang perempuan Maryamah Karpov, bersiaplah untuk kecewa seperti saya.

Bila setelah baca kemudian menjadi kecewa, so what? Anda mungkin bertanya seperti itu kepada saya. Ya, no what what lah (tidak apa-apa). Itu jawaban saya. Hanya disayangkan saja, tiga buku sebelumnya yang begitu memikat ditutup dengan buku pamungkas yang mengecewakan. Saya tidak tahu apakah anda merasakan seperti yang saya rasakan. Hanya saja, teman saya ada juga yang kecewa meskipun agak berbeda bentuk kekecewaanya. Dia kecewa karena ending Maryamah Karpov tidak sesuai dengan yang dia harapkan.

Apa yang saya tulis ini hanyalah ungkapan dari seorang pembaca buku. Setiap pembaca umumnya memiliki harapan dari apa yang sedang dia baca. Begitu juga dengan saya. Saya berharap mendapat jawaban atau gambaran tentang sosok Maryamah Karpov. Sayang, harapan saya tidak mewujud. Maryamah Karpov hanyalah sekedar judul. Dia tidak hidup di dalam bukunya.

Bagaimanapun juga, Andrea Hirata merupakan penulis fenomenal. Karyanya berhasil memikat banyak pembaca dan pantas mendapat acungan jempol.

3 COMMENTS

  1. Kita setali tiga uang Kang… MK lebih dominan fiksinya ketimbang 3 novel sebelumnya… Tapi tetap saja tak mengurangi kekaguman saya atas kara dia…
    Salam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here