Ini reportase. Saya buat agar anda semua tahu, di sebuah desa di Kabupaten Bogor yang masih asri dan ndeso, ada sebuah kawah yang akan menghasilkan generasi muda terdidik, terampil, dan berakhlak terpuji. Pada saat soft opening kawah itu tanggal 5 Mei 2008, saya berada di sana.

Dalam dunia wayang, ada sebuah tempat yang menjadi lokasi penggemblengan para kesatria. Mereka dididik menjadi orang-orang yang gagah berani, jujur, dan berhati mulia. Salah satu alumninya adalah Gatotkaca atau Tetuka, putra dari Bima atau Werkodara dan Arimbi atau Hidimbi, yang melegenda sebagai kesatria berotot kawat bertulang baja. Tempat tersebut bernama Kawah Candradimuka.

Saya masih ingat dengan janji saya meskipun sambil main-main untuk menulis sebuah bangunan tiga lantai milik sebuah lembaga pendidikan bernama BEC dalam blog saya yang berjudul Sukabumi. Biar tidak bingung, saya akan awali dengan menjelaskan apa itu BEC meskipun sebenarnya nama ini pernah saya singgung-singgung dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya seperti tulisan yang berjudul Bakso 2007. Tapi okelah, saya tulis lagi saja.

BEC yang kepanjangannya Bogor EduCARE merupakan lembaga pendidikan yang benar-benar diperuntukkan rakyat jelata dan miskin. Bagaimana tidak? Anda tidak perlu membayar uang kuliah, uang sks, uang gedung, uang sidang dan uang-uang lainnya kecuali kebutuhan pribadi seperti biaya transpor dari rumah ke kampus p.p., fotokopi, buku dan alat tulis lain yang anda perlukan selama kuliah, uang kost, dan makan. Pendidikan yang disediakan semua diberikan secara gratis untuk anda. Tentu saja ada tapinya, yaitu anda harus memenuhi persyaratan yang ditentukan seperti harus lulus tes seleksi, tidak boleh berhenti selama masa pendidikan (satu tahun) kecuali di-d.o., lulusan sma atau yang sederajat, dari keluarga dhuafa dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, dan aturan-aturan lain yang ditetapkan. Jika anda kaya, jangan sekali-sekali anda mencoba mendaftar di BEC. Saya jamin anda tidak akan diterima meskipun berotak encer. Anda bisa mengakses situs BEC di http://www.bogoreducare.org/ untuk informasi lainnya.

Sebagaimana disampaikan oleh pendirinya dalam soft opening, latar belakang didirikannya BEC adalah rasa keprihatinan dan kekhawatiran ketika terjadi krisis moneter tahun 1998. Pak Achmad Kalla yang saat itu (sampai sekarang) adalah Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama (BTU) merasa prihatin dengan masa depan dari anak-anak yang orangtuanya terkena phk. Bagaimana mereka akan melanjutkan sekolah bila tidak memiliki dana untuk membayar biaya pendidikan yang tidak murah. Jangankan untuk pendidikan untuk makan saja tidak cukup. Mereka harus dibantu untuk survive, terutama kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Anak-anak mereka, terutama dari keluarga miskin, harus dibekali pengetahuan dan ketrampilan. Dengan demikian mereka akan siap memasuki dunia kerja dan, yang menurut pak Achmad dianggap penting, kepercayaan diri meningkat. Untuk mewujudkan keinginan itu, dibentuklah sebuah yayasan dengan nama Yayasan Peduli Pendidikan Mandiri (YPPM). Lewat yayasan ini kemudian dibentuk sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Bogor EduCARE. Lembaga ini didirikan bukan untuk kepentingan perusahaan yang menginginkan karyawan yang terampil dan terdidik tetapi semata-mata untuk mengangkat derajat kehidupan keluarga miskin yang membutuhkan pertolongan. BEC didirikan tiada lain hanya semata-mata sebagai ladang amal jariah.

BEC yang awalnya berada di tengah kota Bogor dan menggunakan rumah kontrakan sebagai tempat beraktifitas dianggap sudah tidak memadai. Anda juga bisa membaca tentang hal itu di tulisan berjudul Siapa yang Miskin?. YPPM kemudian membeli sebidang tanah seluas 3000 m2 di Desa Sukaraja. Di atas lahan itu dibangun gedung BEC tiga lantai. Dalam sambutannya ketika soft opening, pak Imron Zubaidy selaku pimpinan proyek menyatakan pembangunan dimulai sehari setelah Idul Fitri (September 2007). Bila bangunan ini selesai nanti akan memiliki fasilitas:
– 18 ruang kelas,
– 2 laboratorium komputer,
– laboratorium bahasa,
– perpustakaan,
– ruang pengajar,
– ruang administrasi,
– rental komputer & warnet,
– mushola,
– lapangan sepakbola/futsal,
– taman.

Bangunan yang baru selesai satu lantai ini terlihat mewah meskipun sebagian material yang digunakan merupakan barang bekas atau sisa. Seperti yang dikatakan pimpinan proyek, jendela-jendela besar yang ada di lantai satu merupakan sisa bongkaran dari lantai dua PT BTU. Jalusi (ventilasi) dibuat dari sisa aluminium yang diambil dari PT Cidas Supra Metalindo, begitu juga gorong-gorong yang dipasang di depan pintu masuk BEC. Rancangan bangunannya sendiri tidak dibuat khusus melainkan diilhami desain gedung sekolah dasar yang ada di Jatibening demi kepraktisan dan agar cepat. Walaupun demikian bangunan yang direncanakan selesai September 2008 dan diperkirakan menghabiskan dana sekitar 6 milyar itu terlihat bagus dan kokoh.

Mendengar penjelasan dari pimpinan proyek, tahapan proses pembangunnya benar-benar mengesankan dan pantas diacungi jempol. Merapikan bangunan mushola milik penduduk desa yang pas ada di depan proyek dan melengkapinya dengan kamar kecil serta tempat wudlu lengkap dengan pompa airnya sebelum pengerjaan proyek merupakan strategi jitu untuk mendapatkan kesan baik dan penerimaan dari masyarakat. Adanya orang lokal, Sukatma atau biasa dipanggil pak Engkat, sebagai juru bicara proyek ketika menghadapi penduduk setempat juga bisa melancarkan komunikasi. Ditambah lagi pak Dani yang juga penduduk desa itu yang rumahnya di sebelah proyek ikut dilibatkan dalam pembuatan taman diharapkan makin dapat meningkatkan kerjasama masyarakat.

Dengan berdirinya kampus BEC otomatis membuka peluang menambah penghasilan bagi masyarakat. Jumlah mahasiswa yang ratusan merupakan pasar potensial untuk tempat kost, warung makan, jasa fotokopi, dan bisnis sektor riil lainnya. Kepala desa H. Hasan Basri yang turut diundang dalam soft opening juga berharap dengan adanya kampus baru ini akan bisa menaikkan taraf hidup masyarakat yang ada di sekitar kampus. Keberadaan BEC juga melengkapi tingkat pendidikan yang sekarang sudah ada di Desa Sukaraja. Dengan demikian, di wilayah Sukaraja sekarang sudah tersedia sarana pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai pendidikan tinggi.

Pak Achmad Kalla selaku Ketua YPPM berkeinginan gedung BEC yang masih dalam proses penyelesaian ini nanti bukan hanya mewah dan megah tetapi juga dapat menjadi lembaga pendidikan terbaik di Bogor dengan dilengkapi sarana prasarana super canggih dan modern. Dengan adanya keinginan dari ketua sekaligus pemilik seperti itu, sudah seharusnya orang-orang pelaksana di lapangan juga mendukung itikad yang mulia itu. Jangan sampai memberi kesan justru menghalang-halangi dengan menyampaikan alasan dan argumen yang jelas terdengar dibuat-buat.

Bila bangunan itu dibuat semewah mungkin boleh-boleh saja. Tetapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana perawatannya. Bangsa kita ini kan sudah terkenal dengan kepintarannya membuat bangunan tetapi juga sekaligus kebodohannya dalam merawat setelah bangunan itu jadi. Bisa dipastikan akan muncul benturan budaya dalam perawatannya nanti karena sikap mental yang belum siap. Contoh gampang saja, masih sering orang membuang tisu di kloset meskipun ada tempat sampah di sebelahnya. Di bibir kloset duduk, terdapat bekas telapak sepatu. Ini kan mengherankan. Masak monyet pakai sepatu?

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here