Ah, ternyata sudah datang lagi hari bersejarah bagi perempuan Indonesia. Hari ini, Hari Kartini. Apakah semua perempuan Indonesia kenal dengan perempuan yang satu ini? Kalau sekedar kenal, setidaknya namanya, saya yakin semua tahu, bahkan perempuan-perempuan sekarang. Kan mereka belajar sejarah di sekolah?

Di jaman seperti sekarang ini, perempuan yang mengenal Kartini sebatas nama, tanggal lahir, judul buku dari kumpulan suratnya untuk sahabatnya di Eropa mudah ditemukan. Bagaimana dengan semangat yang dibawa R.A. Kartini? Bagi anak sekarang, Kartini barangkali hanyalah sebuah cerita sejarah yang akan menjadi penting bila berkaitan dengan ulangan di sekolah. Kepentingannya  akan sirna bila dikaitkan dengan gaya hidup sekarang. Mana ada Kartini mengenal Facebook? Mana mungkin Kartini bisa Twitteran? Jaman dulu kan jamannya kuda gigit besi? Kartini mah wanita kuno, produk masa feodal, dan jelas ketinggalan jaman bila muncul sekarang. Benarkah?

Berbicara atribut, aturan, dan masa memang benar bila Kartini dikatakan sebagai produk jadul. Namun bila kita melihat semangat dan pemikiran yang dirintisnya, tidak ada yang namanya ketinggalan jaman. Justru bila kita melihat perkembangan sekarang, apa yang dulu dirintis oleh putri Jepara itu sekarang sudah dijalankan dan dinikmati perempuan generasi masa kini. Dulu mana ada perempuan yang bisa sekolah tinggi kecuali anak priyayi? Perempuan biasa saat itu bisanya hanyalah menjalankan tiga ‘ur’: kasur, dapur, sumur. Perempuan hanyalah menjadi teman di kasur bagi suaminya. Dia bertugas di dapur untuk memasak untuk keluarganya. Setelah yang dua itu, perempuan juga hanya boleh mencuci dan menjalankan pekerjaan lainnya seperti cuci piring yang dilakukan di sumur.

Cling! Kita sudah tidak lagi berada di abad 19 saat Kartini hidup atau sejak beliau dilahirkan 21 April 1879 yang lalu. Emansipasi yang menjadi labelnya Kartini sudah diterapkan di mana-mana. Kita bisa melihat perempuan di segala bidang pekerjaan. Kasur, dapur, dan sumur yang dulu merupakan judul, topik, dan tema wajib yang harus dipahami dan dijalankan kaum perempuan sekarang sudah tidak sakral lagi. Ada kalanya perempuan tidak harus menjalankan salah satu, salah dua, atau ketiga-tiganya. Bahkan tidak aneh bila perempuan tidak bisa masak. Masak, emang penting? Kan banyak rumah makan? Nyuci? Buat apa punya mesin cuci? Sudahlah, urusan dapur dan sumur serahkan saja sama si bibi. Bahkan bila perlu urusan kasur juga. Amit-amit!

Buat kaum perempuan yang kebetulan membaca tulisan ini. Kasur, dapur, dan sumur memang bukan ajaran R.A. Kartini. Namun bukan berarti dengan menjalankan kegiatan di tiga tempat itu kemudian menodai semangat yang diusung Kartini. Semangat emansipasi Kartini sampai sekarangpun masih tetap relevan jika anda, kaum perempuan, mau menjalankan kegiatan yang terkait dengan kasur, dapur, dan sumur. Kecuali urusan kasur, urusan dapur dan sumur bolehlah anda wakilkan ke bibi (pembantu rumah tangga) anda.  Namun saya jamin, suami dan anak-anak anda akan menikmati cinta anda seutuhnya jika anda tetap mau menyempatkan diri meskipun tidak setiap hari turun ke dapur untuk meracik masakan berbumbu kasih-sayang anda bagi mereka. Tidak usah khawatir tentang rasa dari masakan berbumbu cinta anda itu. Bagi seorang suami terutama anak, tidak ada masakan yang tidak enak dari hasil kreasi tangan ibunya. Semua masakan ibu pasti enak. Percayalah!

Selamat Hari Kartini perempuan Indonesia.

Sumber gambar: di sini

12 COMMENTS

  1. @novi: :mrgreen:
    @Agung Sudomo: sama 😉
    @HASTu W.: termasuk Ny. Week yo
    @melly: bagaimanapun keluarga lebih penting dari sekedar karir misalnya 😉
    @mamatutik: itulah bentuk sayang suami 🙂
    @echa: :mrgreen:

  2. Kalo di restoran sih, masakan ibu yg enak tuh ibu2 jawa, spt Mbok Berek, Mbok Sabar, Ny. Suharti, Juminten, Yu Jum, dll…. Kalo restoran padang, cina, dll, mana ada pake nama Ibu to ?! Jarang banget….. Ya karena masakan para pembantu or karyawannya….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here